<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>oase vinsensiana</title>
	<atom:link href="http://vinsensius.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vinsensius.wordpress.com</link>
	<description>air sejuk spiritualitas santo vinsensius</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Feb 2011 14:13:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='vinsensius.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>oase vinsensiana</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://vinsensius.wordpress.com/osd.xml" title="oase vinsensiana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://vinsensius.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>DARI “MISI” KE “KONGREGASI MISI”</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/06/11/dari-%e2%80%9cmisi%e2%80%9d-ke-%e2%80%9ckongregasi-misi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/06/11/dari-%e2%80%9cmisi%e2%80%9d-ke-%e2%80%9ckongregasi-misi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 03:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[studia vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Luigi Mezzadri, CM§ Sejak tahun 1662, Vinsensius diakui sebagai pembimbing rohani yang baik. Fransiskus de Sales mengangkatnya menjadi pemimpin biara Visitasi di Paris, salah satu pusat penting dalam pembaruan agama Katolik di Perancis. Tahun 1623, Vinsensius memperoleh gelar lisensiat untuk Hukum Kanonik. Untuk memperoleh gelar-gelar seperti ini tidak perlu mengikuti kulah-kuliah dan menempuh ujian. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=28&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN"> Oleh: Luigi Mezzadri, CM</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span></strong></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sejak tahun 1662, Vinsensius diakui sebagai pembimbing rohani yang baik. Fransiskus de Sales mengangkatnya menjadi pemimpin biara Visitasi di Paris, salah satu pusat penting dalam pembaruan agama Katolik di Perancis.</span><span id="more-28"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="IN">Tahun 1623, Vinsensius memperoleh gelar lisensiat untuk Hukum Kanonik. Untuk memperoleh gelar-gelar seperti ini tidak perlu mengikuti kulah-kuliah dan menempuh ujian. Sering kali cukup jika orang membuat suatu karangan yang mengembangkan suatu pokok berhubungan dengan bahan yang ditentukan. Gelar merupakan suatu pengakuan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai keahlian, kompetensi dalam bidangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Sekarang Vinsensius masih memiliki kekurangan dalam dua hal yaitu: Teman-teman dan apa yang perlu untuk menarik mereka. Ia mengakui hal ini dalam sepucuk surat kepada Bernard Codaing di Roma:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 20.6pt 0.0001pt 18.7pt;"><span lang="IN">“<em>Roh Allah selalu berjalan dengan lembut dan rendah hati. Apakah Anda masih ingat bahwa Anda dan saya dipengaruhi oleh macam-macam dorongan kuat dari nafsu alamiah kita. Pernah saya berkata kepada Anda bahwa ketika saya baru mulai memikirkan rencana mendirikan Kongregasi Misi, hatiku terus-menerus sibuk dengan pikiran itu. Karenanya saya curiga kalau-kalau rencana itu berasal dari nafsu atau dari roh jahat</em>”.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kemudian ia mengadakan suatu retret di Soissons (1621); dan retret ini membantu dia untuk mengubah suasana hatinya dan untuk lebih mengontrol dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ide tantang misi di daerah pedesaan tetap ada dalam pikirannya. <em>Mission populaire</em> (misi umat/rakyat) adalah salah satu metode khas dari reformasi Katolik untuk penjiwaan kembali dan pembaruan keagamaan. Misi-misi ini dikembangkan dalam bentuk kotbah dari satu tempat ke tempat lain, terutama dalam Serikat Yesus dan Ordo Kapusin. Tahun 1578, St. Karolus Boromeus mendirikan Serikat Oblat dari St. Ambrosius dengan tujuan untuk menyebarluaskan instruksi katekis dengan berpindah dari paroki ke paroki. Kongregasi pengajaran Kristiani atau <em>Doctrinaires</em>, dari Cesar de Bus, juga mempunyai tujuan untuk mengajar katekismus secara sistematis dalam bentuk dialog. “<em>Mereka bukannya berkotbah, melainkan berdiskusi dengan orang-orang bidaah</em>”, demikian bunyi kecaman terhadap mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Pada awal Abad Keemasan, Perancis dapat dianggap sebagai suatu <em>pays de mission, </em>tanah misi. Hal ini lebih mengesankan lagi kalau kita memikirkan kontras yang ada antara keadaan ini dengan rencana reformasi Katolik untuk menciptakan kembali suatu suasana penuh semangat supaya iman dapat meresapi segalanya. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="IN"><span> </span>Reformasi itu memakai tiga senjata: Kekuasaan, ketakutan, dan pastoral. Di Perancis, Edikt dari Nantes telah melemahkan kekuasaan itu, sekurang-kurangnya sampai edikt itu masih berlaku. Orang sering kali mempergunakan ketakutan dalam kotbah-kotbah dengan menggambarkan hukuman-hukuman, dan bukan menegaskan cinta kasih. Pastoral dilaksanakan melalui sinode-sinode, seminar-seminar, kunjungan pastoral dan misi-misi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Pada saat Vinsensius mulai, dia tidak perlu menemukan sesuatu yang baru. Cukup untuk merangsang energi-energi yang sudah ada dan mengerjakannya. Di Perancis para Yesuit melewati suatu masa sulit dan telah memilih karya dalam bentuk kolese-kolese. Namun mereka telah mendirikan pusat-pusat, dari mana aksi penginjilan dapat dikembangkan seperti di Poitou (1570), di Bérñ (1606). Dalam karya misi di daerah Chablais (1594), Fransiskus de Sales telah dibantu oleh para imam Kapusin. Mereka lebih dahulu sudah melakukkan misi di daerah Poitou (1618) dan di Angoumois Aunis-Saintonge (1602-1621). Tahun 1624 mereka mengadakan suatu misi di kapal-kapal yang digerakan pendayung (galères). Pada permulaan abad ke-17 juga masih ada para Barnabit yang mengadakan misi di Bearn (1608) dan para Recollet di Saintonge (1610). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sejak beberapa waktu, Madame de Gondi merencanakan memasukan dalam surat wasiatnya suatu ketentuan mengenai misi yang harus dilakukan setiap lima tahun di tanah miliknya. Tetapi, baik para Yesuit maupun Berulle dan Bourdoise menolak melakukannya. Nyonya de Gondi kemudian menawarkanya kepada Vinsensius yang sudah biasa melakukan misi, dengan bantuan beberapa imam secara insidental. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tetapi apakah hal ini menjadi kehendak Allah? Apakah dia mampu melaksanakan karya ini? Vinsensius ketakutan. Ia takut akan wanita, yang menurut pandangan Ambroise Paré, baru mendapat jiwa dari Allah pada hari kelima puluh. Dalam suasana hati yang demikian, dia mengadakan suatu retret di Biara Valprofonde (Chartreuse de Valprofonde) di daerah Yonne. Ia bertemnu dengan seorang rahib yang, dalam kesendiriannya, telah memperoleh kebijaksanaan dan realisme mendalam. Rahib ini memberi suatu contoh: Waktu mempermandikan wanita dengan cara immersio (pemasukan dalam air, seperti dulu menjadi biasa) maka seorang uskup Gereja kuno mengalami godaan. Ia memohon kepada Allah untuk membebaskan dirinya dari godaan itu. Karena dia merasa tidak didengarkan Allah, dia mengundurkan diri ke padang gurun. Di sana Allah memperlihatkan kepadanya tiga mahkota yang nilainya tidak sama dan berkata kepada dia bahwa dia berhak atas yang paling tidak bernilai, sebab ia kurang percaya akan Allah. Perumpamaan ini menurut pengakuan Vinsensius “<em>menghilangkan godaan serupa</em>”<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang dialaminya saat akan<span> </span>melaksanakan karya ini. Dan untuk menyemangati salah seorang rekannya, Vinsensius mengatakan bahwa orang pada permulaan merasa sangat takut bila menghadapi pelayanan pastoral. Ia tetap merasakan pertentangan batiniah. Karangan-karangan mengenai riwayat orang kudus mengembangkan pandangan bahwa Tuhan memberi ilham langsung bila menghendaki pendirian suatu komunitas baru. Ada cerita bahwa St. Pacomius, tokoh yang mengorganisasikan hidup komunitas para rahib di Mesir, pernah mendengar suatu suara, sedangkan Jean de Matha, pendiri Ordo Trinitaires, mendapat penglihatan tentang dua budak yang terantai. Kepada St. Petrus Nolascus, St. Perawan Maria menampakan diri untuk memerintahkannya mendirikan Ordo Mercedari. Dan, suatu perarakan yang terdiri dari rahib-rahib berpakaian putih, malaikat-malaikat dan perawan muda menentukan didirikannya Ordo Premonstratens dan Ordo Ursulin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Pada Vinsensius tidak terjadi hal serupa; tidak ada penglihatan, tidak ada ajakan dalam hati; hanya ada suatu himbauan, perlu memberi pembinaan rohani, memenuhi kebutuhan rohani di paroki-paroki dari daerah pedesaan, serta memenuhi kelaparan akan Sabda Allah. Ia mencari nasihat dari Duval. Ahli teologi yang bijaksana ini – menurut suatu teks yang diterbitkan oleh José María Ibáñes – mengutip satu teks dari Vulgata (terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Latin): “<em>Seorang abdi yang mengetahui kehendak tuannya dan tidak bertindak sesuai dengan kehendak itu, akan menerima banyak pukulan</em>” (Luk 12:47). Jadi, suatu situasi sudah merupakan suatu panggilan dan tidak perlu dikonfirmasikan lagi. Berdasarkan ini, Vinsensius yakin bahwa lembaga-lembaga yang didirikannya berasal dari Allah meskipun ia tidak mendapat ilham langsung dari Allah. Karena itu dia sering mengatakan: “<em>Siapa yang berani berkata bahwa karya misi kita bersumber pada manusia saja</em>”?<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Langkah pertama adalah pengangkatannya sebagai superior kolese Bons-Enfants, suatu gedung asrama yang sudah bobrok untuk palajar-pelajar. Kemudian melalui akte notaris, keluarga de Gondi dan Vinsensius menandatangani suatu kontrak. Philippe Emmanuel de Gondi dan isterinya mengikat diri untuk memberikan kepada Vinsensius uang sebesar empat puluh lima ribu lire, yang bunganya harus mencukupi biaya hidup enam imam yang mengikat diri untuk mengadakan misi di daerah milik keluarga de Gondi. Tetapi ketentuan seperti ini bertentangan dengan hakikat kelompok imam CM yang sedang dibentuk, sebab mereka dimaksudkan untuk hidup bersama, dalam komunitas, dengan seorang pemimpin yang terpilih, dengan memberi misi secara gratis, hanya di pedalaman atau di kota yang tidak memiliki uskup. Lama-kelamaan, kehadiran superior komunitas akan dapat mempunyai akibat negatif. Tetapi Marguerite de Gondi segera dipanggil Tuhan. Seakan-akan “Sang Pendiri” mengundurkan diri dengan lembut saat Kongregasi Misi memulai karya-karyanya dengan gencar. Karena Philippe Emmanuel memberi kebebasan secara penuh kepada Vinsensius, Vinsensius mulai menduduki kolese des Bons-Enfants itu pada akhir musim gugur 1625. Ia berada bersama dengan Antoine Portail, murid setia sejak di Clichy, dan seorang imam lain yang menerima lima puluh ecus setiap tahun, yaitu separuh dari honororium seorang pastor paroki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Aktivitas-aktivitas misi awali dilakukan dengan banyak improvisasi. “<em>Kami pergi bertiga dan bermisi dari desa ke desa. Waktu berangkat kami meninggalkan kunci rumah pada seorang tetangga, atau kami meminta mereka menginap di rumah kami pada waktu malam</em>”.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Isi kotbah waktu itu masih sangat sederhana, hanya satu kotbah tentang hormat akan Allah, dan kotbah ini diulang-ulang, diperpanjang dan dibawakan dengan berbagai cara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Meskipun usaha ini sangat berani, namun inisiatif Vinsensius tidak memberi jaminan cukup, sebab terlalu terbatas pada tempat tertentu. Kontrak pendirian itu mengikatnya pada daerah milik de Gondi. Hidup bersama menelanjangi kepribadian masing-masing anggota tanpa ampun. Hidup di perjalanan pun masih sangat melelahkan. Jalan-jalan sangat buruk. Biasanya jalan-jalan hanya dipelihara hanya sampai dua atau tiga mil dari kota. Selebihnya merupakan jalan tanah yang diperkeras, tanpa selokan-selokan, tanpa jembatan. Dalam musim gugur jalan-jalan tidak dapat dilalui. Bahkan, kuda pun hampir tidak dapat maju di jalan-jalan seperti itu. Losmen-losmen kurang menarik. Pada permulaan abad ke-17 losmen-losmen tidak dianggap berbahaya. Tetapi, losmen-losmen itu tidak memberi banyak hal yang menyenangkan. Paling sering hanya ada satu ruang dengan pemanasan pada musim dingin. Dalam ruang ini orang dapat memesan anggur dan bir. Jika hendak makan, orang dapat pesan sedikit roti dan dadar. Waktu malam ruang ini diubah menjadi kamar tidur. Tempat tidur dipasang lalu orang dapat berbaring, atau langsung berbaring di atas jerami dekat perapian. Orang dapat juga tidur di tempat penyimpanan jerami milik rumah-rumah petani yang berdekatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tetapi itu hanya persiapan untuk pekerjaan yang sesungguhya, yaitu kegiatan pastoral selama misi berlangsung. Pekerjaan yang paling berat bukanlah berkotbah melainkan melayani pengakuan dosa. Namun pengakuan dosa merupakan pokok utama dari misi, karena misi harus dimahkotai dengan pengakuan semua dosa yang telah dilakukan selama hidup sampai saat ini. Dalam laporan-laporan tentang misi kita dapat membaca bagaimana umat antre mengaku dosa sampai malam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Meskipun ada banyak hal yang memberatkan, cara hidup Vinsensius ini menarik. Dalam waktu singkat ia menemukan teman-teman. Ada imam-imam yang berjalan dari propinsi ke propinsi untuk memberi benefisi. Vinsensius pernah menjadi seorang imam yang demikian. Orang menyebut cara hidup ini “<em>vicarier</em>”. Para imam CM pertama sama-sekali bukanlah pencari benefisi yang frustrasi: Portail pernah belajar di Sorbonne; François du Coudray mengetahui cukup baik bahasa Ibrani untuk menerjemahkan Kitab Suci dari teks asli ke bahasa Perancis; Jean de la Salle, “seorang imam CM agung” dianggap oleh uskup dari Beauvais sebagai seorang yang sangat pandai. Demikianlah orang-orang pertama bergabung dengan Vinsensius untuk memperkuat serikat imam CM tersebut pada tanggal 4 September 1626.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Tahun-tahun berikut pertumbuhannya perlahan dan pekerjaannya semakin banyak. Sampai tahun 1631 para imam CM hanya berjumlah tujuh orang saja tetapi mereka mengadakan tidak kurang dari seratus empat puluh misi. Dalam tahun inilah jumlah mereka berlipat ganda. Para imam CM baru adalah orang-orang bermotivasi tinggi. Asal sosial dari para anggota serikat mencerminkan asal sosial imam dalam tahun-tahun 1600-an. Mereka bukan orang miskin, melainkan berasal dari golongan menengah atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Di Paris, kelompok imam CM ini mempunyai nama baik. Tahun 1628, dua tahun setelah kontrak pendirian disetujui, Uskup Agung Gondi memberi ijin untuk bergerak dengan leluasa dalam keuskupannya. Persetujuan ini tidak seperti semacam persetujuan percobaan yang sekarang diberikan uskup kepada komunitas yang sedang mencari bentuk: Pada jaman dulu, hal seperti itu tidak mungkin. Parlemen juga merestui dokumen raja yang mengakui kongregsi baru itu sebagi badan hukum. Namun dapat timbul kekawatiran, jangan-jangan romo-romo CM ini akan bertingkah laku seperti para religius pada jaman itu yang – karena previlese mereka – mereka menuntut kebebasan untuk berkotbah di mana-mana, dengan bahaya menyaingi kegiatan paroki. Yang jelas dengan demikian para religius itu dapat menghimpun banyak dana. Para teolog dari aliran Gallikan tidak rela membiarkan satu ordo baru berdiri, karena setiap ordo dengan hak-hak istimewahnya akan semakin melemahkan kekuasaan para uskup, sementara kekuasaan Takhta Suci di Roma akan semakin leluasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Vinsensius menghadap Takhta Suci di Roma. Tahun 1622, Paus Urbanus VIII baru saja mendirikan suatu kongregsi baru, yaitu Propaganda Fide, yang mempunyai kuasa sangat luas, baik di daerah-daerah yang belum mengenal Injil maupun di daerah-daerah yang banyak dipengaruhi bidaah. Tahun 1625, kongregasi ini telah memulai suatu kerja sama yang baik dengan para imam Kapusin yang melakukan misi di daerah Cevennes dan Dauphine. Vinsensius dinasihati untuk menghadap Roma. Mungkin nasihat ini berasal dari Saint-Cyran yang pasti membantunya menulis surat-surat rekomendasi kepada beberapa kardinal, dan menterjemahkan peraturan-peraturan Kongregasi Misi dalam bahasa Latin serta menawarkan diri mengutus seorang keponakannya, yaitu Bernard d’Arguibel, agar mengadakan perundingan langsung dengan Takhta Suci. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tahun 1627 Vinsensius menghadap Kongregasi Propaganda Fide untuk pertama kalinya; ia meminta dua hal, yaitu berkat, artinya semacam persetujuan yang masih<span> </span>bersifat umum, dan beberapa fasilitas yaitu fasilitas yang dulu diberikan kepada Kapusin untuk karya-karya misi mereka. Setelah diadakan penyelidikan oleh Nuntius, permohonan tersebut diterima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Tahun berikutnya Vinsensius kembali mengajukan permohonan. Sekarang permohonannya lebih besar dan mencakup pengakuan hak-hak untuk dirinya sendiri, seperti yang diberikan kepada pendiri serikat, dan juga hak untuk tidak terikat kepada uskup, kecuali dalam hal-hal yang menyangkut karya misi. Akan tetapi kedua pemohonan tersebut ditolak. Apa yang dikehendaki pemimpin Bon-Enfants bertentangan dengan peraturan-peraturan fungsional, yang ditentukan oleh pihak Roma. Di daerah-daerah misi Propaganda Fide mangalami perlawanan dari ordo-ordo religius yang sudah brakar kuat di daerah-daerah itu dan tidak rela mengakui kuasa Kongregasi Propaganda Fide. Jika permohonan Vinsensius dikabulkan, itu berarti suatu ordo baru lahir, artinya satu musuh baru. Dalam hal ini Propaganda Fide mengerti dengan benar arah Vinsensius. Seandainya karya <em>misi</em> yang baru itu tidak berbeda dengan satu kelompok kerja saja yang terdiri atas imam-imam diosesan, penerimaan permohonan Vinsensius berarti suatu kontradiksi internal. Propaganda Fide sama-sekali tidak bermaksud mengurangi kuasa yurisdiksi para uskup. Lagi pula, strategi misioner menuntut supaya para imam diosesan berada di bawah uskup-uskup itu. Permohonan pertama Vinsensius diterima dengan baik, sejauh dapat dimengerti bahwa sekelompok imam diosesan hendak menerima kekuasaan Propaganda Fide. Akan tetapi, kedua permohonan yang diajukan kemudian hari mempunyai maksud yang lain sama-sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Sebagai orang yang jeli melihat kesempatan yang baik, Vinsensius berjalan seputar rintangan tersebut. Timbullah pandangan bahwa Vinsensius bergerak untuk mendirikan ordo religius. Konsekuen dengan pandangan itu, Vinsensius tidak menghadap lagi Propaganda Fide, melainkan kongregasi untuk para uskup dan para religius. Ia mengutus ke Roma seorang imam CM cakap; pesannya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 18.7pt;"><span lang="IN">“<em>Romo harus membuat mereka mengerti bahwa orang-orang miskin mengalami kebinasaan abadi karena mereka tidak mengetahui hal-hal yang perlu untuk memperoleh keselamatan dan tidak mengetahui bagaimana cara mengaku dosa. Bahwa seandainya Paus mengetahui kegentingan situasi, dia tidak akan dapat beristirahat sebelum melakukan segala apa yang mungkin untuk menyelesaikan masalah tersebut</em>”. <a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Komunitas bagi Vinsensius, bukanlah suatu jalan pintas atau suatu pelarian. Ia menghendaki kebebasan bertindak untuk kelompok kerasulannya karena ia melihat kesengsaraan orang-orang terbuang dalam masyarakat. Kita dapat masuk ke dalam suasana hatinya melalui sebuah percakapan dengan para romo CM:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:20.6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.7pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 18.7pt;"><span lang="IN">“<em>Saya ingat (apakah perlu saya berkata demikian?) bahwa dahulu, ketika saya kembali dari bermisi dan menuju ke Paris, pintu gerbang kota rasanya mau jatuh atas diri saya dan menghimpit diri saya; dan jarang sekali saya kembali dari bermisi tanpa berpikir demikian. Sebabnya ialah karena hati saya berkata, ‘kau pergi ke Paris, sedangkan desa-desa lain mengharapkan hal serupa darimu, yaitu hal-hal yang baru kau lakukan di desa ini dan desa itu! Seandainya kau tidak datang di desa-desa itu, mungkin sekali orang-orang ini – seandainya meninggal dunia dalam keadaan seperti kau temukan mereka ketika kau datang – mati terkutuk dan masuk neraka.’ Ia mengakhiri percakapannya demikian, ‘kalau mereka meninggal dalam keadaan dosa berat, kaulah salah satu penyebab kebinasaan mereka; dan kau harus takut akan Allah yang akan menuntut tanggung jawabmu’</em>”.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Ketika Vinsensius masih berunding dengan Takhta Suci untuk memperoleh persetujuan bagi kongregasinya, ternyata rencana semula sudah tidak sesuai dengan perkembangan. Tahun 1628, dalam percakapan dengan Augustin Poiter, Uskup Beauvais, telah disepakati satu gagasan untuk meningkatkan pembinaan para imam. Uskup ini mengajukan satu cara sederhana untuk memperbaiki mutu para imamnya, yaitu mengadakan latihan-latihan rohani bagi semua calon tahbisan di keuskupannya. Di samping pengalaman doa, mereka dapat memperoleh pengarahan mengenai kewajiban-kewajiban status mereka dan tugas-tugas pelayanan mereka. Vinsensius menjadi pelaksana proyek ini. Ia menentukan suatu program dan mencari imam-imam yang dapat bersama dengannya memulai karya pembinaan dan pendidikan para calon tahbisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Tanpa disadari, ia menawarkan kepada Gereja Perancis suatu saran praktis dan efektif untuk meningkatkan mutu para imam. Bahwa para imam itu membutuhkan pembaruan kembali, sudah jelas sekali dan semua sumber informasi pada jaman itu sepakat dalam hal tersebut. Tetapi perlu kita hindari kecenderungan membesar-besarkan keburukan para imam awal abad ke-17, supaya kebaikan para imam berikutnya lebih nampak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Sebelum masa ini pun, sudah mungkinlah menemukan imam-imam yang layak untuk tugas mereka. Memang di antara para imam terdapat bermacam-macam kekurangan yang dapat dikelompokan ke dalam dua golongan, kekurangan dalam tingkah laku moral dan disiplin; dan kekurangan yang berkaitan dengan kekurangpersiapan untuk menerima sakramen imamat. Konsili Trente sudah berusaha memperbaiki kedua kekurangan tersebut. Berkat dekrit-dekrit disiplin yang mewajibkan para uskup mengadakan kunjungan pastoral dan mempersiapkan norma-norma yang tepat untuk para imam, maka menjadi mungkinlah untuk membatasi dan mengatasi kekurangan-kekurangan pertama (anggur, wanita, perdagangan, perburuan). Kekurangan-kekurangan kedua dapat dikoreksi dengan mendirikan seminari-seminari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Di Perancis seminari-seminari menengah sudah dirintis segera setelah Konsili. Waktu Konsili masih berjalan, Kardinal de Lorraine sudah mengumumkan bahwa pembinaan kembali harus dimulai di rumah Allah sendiri. Antara tahun 1567 dan 1600, empat belas seminari sudah didirikan. Antara permulaan abad ke-17 dan tahun1620 jumlah itu sudah bertambah dengan empat seminari lagi. Tetapi pada umumnya usaha ini gagal. Kebanyakan seminari ditutup sesudah berdiri beberapa tahun. Pada tahun 1644 masih ada seminari di Reims, Bordeaux dan Rouen, tetapi hasilnya masih sangat sedikit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Pertemuan di Beauvais membuahkan hasil yang tidak terduga; secara berangsur-angsur retret untuk para calon tahbisan makin meluas. Dengan demikian lahirlah seminari Vinsensian, bukan sebagai perkembangan dari gaya kolese, melainkan dengan sifat khasnya, ialah pembinaan pastoral praktis. Pilihan ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan sementara saja. Ternyata surat keputusan Paus yang menyetujui Kongregasi Misi berdiri<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> mengakui bahwa lembaga baru ini mempunyai tiga tujuan, yaitu: <em>Pertama</em>, membantu untuk memperoleh keselamatan untuk para anggotanya dan bagi para penduduk desa; <em>kedua</em>, menghormati misteri Tritunggal dan Inkarnasi Yesus Kristus serta menghayati devosi khusus terhadap Santa Perawan Maria; <em>ketiga</em>, membina para calon tahbisan. Ketiga tujuan tersebut merupakan tiga gelang dari satu mata rantai yang sama. Yang satu mengandaikan dua yang lain. Inilah tugas panggilan yang diakui Gereja sebagai kharisma Vinsensian, yang menghubungkan secara erat komunitas ini dengan para “imam sekular”. Dalam kenyataanya, jika terpisah dari yang lain, kegiatan misi umat dapat berakibat bahwa para anggota kongregasi dapat disamakan dengan para religius lain yang melakukan misi untuk umat. Pengakuan terhadap panggilan mereka sebagai pembina para calon tahbisan menuntut dari mereka suatu kepekaan khusus terhadap masalah imam sekular dan satu sikap yang mendorong para imam CM untuk berdiri sepihak dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Semuanya ini dihayati dengan maksud “<em>menghormati</em>” misteri Tritunggal dan Inkarnasi. <em>Menghormati</em> artinya, berperan serta dan – menurut Vinsensius – membiarkan diri dibawa kepada lingkungan kebenaran tertentu yang merupakan kebenaran fundamental bagi penyelamatan. Jadi, komunitas diakui sebagai tempat perwujudan kepenuhan hidup dan persekutuan Tritunggal, serta sebagai perpanjangan misteri Putra Allah yang menjelma menjadi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Gagasan yang dikembangkan di Beauvais itu menarik perhatian juga Uskup Paris, Jean François de Gondi. Semua calon tahbisan dari keuskupannya diwajibkan untuk menempuh ujian tentang kelayakan mereka dan untuk menerima pelajaran dan pembinaan. Dan, ini semua diadakan tanpa biaya sedikit pun dari pihak calon tahbisan. Pendidikan gratis ini merupakan hal penting. Sebelumnya, pengeluaran yang diperlukan<span> </span>untuk tahbisan dibebankan kepada para calon tahbisan dan keluarganya. Hal ini mengandung resiko peningkatan jumlah “<em>vicariants</em>”, yang memburu keuntungan dengan merugikan dan mengabaikan reksa pastoral. Retret bagi para calon tahbisan, pertama-tama dan kemudian seminari merupakan suatu saringan dari pihak gereja untuk mencegah orang-orang yang tidak layak maju sampai imamat dan untuk mempersiapkan orang-orang yang sangggup di bina. Sudah tepat bila tuntutan-tuntutan baru itu tidak diwajibkan dengan beban keuangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Dengan demikian munculah masalah keuangan; masalah ini menyebabkan kegagalan seminari-seminari pertama di Perancis. Untuk memecahkan masalah ini ada suatu sarana yang sudah terbukti ampuh, yaitu menggabungkan suatu benefisi (tanah garapan yang penghasilannya dimanfaatkan untuk mendukung karya Gereja) pada karya itu; hasil dari benefisi itu harus cukup untuk membiayai para peserta retret.<span> </span>Vinsensius tidak perlu terlalu repot untuk mencari sarana yang demikian, karena Penyelenggaraan Ilahi sendirilah yang membuka jalan baginya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Para kanonik regular dari Saint-Victor mempunyai sebuah biara di Paris, di luar pintu gerbang Saint-Denis. Nama biara itu sendiri, Saint-Lazare, menunjukan tujuan semula dari gedung itu, di mana dalam abad pertengahan gedung itu menjadi satu rumah untuk para penderita kusta. Sesudah beraneka ragam peristiwa, gedung ini diberikan kepada para kanonik regular, yang pada permulaan abad ke-17 mengalami kesulitan kelembagaan dan kedisiplinan. Tahun 1622, Kardinal François de Rochefoucould, dibantu oleh Charles Faure, mendapat tugas memperbaiki para kanonik Santo Agustinus. Usaha yang penuh semangat dari pihak Kardinal mendapat perlawanan besar dari para kanonik Saint-Victor. Tahun 1625 mereka membubarkan diri dengan masuk ke dalam <em>Kongregasi Perancis</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Seperti pada semua komunitas yang mengalami suatu krisis, setiap orang berjalan sendiri-sendiri. Doa dan koor tidak dilakukan dengan penuh semangat; dan hidup komunitas tidak lagi hangat. Priornya, yaitu Adrien Le Bon, berusaha memperbaiki situasi buruk ini. Tetapi, dia tidak berbuat sesuatu pun dengan para kanoniknya. Lalu ia mendapat pikiran untuk menyerahkan biaranya kepada Vinsensius. Harta bendanya yang dulu dipakai untuk menyembuhkan para penderita kusta secara jasmani sekarang dapat dibaktikan untuk penyakit kusta rohani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Ternyata, Le Bon mendapat dua rintangan serius. Yang pertama berasal dari Vinsensius sendiri. Kata Vinsensius ketika gedung itu ditawarkan kepadanya, “<em>kami baru saja lahir dan kami hanya beberapa orang saja. Kami tidak suka menimbulkan heboh. Saya mohon supaya Anda memikirkan orang lain dan bukan kami</em>.”<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Yang kedua adalah kesulitan yuridis. Sebelum kontrak dapat disusun, ternyata diperlukan perundingan pelik. Para kanonik mencoba melawan. Tetapi, mereka tidak memperhitungkan bahwa biara tersebut telah mereka terima dari Uskup Paris supaya digunakan. Uskup itu pula yang<span> </span>berhak untuk menentukan penggunaan biara itu untuk tujuan lain. Dan akhirnya, tujuan lain yang dipilih oleh Uskup Paris adalah pembinaan calon tahbisan secara gratis. Seusai Konsili Trente, pelaksanaan pembaruan pembinaan imam mengalami rintangan serupa. Gereja mengalami kesulitan besar ketika mencoba menggunakan penghasilan dan harta bendanya untuk tujuan baru, sesuai dengan perkembangan situasi. Tetapi saat ini, Yohanes Fransiskus de Gondi tidak membiarkan dirinya dicekam ketakutan; ia maju dengan berani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Sikap Vinsensius patut dicatat. Ia mulai dengan menolak. Kemudian, ketika penasihat-penasihatnya membuat dia menghargai alasan-alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut di atas sebagai pengungkapan kehendak Allah (Andre Duval memainkan peranan penting dalam proses ini), ia rela melibatkan diri dan maju dengan langkah pasti. Ia bahkan tidak mau menerima beberapa ketentuan yang dianjurkan Le Bon untuk dimasukan dalam kontrak serah terima. Ia menolak membuat para romo CM menjadi kanonik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Calvet mendefinisikan Vinsensius sebagai <em>un homme aux aguets</em>, yaitu orang yang terus-menerus mengintai mangsanya. Dia selalu siap melompat, begitu menjadi jelas bahwa sesuatu adalah kehendak Allah. Alasan-alasan ilahi sudah sedemikian mendarah daging dalam dirinya, sehingga dia berindak seakan-akan dibimbing secara telepatis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Tahun 1633, seorang pejabat Gerejani mengusulkan kepadanya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan bagi para imam. Setelah beberapa saat memikirkan hal itu, Konferensi-konferensi Hari Selasa (Conference du Mardi) dimulai. Konferensi ini merupakan pertemuan imam-imam yang memberi kesempatan kepada setiap anggota untuk menyumbangkan pikirannya. Tidak ada ceramah. Tidak ada kesempatan untuk memamerkan kepandaian berpidato. Kebenaran ditemukan kembali dan mendapat cahayanya dari bawah. Senjata baru pembinaan imam adalah dialog, bukan ketakutan. Beberapa peserta kemudian hari menjadi uskup: Nicolas Pavillon, Fouquet, Vialart dan akhirnya Bossuet. Olier sendiri juga ikut dalam pertemuan pertama. Dari luar tampak bahwa pertemuna semacam itu hanya diperuntukan bagi orang-orang terpilih namun dalam kenyataannya usaha ini memberikan sumbangan besar dalam menjiwai para imam, selain memberikan kembali alasan-alasan untuk percaya kembali pada panggilan dan untuk merasa diri berguna. Dengan demikian Konferensi Hari Selasa merupakan jawaban jitu kepada aliran Protestan yang menolak imamat sebagai jabatan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span></span></a><span lang="IN">Diterjemahkan dari Luigi Mezzadri, <em>San Vincenzo de Paul</em>, Edizioni Paoline, Milano, 1986, secara khusus bab ke-3: “Dalla Missione Alla Congregazione Della Missione”, p. 45-7, oleh Rm. E.V.Bieler, CM.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, II, 246-47. </span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, II, 107. </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, XII, 7. </span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, XIII, 8. </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, XIII, 203-05. </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, I, 115. </span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em><span lang="IN">SV</span></em><span lang="IN">, XI, 445. </span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN">Bulla <em>Salvatoris Nostri</em>, 12 Januari 1633. </span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="IN">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN">Abelly, 3, 17, 272. </span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=28&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/06/11/dari-%e2%80%9cmisi%e2%80%9d-ke-%e2%80%9ckongregasi-misi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Praying with Vincent de Paul. Companions for the Journey&#8221;</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/praying-with-vincent-de-paul-companions-for-the-journey/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/praying-with-vincent-de-paul-companions-for-the-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 15:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[doa vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Excerpts from &#8220;Praying with Vincent de Paul. Companions for the Journey&#8221;, by Fr. Thomas McKenna CM (Winona, Mn: St. Mary&#8217;s Press, 1994) Meditation 1 God, Our Loving Parent Theme: Vincent knew himself to be sustained by God&#8217;s motherly and fatherly love. Opening prayer: Strong and tender God, help me to sense your care as you [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=24&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:left;">Excerpts from <strong><em>&#8220;Praying with Vincent de Paul. Companions for the Journey&#8221;</em></strong>, by Fr. Thomas McKenna CM (<span style="font-size:10pt;">Winona, Mn: St. Mary&#8217;s Press, 1994)</span><strong><span style="font-size:10pt;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:left;"><strong><span style="font-size:10pt;">Meditation 1</span></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;"> God, Our Loving Parent</span></em></strong></p>
<p style="text-align:left;margin:5pt 0.5in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Theme: </span></strong><span style="font-size:10pt;">Vincent knew himself to be sustained by God&#8217;s motherly and fatherly love. </span></p>
<p style="text-align:left;margin:5pt 0.5in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Opening prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Strong and tender God, help me to sense your care as you hold me in the palm of your hand.</span><span id="more-24"></span><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s Words</span></strong></p>
<p style="margin:5pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">In a conversation just a few months before his death, Vincent disclosed what it was that had most nourished him. He said: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">To be consumed for God, to have no goods nor power except for the purpose of expending them for God. That is what Our Savior did himself, he who was consumed for love of his Father. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(<em>Documents</em>, vol. 13, p. 179) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">In another instance, Louise de Marillac became distressed that she was not doing God&#8217;s will because she could not accomplish all of the resolutions that she had made. Vincent offered this simple reminder: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Do not worry yourself when you fail to carry them out. God is love and wishes us to go to Him by love. So do not look upon yourself as being obliged to carry out all these good resolutions. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(Coste, <em>Life and Works</em>, vol. 3, p. 365) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Reflection</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s amazing accomplishments required that he maintain a prodigious pace. Nevertheless, contemporaries marveled at his calm and confidence. Even working closely with desperately poor or sick people, in the midst of chaotic surroundings, Vincent lived with surehanded peacefulness.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">When Vincent read the Gospels, he took great comfort from the relationship between Jesus and Abba. Jesus the Son can heal and forgive because he basks in the loving gaze of God, his loving parent. To be truly good and whole, every human action should model itself on the circle of loving communion between Jesus and his Abba. Vincent learned this lesson well. </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">He also learned of God&#8217;s constant love from the poor people with whom he worked. In small and large ways, they embodied God&#8217;s motherly and fatherly love. Vincent knew that he could rely on God&#8217;s care when he took on &#8220;impossible&#8221; tasks or when his own light failed him. Faith in God&#8217;s inexhaustible tenderness nourished Vincent&#8217;s resiliency.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">God&#8217;s Word</span></strong></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:0.5in;" border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;">Can a woman forget her   baby at the breast,<br />
feel no pity for the child she has borne?<br />
Even if these were to forget,<br />
I shall not forget you.<br />
Look, I have engraved you on the palms of my hands</span></em><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:10pt;">(Isaiah 49:15-16) </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Closing prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> All-loving God, surround me with your mercy and love. Let me feel the firmness of your hand, especially when I feel blown in a thousand directions. Let me know the depths of your care for me and for all of your people. </span></p>
<div class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;"></p>
<hr size="2" /></span></div>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Meditation 2</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;">Following God&#8217;s Will</span></em></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Theme:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Vincent prayed that over time his designs and actions would be more and more in harmony with God&#8217;s desires. He knew that this was the way to a full life.&gt; </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Opening Prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> All-provident God, I put all of my thoughts and impulses, my biases and viewpoints, my action and waiting, my plans and confusion into your hands. Lead me on your way. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s Words</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">In the only systematic work that Vincent wrote, a rule of life for priests, he gave this advice: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">A sure way for a Christian to grow rapidly in holiness is a conscientious effort to carry out God&#8217;s will in all circumstances. . . . Each one should show a great eagerness in that sort of openness to God&#8217;s will which Christ and the saints developed so carefully. This means that we should not havea disproportionate liking for any ministry, person or place, especially our native land, or for anything of that sort. We should even be ready and willing to leave all these gladly.</span></strong><span style="font-size:10pt;"> (<em>Constitutions</em>, pp. 108, 112) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">A decade earlier, trying to encourage a confused missionary to find the true bearings in his life, Vincent wrote: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">So, Father, let us ask Our Lord that everything might be done according to his providence, that our wills be submitted to him in such a way that between him and us there might be only one, which will enable us to enjoy his unique love in time and eternity.</span></strong><span style="font-size:10pt;"> (<em>Documents</em>, vol. 2, p. 469) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Reflection</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">A spirituality that rarely translates into action can certainly be questioned. On the other hand, undiscerned activity can simply be a person&#8217;s compulsions at work.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Vincent took on one complicated project after another and at times exhausted himself in the process. However, he always discerned each initiative carefully to be sure that it was rooted in God&#8217;s will. He could never be accused of activity for its own sake. </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Vincent studied the Gospels, asked for advice, and prayed for God&#8217;s light and strength. Then he acted &#8212; confidently &#8212; trusting that he had done his best to give flesh to God&#8217;s intent.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">God&#8217;s Word</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><em><span style="font-size:10pt;">I am the bread of life. Hunger will be unknown to those who come to me. No one who believes in me will suffer thirst. I would never abandon anyone who follows me. After all, I became flesh and blood to do the will of the one who sent me, not to do my own will. It is the divine will that whoever believes in the Son shall have life eternal. I tell you, believers will be raised up on the last day.</span></em><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p style="text-align:right;margin:5pt 1in;" align="right"><span style="font-size:10pt;">(Adapted from John 6:35-40) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Closing prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> &#8220;Grant me the grace, [loving God] . . . to begin as of this very moment to live in the bliss of the saints in heaven, which consists in being one, in willing and not-willing, with God&#8217;s [own] self&#8221; (<em>Documents</em>, vol. 10, pp. 285-286) </span></p>
<div class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;"></p>
<hr size="2" /></span></div>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Meditation 6</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;">The Special Presence of Christ in the Poor</span></em></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Theme:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Vincent encountered Jesus Christ most powerfully among sick, abandoned, and hungry people &#8212; the outcasts of society.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Opening prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Gracious Jesus, open my eyes. Allow me to see you living within the poor people of this world. Let me meet you as I met them. May I embrace you as I embrace them, learn from you as I learn from them.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s Words</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">I should not judge poor peasants, men or women, by their exterior nor by their apparent mental capacities. All the more is this so since very frequently they scarcely seem to have the appearance or intelligence of reasonable beings, so gross and offensive are they. But turn the medal, and you will see by the light of faith that the Son of God, whose will it was to be poor, is represented to us by these people.</span></strong><span style="font-size:10pt;"> (<em>Documents</em>, vol. 11, p. 32) </span></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Let us go then, my brothers, and work with a new love in the service of the poor, looking even for the most destitute and abandoned among them. Let us recognize that before God they are our lords and masters and we are unworthy to render them our small services.</span></strong><span style="font-size:10pt;"> (<em>Documents</em>, vol. 11, p. 393) </span></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Let us, my sisters, cherish the poor as our masters, since Our Lord is in them and they in Our Lord</span></strong><span style="font-size:10pt;">. (<em>Documents</em>, vol. 13, p. 540) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Reflection</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Seeing and attending figure prominently in prayer. Jesus chided those people who look, but do not really see because of their prejudices, ignorance, or cynicism. Vincent did his seeing through the eyes of the poor people with whom he worked. They became the lenses through which he glimpsed God at work in the world. Forsaken people, worthy in themselves, were the holy ground where Vincent encountered the living God. </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Seeing and attending to God happen not only in quiet recollection but also in human exchanges, particularly with God&#8217;s poor. After all, prayer has been called a long, loving look at the real. Orphans, victims of war, famine, and disease present realities that can shake us out of our complacency or feelings of self-sufficiency. They remind us that the suffering Jesus is in our midst, that the Reign of God demands our attention, that only God can finally fill our hunger.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">To see God&#8217;s presence demands faith, faith that helps us see beyond the ragged clothes, open sores, runny noses, gaunt looks, angry attitude, sallow skin, or feigned indifference that people may have. As Vincent said, &#8220;you will see by the light of faith that the Son of God, whose will it was to be poor, is represented to us by these creatures.&#8221; The reward of faith is an encounter with the God of love.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">God&#8217;s Word</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><em><span style="font-size:10pt;">At the last judgment, the risen Christ will say to those on his right hand: &#8220;Come, you have been blessed by God with the inheritance prepared for you from the time of creation. For I was hungry, and you fed me. I thirsted, and you provided me with something to drink. I felt myself an alien, but you showed me hospitality. I had no clothes, you gave me garments. I was ill, and you nursed me to health. I have been tossed into prison, but you came to visit me.&#8221;</span></em></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><em><span style="font-size:10pt;">The righteous will ask Christ: &#8220;But when did we do all these acts of charity and righteousness to you?&#8221; </span></em></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><em><span style="font-size:10pt;">And Jesus will declare, &#8220;In truth, when you did these things to any one of the least of your sisters or brothers, you did them to me.&#8221; </span></em><span style="font-size:10pt;">(Adapted from Matthew 25:34-40) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Closing prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Loving God, let me see into the eyes of sick people, prisoners, those who are hungry and thirsty, and when I do, may I see you there, suffering in solidarity with them. Change my way of seeing; then strengthen my will to act with justice and charity.</span></p>
<div class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;"></p>
<hr size="2" /></span></div>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Meditation 14</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;">Creativity and Cooperation in Ministry</span></em></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Theme:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Announcing the Good News to poor people calls for ingenuity combined with teamwork. The way Jesus set new courses and gathered the Apostles together served as Vincent&#8217;s example of how to be creative and pull people together.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Opening prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> Creator, expand my vision and fire my creativity in the service of your Reign. Draw me together with other Christians who seek to serve your people. Lead us peacefully on your way through all the tensions and pressures of our work together.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s Words</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Encouraging one of his communities to overcome obstacles to their ministry, Vincent said, &#8220;<strong>Love is inventive, even to infinity</strong>&#8221; (<em>Documents</em>, vol. 11, p. 146). </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Love must also foster cooperation in ministry. In a directive to his priests, Vincent reminded them of the motivation of their work together: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Christ, our Savior, formed apostles and disciples into a community and gave them guidelines for getting along well with each other. . . . Our little Congregation wants to follow in the footsteps of Christ and the disciples. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(<em>Constitutions</em>, p. 129) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Finally, Vincent reminded the women of one of the charitable organizations he founded that it is divine providence that calls Christians to be creative in forming communities of service: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">It has been eight hundred years now since women have had any public role in the Church. In the early times there were deaconesses who oversaw the women of the congregation and instructed them in the ceremonies then in use. </span></strong></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">. . . But in the time of Charlemagne, because of some unknown design of Providence, this custom stopped and your sex was deprived of providing all these kinds of services. In our day, however, this same Providence prompted you to take up the crucial work of caring for poor people suffering in the hospitals. A few women responded to these promptings and after a while were joined by others to form an association. God has given them as mothers to the abandoned children who are sick in the hospitals. In Paris, they are called upon to dispense many alms. . . . By the grace of God, these good women have responded to these needs with great worth and steadiness. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(<em>Documents</em>, vol. 10, pp. 809-810) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Reflection</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s legacy is a mixture of single-mindedness and openness. With his heart set on loving God and neighbor, Vincent searched for whatever methods might make that love active and credible. Approaches that escaped other people&#8217;s attention caught his eye because of their apostolic potential.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Staying focused on service allowed Vincent to loosen his grip on what he already knew. After deliberating, he would step out beyond the tried and true when he saw a need to be met or good to be done. For example, he innovated by establishing the confraternities of rich people working with poor ones, caring for beggars in halfway houses, getting prisoners to help other prisoners during missions, giving retreats to gatherings of priests, organizing women to minister in people&#8217;s homes, and so on.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Simultaneously, Vincent always encouraged cooperation among people in service. Jesus gathered the apostles and disciples together so that the Good News could go out to distant lands. Vincent followed Jesus&#8217; example, and he used his creative abilities to gather, direct, and encourage cooperation and mutual support in ministry.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Even if he ruffled the feathers of powerful figures, service of the poor took precedence. Vincent willingly changed his own habits if they obstructed his mission and challenged the narrow thinking of other people. Vincent stayed constant in his ends, but flexible in his means. The love of Christ provided his anchor and his freedom to do what needed to be done. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">God&#8217;s Word</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><em><span style="font-size:10pt;">Above all, clothe yourselves with love, which binds everything together in perfect harmony. And let the peace of Christ rule in your hearts, to which indeed you were called in the one body. And be thankful. Let the word of Christ dwell in you richly; teach and admonish one another in all wisdom. . . . And whatever you do, in word or deed, do everything in the name of . . . Jesus, giving thanks to God . . . through him. </span></em></p>
<p style="margin:5pt 1in;"><span style="font-size:10pt;">(Adapted from Colossians 3:14-17) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Closing prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Oh my God, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">may it please you to be the bond </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">which ties the hearts of evangelizers together </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">in a common attitude of humility, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">of unity, and of respect for one another. . . . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Let the good effects of their mutual affection, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">which you allow to develop among them, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">steadily grow and flourish, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">and make the fruits of their labors </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">for the salvation of souls </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">constantly increase. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Strengthen them in their . . . efforts, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 1in 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:10pt;">and be yourself their ultimate reward. </span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 1in 0.0001pt;" align="right"><span style="font-size:10pt;">(Braakhuis, <em>Praying</em>, no. 28) </span></p>
<div class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;"></p>
<hr size="2" /></span></div>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Meditation 15</span></strong><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;">Contemplation and Action</span></em></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Theme:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> For our ministry to continue during the rough spots, and to be done according to God&#8217;s will, it has to be grounded in prayer and contemplation. Vincent models the necessary balance between contemplation and action.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Opening prayer:</span></strong><span style="font-size:10pt;"> God of goodness, you hold all things together. Let my prayer anchor my action, and my action nourish my prayer. In everything, may I attend to you with all my heart.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Vincent&#8217;s Words</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Vincent pinpoints a privileged source of contemplation: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">We have to make our occupations holy. We do this by seeking God in them. We do our work to find God in it rather than to just get it done. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(<em>Documents</em>, vol. 12, p. 132) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">In the rule of life Vincent proposed for the Daughters of Charity, he insisted that Jesus should be the guiding example for how prayer and action are integrated: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">[Jesus is] so perfect a model. . . . [The Daughters are directed to] strive to live in a holy manner, and labor with great care to attain perfection; uniting the exercise of a spiritual life with the exterior duties of Christian charity toward the poor, according to the present Rules, which they will endeavor to practice with great fidelity, as the surest means of attaining this end. </span></strong><span style="font-size:10pt;">(Ignatius Melito, &#8220;St. Vincent&#8217;s Legacy,&#8221; <em>Vincentian Heritage</em> 2 [1981]:5) </span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Finally, in this famous line, Vincent told his community:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><strong><span style="font-size:10pt;">Give me a man of prayer and he will be capable of anything. He may say with the apostle, &#8220;I can do all things in him who strengthens me.&#8221; </span></strong><span style="font-size:10pt;">(<em>Documents</em>, vol. 11, p. 83) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">Reflection</span></strong></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">When Vincent speaks of action, he means effort for the Reign of God. This effort is the doing of grace, a free response to the Gospel&#8217;s call to love our neighbor. Action stands in sharp contrast to mere activity, which may seem like zeal but is so compulsive or rootless that it withers under the hot sun of apostolic demands.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Analogously, prayer and contemplation are open to everything that God is doing in the world; they are long, loving, vulnerable looks at God&#8217;s manifold presence in creation. On the other hand, people can think that they are praying, but if prayer is disconnected from the wider world, it turns into a caricature of itself. Prayer not rooted in God&#8217;s presence in experience can be form without substance.</span></p>
<p style="margin:0 0.5in 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Prayer, contemplation, and action vitalize each other. When God guides and graces our action, that action becomes a prayer and a source of contemplation. When our prayer and contemplation truly examine the reality of God&#8217;s presence in the sufferings and joys, dangers and celebrations in the world, they flower into charity in action.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">God&#8217;s Word</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1in;margin-left:1in;"><em><span style="font-size:10pt;">God commands that we believe in the name of Jesus Christ and that we love one another. All who obey God&#8217;s commandments dwell in God, and God dwells in them. We know that God lives in us because of the Spirit that God has sent to us. </span></em><span style="font-size:10pt;">(Adapted from 1 John 3:23-24) </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;">Closing prayer: </span></strong><span style="font-size:10pt;">This is my prayer to you, O Lord! Give to me your special favor. Pour out your truth and mercy on me in an abundance that will enable me to put your love into practice, filling me with true affection for you, for my neighbor, and also for myself. (<em>Documents</em>, vol. 10, pp. 474-475)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=24&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/praying-with-vincent-de-paul-companions-for-the-journey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Batin: Jalan Keutamaan Vinsensian</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-batin-jalan-keutamaan-vinsensian/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-batin-jalan-keutamaan-vinsensian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 14:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[doa vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Robert Maloney, CM St. Vinsensius tentang doa batin a. Doa batin begitu penting dalam Hidup Vinsensius Dalam sebuah konferensinya kepada para misionaris, Vinsensius berkata : “Berilah aku seorang pendoa maka ia akan melakukan segalanya. Rasul Paulus mengatakan: aku dapat melakukan segala sesuatu dalam Dia yang menguatkan aku”. Hidup Kongregasi ini ditentukan sejauh mana anggotanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=23&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p>Oleh: Robert Maloney, CM</p>
<p><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;">St. Vinsensius tentang doa batin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a. Doa batin begitu penting dalam Hidup Vinsensius<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam sebuah konferensinya kepada para misionaris, Vinsensius berkata : “Berilah aku seorang pendoa maka ia akan melakukan segalanya. Rasul Paulus mengatakan: aku dapat melakukan segala sesuatu dalam Dia yang menguatkan aku”. Hidup Kongregasi ini ditentukan sejauh mana anggotanya<span> </span>mempraktekkan doa. Doa itu ibarat benteng yang melindungi para misionaris </span><span id="more-23"></span><span>dari segala ketamakan. Tentunya yang dimaksud St. Vinsensius di sini adalah doa batin. Pada bebarapa tulisannya,<span> </span>St. Vinsensius mengatakan bahwa kemalasan untuk bangun pagi dan berdoa bersama komunitas adalah<span> </span>penyebab seorang misionaris sulit<span> </span>bertekun dalam panggilannya.<span> </span>Doa itu memberikan kekuatan bagi jiwa seperti halnya makanan memberikan kekuatan bagi badan. Doa batin bagaikan sebuah<span> </span>sumber air<span> </span>yang menyegarkan kita dan<span> </span>bagaikan sebuah buku acuan bagi pengkotbah di mana ia dapat menemukan kebenaran yang bisa dibagikan kepada umat Allah.<span> </span>Bagaikan setitik embun yang menyejukkan<span> </span>jiwa<span> </span>setiap pagi. St.Vinsensius menjelaskan bahwa doa batin itu dapat mengangkat i<span> </span>budi kita kepada yang ilahi. Doa batin adalah<span> </span>sebuah percakapan dengan Allah, sebuah pergaulan mesra dengan roh di mana Tuhan mengajar lebih mendalam tentang apa yang harus kita ketahui dan harus kita lakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Menurut St. Vinsensius ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berdoa agar kita<span> </span>bisa menemukan Allah antara lain kerendahan hati, sikap lepas bebas, dan matiraga. Dalam berdoa, mulailah dengan bersyukur atas anugrah Allah dan menyadari keterbatasan serta dosa-dosa kita. Sedang sikap lepas bebas dalam berdoa memungkin kita untuk hidup dalam keleluasaan batin untuk<span> </span>mengerti kehendak Allah. Kita sungguh-sungguh dapat<span> </span>mengenal dan melaksanakan kehendak yang Dia wahyukan diriNya kepada kita.<span> </span>St. Vinsensius juga berulangkali menekankan pentingnya matiraga agar bisa berdoa dengan baik. Terutama matiraga untuk beranjak dari tempat tidur setiap pagi dan berdoa . Dia mengatakan kepada para suster Putri kasih bahwa tubuh kita ini ibarat sekor keledai yang bisa dibiasakan menyusuri sebuah jalan. Kita harus terus-menerus<span> </span>memusatkan perhatian<span> </span>pada kerendahan hati Yesus seperti apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus, terutama tentang kotbah di bukit. St. Vinsensius menyarankan agar mengambil tema sengsara dan salib yesus sebagai pokok doa. Tidak ragu-ragu dia menyarankan<span> </span>untuk menggunakan bantuan lukisan-lukisan<span> </span>atau buku-buku tentang doa. Iia mengajak kita untuk membaca<span> </span>buku <em>Mengikuti Jejak Kristus</em>, <em>Pengantar Ke Dalam Hidup Saleh</em> dan <em>Risalah Cinta Tuhan</em> dari<span> </span>Fransiskus De Sales.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>2. Doa afeksi dan Kontemplasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>St. Vinsensius<span> </span>menjelaskan bahwa perasaan yang muincul dalam doa batin ( misalnya rasa sedih dalam merenungkan sengsara Kristus) bisa membantu doa batin tersebut. Akan tetapi itu bukanlah inti dari doa batin. Perasaan<span> </span>seperti rasa syukur, bahagia, sedih, jenuh, berharap atau takut menjadi pendorong bagi kita untuk mewujudkan<span> </span>kehendak dan melakukan segala sesuatu. Cinta afektif yang muncul seharusnya dapat membimbing kita menuju cinta yang efektif. Selagi kita menggunakan<span> </span>doa afeksi,<span> </span>kita juga menggunakan berkontemplasi dalam memahami Allah.<span> </span>Dalam komtemplasi kita “mengecap dan melihat” bahwa Tuhan itu sungguh baik. Komtemplasi merupakan<span> </span>bagian dari hidup rohani yang dianugrahkan oleh Allah sendiri. Seperti dia katakan sendiri ketika menjelaskan keutaaman<span> </span>Louisa de Marillac:, “dia gembira<span> </span>begitu mendengar ungkapan Louisa: Ketika dia sendiri , dia langsung masuk dalam doa”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<h3><span style="font-size:10pt;">Metode Doa batin</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Pada dasarnya, metode doa batin yang diajarkan oleh vinsensius ini ia pelajari dari Fransiskus de Sales dengan<span> </span>perubahan seperlunya saja. Dalam memberi makna<span> </span>doa afeksi, dia menekankan<span> </span>perlunya buah-buah praktis dari doa itu. Dalam konferensinya.<span> </span>Namun bila dibandingkan dengan Fransiskus de Sales St. Vinsensius lebih membatasi penggunaan imajinasi dalam berdoa. Dia selalu mengingatkan agar jangan membuat doa yang terlalu muluk-muluk.Doa hendak menjadi saat menggali inspirasi yang bisa membimbingdiri kita. Agar dalam berdoa menjadi lebih baik hendaknya pada waktu sore sebelumnya kita membaca tema doa sebagai persiapan doa untuk esok harinya . Dia juga melihat bahwa keheningan malam atau pagi hari merupakan saat yang baik untuk berdoa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Adapun metode doa yang di usulkan St.Vinsenius<span> </span>adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>a. Persiapan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span>Pertama-tama, tempatkanlah diri Anda dihadapan Allah caranya dengan duduk menghadap Tuhan di depan Sakramen Mahakudus. Renungkanlah keberadaanNya, mintalah bantuanNya supaya Anda bisa berdoa dengan baik. Mintalah juga bantuan dari Perawan Maria, para malaikat dan para kudus untuk membantu Anda dalam Doa. Lalu pilihlah bahan yang akan anda meditasikan misalnya misteri iman seperti Maria menerima kabar dari malaikat Tuhan atau<span> </span>keutamaan moral seperti kerendahan hati atau Sabda Allah misalnya “Berbahagialah orang yang membawa damai”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>b. <em>Pokok Doa</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span>Sekarang mulailah Anda memilih tema doa misalnya Sengsara Kristus. Namun jika tema itu merupakan suatu keutamaan maka sebaiknya Anda merenungkan apa motivasi anda untuk mencintai dan melaksanakan keutamaan itu. Jika yang kita renungkan adalah misteri iman maka pikirkanlah kebenaran-kebenaran yang ada di dalam misteri iman itu. Jangan lupa utntuk menemukan tindakan apa yang harusAnda </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>lakukan untuk mewujudkan doa Anda, misalnya tema “cinta Kristus yang telah merelakan dirinya menderita untuk kita” maka tidakan yang kita pilih adalah mengungkapkan cinta Anda kepada Allah , sedih karena dosa dan kehendak untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Dari sini Anda mencari niat konkret apa yang bisa mengejawantahkan nilai-nilai tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>C. Penutup</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span>Bersyukurlah atas kesempatan dahmat yang diberikan selama berdoa.<span> </span>Serahkanlah niat yang telah anda buat itu kepada Allah dan mintalah dia untuk membantu memelihara niat-niat Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<h4><span style="font-size:10pt;">II. DOA BATIN SAAT INI</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Seperti Karl Rahner negatakan bahwa: Pengalaman akan Allah secara Pribadi adalah jantung spiritualaitas, St Vinsensius sealu menekankan kepada setiap konfrater dan suster Putri Kasih untuk senantiasa berdoa. Regulae communes yang dia tulias menyatakan dengan jelas perlunya berdoa minimal satu jam. Juga dalam Konstirusi Cm yang telah direvisi menekankan perlunya doa dan meditasi selama satu jam setiap hari. Kedua nya menyatakan bahwa doa batin itu sungguh penting bagai kehidupan seorang Vinsensian. Saat ini begitu banyak cara yang bisa di tempuh untuk menbantu doa batin misalnya sebagai berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Doa akal budi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>1.tema doa: Apakah kerendahan hati itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a.Cari dalam Kitab Suci</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>b.Cari dalam tulisan St Vinsensius</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>c. Cari dalam tulisan-tulisan kuno dan tulisan-tulisan saat ini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Motivasi: Mengapa saya haru srendah hati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a. Cari dalam Kitab suci</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>b. Cari dalam Tulisan St. Vinsensius</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>C. Cari dalam tulisan-tulisan kuno dan tulisan-tulisan saat ini</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>3. Maksud: Bagaimana saya bisa tumbuh dalam kerendahan hati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a. Mengerjakan pekerjaan yang diangap hina</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>b. Membiarkan diri kita diinjili orang miskin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>c. Lebih memperhatikan orang lain dari sisi kebaikannya dari pada sisi buruknya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>4 Membangun sikap-sikap seorang pelayan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Doa Imajunasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>1. Aktifkan imajinasi dengan memusatkan situasi dalam injil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>2. Ambilah salah satu peran dari pribadi0pribadi yang ada dalam Kitab Suci</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>3. Tanyakan Apa? Siapa, Mengapa? Dan Bagaimana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>4. Tinggalah dalam imaginasi dan ulangilah kembali suasana yang ada dalam Injil sebagai sesuatu yang ada di depan mata kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Doa Hati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><span>1. <span> </span>Pada permulaan doa sediakan waktu satu atau dua menit untuk diam dan masuklah dalam iman serta sadarilah kehadiran Allah dalam diri anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><span>2. <span> </span>Setelah mencapai ketenangan katakan satu kata atau kalimat yang mengungkapkan tanggapanmu dalam doa dan ulangilah itu berlahan-lahan dan terus-menerus. Biarkanlah itu menggema dalam hati Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><span>4<span> </span>apabila dalam doa itu terganggu oleh sesuatu, cobalah untuk kembalai mengulangi kata atau kalimat yang sedang Anda ucapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><span>5.<span> </span>Di akhir doa bangun kembali kesadaran Anda dan doakan Doa Bapa kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>LECTIO DIVINA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-1in;"><span>a. Lectio<span> </span>: Secara aktual teks Kitab Suci mengatakan apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-1in;"><span>B. Meditatio<span> </span>: Untukku mau berkata apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>C. Oratio: Berbicaralah dengan Tuhan dengan titik tolak teks tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5in;text-align:justify;text-indent:-1.5in;"><span>D. Comtemplatio<span> </span>: meresapkan dan mengalami pribadi Kristus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Secara lebih jelas mari kita simak uraian singkat berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>1. Doa akal budi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Inilah metode dasar yang disarankan St. Vinsensius.<span> </span>Seorang Vinsensian menggunakan metode ini untuk memeditasikan keutamaan kerendahan hati. Adapun prosesnya sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>a. Pokok doa: Apakah kerendahan hati itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Pertama-tama marilah kita cari bagian-bagian dari kitab Suci yang berbicara tentang kerendahan hati. Lalu renungkanlah. Sebagai contoh, Luk 1:46 tentang Kidung maria dan rasa syukur maria atas anugrah Allah. Atau Plp 2:5 tentang Yesus memngambil peran seorang hamba bahkan rela mati di salib. Atau bisa juga dari Mrk 9:3, di mana Yesus berbicara tentang kerendahan hati yang diperlukan seorang pemimpin. Tanyakanlah apa yang dimaksud kerendahan ayat-ayat tersebut? Apa isinya/. Maka sedikit demi sedikit kita akan menemukan suatu pemahaman akan kerendahan hati. Kerendahan hati itu merupakan kesadaran diri sebagai ciptaan Tuhan. Saya sepenuhnya tergantung pada Allah. Kita juga menemukan kesadaran akan penebusan yang dilakukan oleh Tuhan. Sat\ya sering berdosa maka saya membutuhkan pertolongan Tuhan untuk dapat bertobat.. Saya sadar, saya begitu lambat dalam melaksanakan amanat Injil. Saya sering mengatakan kejelekan orang lain. Saya mudah mengeluh terhadap aturan-aturan yang kdang kurang adil. Tetapi saya percaya bahwa Allah begitu ingin mengampuni saya. Dan saya percaya akan kekuatan Tuhan yang akan menyembuhkan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kerendahan hati bisa juga berarti rasa syukur atas anugrah allah. Seorang yang rendah hati akan berseru seperti Maria:”Allah telah mengerjakan karya agung dalam diriku, Terpujilah namaNya”. Kerendaha hati mencakup juga soal sikap seorang hamba. Kita diminta Yesus , “Bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani”. Kerendahan hati meminta kita membiarkan diri kita diinjili oleh orang miskin, “ Tuan dan Majikan kita” maka dengarkanlah dengan penuh perhatian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Usaha lain untuk mengerti kerendahan hati bisa dilakukan dengan mencari tulisan-tulisan St. Vbinsensious atau tradisi Vinsensian yang berkaitan dengan kerendahan hati. Baik juga melihat Regulae Communes II,6-7, X13-14. Dan merenungkan tahap-tahap St. Vinsensius dalam menjelaskan cara-cara mencapai kerendahan hati. Kita juga dapat membaca tulisan-tulisan dalam tradisi Gereja maupun penuliss-penulis saat ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>B. Motivasi: Mengapa saya harus rendah Hati?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kita bisa menggunakan sumber yang sama seperti di atas untuk mengetahui mengapa kita perlu kerendahan hati. Dalam Mat 18:4 dikatakan bahwa kerendahan hati adalah perkara yang terbesar dalam kerajaan Surga. Juga dalam Flp 1: 29 dikatakan Yesus dimuliakan Allah karena kerendahan hatinya. Menurut St. Vinsensius kerendahan hati adalah dasar kesempurnaan perwartaan dan jantung dari hidup rohani. Hanya dengan kerendahan hatilah<span> </span>akan muncul tindakan cinta kasih. Penulis-penulis saat inipun perlunya kerendahan hati untuk bisa bergantung sepenuhnya pada Allah dan bisa bersyukur atas anugrah hidup yang telah diberikanNya. Namun demikian dalam metode ini yang dipentingkan adalah berpikir dan berbuat dengan akal sehat</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=23&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-batin-jalan-keutamaan-vinsensian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Santo Vinsensius dan Doa</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/santo-vinsensius-dan-doa/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/santo-vinsensius-dan-doa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 13:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[doa vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ignatius M. Melito, CM* Tradisi telah memberi gambaran tentang Santo Vinsensius sebagai “manusia aktif”. Secara umum dia dikenal sebagai seorang kudus bagi mereka yang menderita dan membutuhkan, orang-orang miskin, sakit, terlantar, korban perang dan kelaparan, pengemis, para budak serta sejumlah orang tertindas lainnya. Dengan rendah hati St. Vinsensius meyakini bahwa segala usaha untuk menuaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=22&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Oleh: Ignatius M. Melito, CM</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>*</span></span></span></a><span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span>Tradisi telah memberi gambaran tentang Santo Vinsensius sebagai “manusia aktif”. Secara umum dia dikenal sebagai seorang kudus bagi mereka yang menderita dan membutuhkan, orang-orang miskin, sakit, terlantar, korban perang dan kelaparan, pengemis, para budak serta sejumlah orang tertindas lainnya</span><span id="more-22"></span><span>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan rendah hati St. Vinsensius meyakini bahwa segala usaha untuk menuaikan karya-karya serikatnya itu bersumber pada doa. Doa merupakan suatu sumber yang melampaui segala kemampuan manajerial maupun usaha efisiensi semata. “Berilah aku manusia pendoa dan ia akan mampu melakukan segalanya,” katanya. Kata-kata ini ia nyatakan setelah memperoleh inspirasi dari St. Paulus, “segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Selanjutnya St. Vinsensius merumuskan dua unsur kegiatan kerasulan, yakni <em>doa </em>dan <em>perbuatan</em>. Unsur-unsur ini dipandangnya sebagai suatu konsep terpenting. Doa dimaksudkan bukan hanya untuk menyertai karya pelayanan sekaligus doa itu sendirilah inti pelayanan. Kita lihat di sini kata <em>doa </em>menjadi kata kunci. Karya kerasulan dapat dilakukan dalam aneka ragam bentuk (“segalanya”) menurut peraturan dan gayanya. Tetapi, apa pun bentuk karya pelayanan itu, doa harus selalu menjiwai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Pengalaman-pengalaman St. Vinsensius membuat gagasan ini mendominasi pemikirannya tentang karya kerasualn aktif; lebih-lebih karena ia menjadi pendiri dan pembimbing dua Serikatnya, CM dan PK, serta Perkumpulan Cinta Kasih. Kedua serikat itu membaktikan diri demi karya pelayanan aktif: Pertama, para romo mewartakan Injil kepada orang-orang desa melalui misi dan pembinaan imam; dan kedua, para suster malayani Kristus “secara jasmani dan rohani dalam diri kaum miskin”. Santo Vinsensius benar-benar yakin akan kepentingan doa, sehingga ia mengatakan bahwa Kongregasi Misi – dan secara implisit serikat-serikatnya yang lain – akan memiliki kelangsungan hidup bila ia setia berdoa.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Dalam pembicaraan ini, St. Vinsensius tampil sebagai panasihat putera dan puterinya. Mereka memandang kata-kata Vinsensius sebagai warisan, selain sebagai pedoman dinamis dan aktual untuk melaksanakan karya kerasulan yang efektif. Dalam tulisan ini kita akan mendalami unsur-unsur warisan St. Vinsensius tentang doa dan keunggulan doa yang sangat penting bagi karya kerasulan. Di samping itu kita akan melihat peranan doa dalam kehidupan para romo, frater dan suster seperti yang ditampakan Vinsensius dengan memupuk sikap-sikap, baik dalam hidup komunitas maupun dalam melakukan karya pelayanan. Bersma itu pula akan didalami kebiasaan St. Vinsensius dalam memberikan latihan praktis berdoa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Kita memiliki seperangkat dokumen yang merangkum ajaran St. Vinsensius. Dokumen-dokumen tersebut akan menolong kita memasuki pemikirannya. Kedua dokumen itu ialah peraturan-peraturan bagi kedua serikatnya yang diterbitkan masing-masing tahun 1658 (untuk CM) dan tahun 1672 (untuk PK).<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Peraturan-peraturan tersebut mengungkapkan pangalaman-pengalaman orang-orang yang dibimbingnya selama beberapa puluh tahun. Vinsensius mendesak mereka supaya mengarahkan diri kepada Yesus, yang “telah sejak semula penuh rahmat dan kebijaksanaan” sebelum memulai karya pelayanannya di depan umum. Piere Coste, penulis riwayat hidup St. Vinsensius, mengatakan bahwa Vinsensius “tidak memisahkan kesucian pribadi dari karya-karya karitatif, sebab dalam kesucian itu terdapat kondisi jiwa dan penyerahan diri yang diperlukan” (C, I, 271). Karena itu dalam peraturan bagi Romo CM, Vinsensius menggambarkan Yesus sebagai Dia yanag mulai bekerja (dengan mendalami keutamaan) sebelum mengajar (CR, I). Puteri Kasih diarahkannya agar meneladani Yesus sebagai “model yang begitu sempurna”. Mereka dibina untuk “berjuang agar hidup serta bekerja sungguh-sungguh demi mencapai kesempurnaan; menyatukan latihan-latihan kehidupan rohani dengan karya cinta kasih Kristiani kepada orang-orang miskin, menurut peraturan sekarang ini. Mereka akan mencoba mematuhi peraturan ini dengan kesetiaan besar sebagai sarana yang paling menjamin pencapaian tujuan tersebut” (R, I).<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Seperti biasanya, Vinsensius mengungkapkan doa lewat gambaran-gambaran yang hidup. Dalam salah satu gambarannya ia mengatakan bahwa meditasi itu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:20.6pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Memusatkan pikiran kepada Allah, mengosongkan diri untuk mencari Allah dalam dirinya. Meditasi adalah percakapan antara jiwa dengan Allah, sebagai suatu hubungan rohani tempat Allah mengajarkan apa yang harus diketahui dan diperbuat jiwa. Dalam meditasi itu pula, jiwa menyampaikan permohonan kepada Allah seperti yang diajarkanNya. Meditasi itu suatu kesempurnaan agung. Hendaknya hal ini membuat kita lebih menghargai dan mencintainya daripada hal-hal lain </span></em><span>(D, 373).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Pada kesempatan lain, ia mengingatkan pula para romo CM bahwa doa merupakan suatu anugerah, yang manfaat utamanya “melawan hawa nafsu atau kecenderungan-kecenderungan buruk yang mencengkeram kita”. Dari sini, seorang maju “dengan tenang tanpa memusingkan diri pada aplikasi dan keinginan akan pemikiran yang terlalu mendetail, melainkan mengangkat jiwa kepada Allah dan mendengarkan Dia. Sepatah-kata dari Allah jauh lebih berarti daripada seribu penalaran serta spekulasi pengertian kita” (M, 49). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Bagi Vinsensius, doa – yang melampaui segalanya itu – merupakan inti sari, penuntun dan daya hidup spiritualitas. “Dibandingkan dengan udara yang sangat penting bagi hidup jasmani kita, doa jauh lebih penting bagi hidup kita,” katanya kepada para suster Puteri Kasih. Seperti orang akan mati jika tidak menghirup udara, “tidak mungkin seorang Puteri Kasih hidup tanpa doa” (D, 1145). “Sebagaimana tubuh tidak dapat hidup tanpa jiwa, demikian juga jiwa tidak dapat hidup tanpa doa” (D, 1147). Doa itu terus menghidupi dan memberi kesegaran. Doa itu “manna sehari-hari yang turun dari surga” guna memberi kesegaran (D, 358). Jiwa tanpa doa ibarat tumbuhan dalam taman yang layu di musim kemarau. Di lain pihak, kebiasaan doa setiap hari itu seperti “setetes embun yang menyegarkan jiwamu setiap pagai dengan rahmat Allah &#8230; suatu kesegaran yang senantiasa memberikan gairah kepadamu dalam segala perbuatanmu &#8230; Bagaikan seorang pengurus kebun melihat tanam-tanamannya bertumbuh bila diairi dengan baik, seorang Puteri Kasih akan <em>bertumbuh dalam kesucian hari demi hari</em> bila ia menyegarkan dirinya dengan ‘embun suci’ tersebut” (D, 538-59). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Penyegaran ini selanjutnya mengarah kepada pengertian yang lebih mendalam. Dalam konferensi ini, Vinsensius menyatakan bahwa doa membarui jiwa “lebih daripada apa yang disebut para filsuf sebagai ‘sumber kesegaran’. Dalam doa, jiwa yang layu karena kebiasaan-kebiasaan buruk, tumbuh penuh semangat; ia mendapatkan kembali pandangan yang hilang karena buta; telinga yang dulu tuli terhadap suara Tuhan kini terbuka akan ilham-ilham kudus, dan hati menerima kekuatan baru serta dijiwai dengan keberanian yang belum pernah dialami sebelumnya” (D, 372). Doa itu cermin bagi jiwa untuk melihat “apa yang menyenangkan Allah. Jiwa menempatkan dirinya agar sejalan dengan Allah dalam segala hal. Sebenarnya, Tuhan “membiarkan kita mengetahui apa yang seharusnya kita kerjakan atau kita hindari lewat doa kita &#8230; . Tidak ada perbuatan dalam hidup ini membuat diri kita lebih baik, atau menunjukan dengan lebih jelas kehendak Allah itu selain doa” (D, 371-72). Demikianlah suster tersebut akan berdandankan jubah cinta kasih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Suster ini telah memberikan cara yang tidak mungkin keliru untuk mengasihi Tuhan. Cara itu ialah berhadapan di hadapan Allah, dan itu benar, yang indah dan Allah dengan senang hati akan memandanginya (D, 1147-48). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Menurut pengertian St. Vinsensius, doa dan kegiatan pelayanan itu sedemikian utuh sehingga melalui hubungan timbal-balik di antara keduanya, doa dan karya kerasulan terpelihara. Ia menetapkan saat berdoa berdasarkan urutan sebagai kegiatan yang penting dan dilaksanakan secara bersama-sama. Bagi para romo CM, ia menentukan satu jam, masing-masing pada pagi hari dan menjelang malam (R, IX, ii dan iii). Santo Vinsensius menghargai permulaan dengan bangun pagi seketika, “dengan rajin, kemudian segera mulai bercakap-cakap dengan Allah &#8230; . Jangan mulai berdebat dengan kasurmu, dengan berguling di atas kasurmu, dengan berguling di atas kasur untuk mempertimbangkan apakan harus bangun&#8230;” (D, 1128-29). Untuk mengarahkan diri pada doa sepanjang hari itu, St. Vinsensius mendesak masing-masing supaya memusatkan perhatiannya kepada Allah melalui suatu doa persembahan kepada Allah sebagai awal kegiatannya. Katanya, “apakah yang terjadi dengan seorang suster yang sejak dini hari bekerja tanpa memikirkan hal-hal lain kecuali kesibukan pekerjaannya dan tanpa memikirkan Allah?” (D, 324). “Kita memberikan kepada Allah segala pikiran, perbuatan, dan segala yang ada pada diri kita &#8230; . Bahkan cukuplah jika kalian katakan , ‘ya Allah, aku mengasihiMu dengan seganap hatiku’. Sekiranya kalian melakukan itu, kalian memberikan kepada Allah buah-buah awal pikiranmu. Dan inilah yang Dia kehendaki darimu” (D, 157). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Pasti akan muncul pertanyaan mengenai konflik antara doa dan perbuatan. Tuntutan karya kerasulan bagi para romo CM dan suster PK sedemikian rupa sehingga kadang-kadang mereka tidak jadi berdoa atau melakukan latihan-latihan rohani lainnya hanya untuk memberi perhatian pada kebutuhan mendesak mereka yang sangat memerlukan. Dalam peristiwa-peristiwa semacam itu, St. Vinsensius memberi ijin menunda kesempatan berdoa. Hal ini bukanlah suatu pertentangan, melainkan suatu tanggapan terhadap kebutuhan mendesak orang-orang yang sakit dan miskin yang menuntut suatu prioritas. Dia mengatakan, “jika ada alasan yang dapat diterima” untuk menangguhkan doa, “inilah pelayanan untuk orang miskin” (D, 284). Atau, jika seorang suster tidak dapat berdoa pada tempat biasanya karena pergi mengunjungi orang-orang sakit, ia bisa berdoa sementara lewat ladang-ladang. Dan, jika di desa itu ia tidak menemukan tempat meditasi, atau lebih buruk lagi jika ia tidak dapat membaca, “renungkanlah misteri Tuhan kita &#8230; dan segala peristiwa lain sejak lahir sampai wafatNya”, tukas St. Vinsensius (D, 1136).<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Mengahadapi ketegangan antara memilih doa dan perbuatan, Santo ini memberikan jalan keluar dalam salah satu ungkapannya yang terkenal: “Meninggalkan Allah untuk Allah”. Pada saat seperti ini, doa dan pelayanan lebur menjadi satu: Kita mengalami Allah yang sama, baik dalam perbuatan seperti itu maupun dalam doa-doa resmi. “Oleh karena cinta kasih adalah ratu segala keutamaan, hal-hal lain harus memberikan tempat baginya”, tulis St. Vinsensius kepada seorang suster pimpinan (V, 247). Dalam konferensi lain ia mengatakan, “puteri-puteriku, ingatlah bahwa bila kalian meninggalkan doa dan misa kudus untuk melayani kaum miskin, kalian tidak kehilangan apa-apa, sebab melayani kaum miskin itu berarti pergi menghadap Allah. Karena itu hendaklah kalian bertemu denganNya dalam diri mereka” (D, 4). Ia juga tidak lepas dari pemikiran ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.9pt;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Jangalah kalian menyembunyikan dirimu. Juga jangan mengira telah gagal menaati peraturan jika kalian meninggalkan doa. Doa itu tidak berlalu begitu saja bila ditinggalkan untuk alasan yang masuk akal. Inilah pelayanan bagi para miskin. Meninggalkan Tuhan hanya demi Tuhan, artinya, meninggalkan satu pekerjaan untuk melakukan pekerjaan lain, entah dengan kewajiban atau jasa yang lebih besar, bukanlah meninggalkan Tuhan &#8230; sungguh suatu penghiburan besar bila seorang Puteri Kasih berpikir, ‘aku akan menolong orang miskin, maka Tuhan akan menerimanya sebagai ganti doa yang seharusnya kupanjatkan’. Biarlah ia pergi dengan gembira ke tempat Tuhan memanggilnya</span></em><span>.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:20.6pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span><span> </span>Dalam kesempatan apa pun orang tidak bisa meninggalkan doa. Meninggalkan doa dapat dilakukan sejauh “keadaan mendesak, atau kalau ketaatan menghendaki sebaliknya” (CR, X, 1; R, VIII, 1). Kita harus juga menggunakan penilaian dan pemahaman. Santo kita ini melihat adanya nilai bila seorang hadir pada waktu kegiatan-kegiatan rohani, terutama saat doa. Kepada seorang frater yang mengaku sering kali meninggalkan kegiatan-kegiatan rohani, St. Vinsensius mengatakan, “lain kali jangan lagi tidak mengikuti kegiatan-kegiatan rohani komunitas. Yakinlah frater, Anda tidak akan kehilangan apa-apa. Allah akan menyediakan waktu yang telah Anda gunakan untuk melayani Dia dengan tinggal di sini” (M, 196). Santo Vinsensius sangat menyadari resiko kelalaian. Tentang hal itu ia memberi nasihat kepada seorang pimpinan yang baru terpilih: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:20.6pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Hendaknya Romo menghadap Tuhan sambil berdoa agar Romo dapat menjaga rasa takut dan cinta akan Tuhan dalam hati Romo. Saya harus berkata kepada Romo dan Romo sendiri harus tahu, bahwa sering ada orang yang mengalami kebinasaan abadi, sementara orang lain dibantunya untuk memperoleh keselamatan. Ada orang yang berjalan baik bila mengurus dirinya sendiri; tetapi bila terlibat dalam karya orang lain, segera melupakan dirinya sendiri </span></em><span>(M, 213).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:20.6pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Orang demikian jelas tidak dapat disebut sebagai misionaris. Dan, St. Vinsensius bertanya, “apakah ia, yang melalaikan meditasi dan cara-cara rohani yang ditetapkan peraturan, dapat disebut sebagai misionaris? Tidak! Sebab ia tidak memenuhi syarat utama yaitu kesempurnaan dirinya. Sangat bijaksanalah bila seorang misionaris berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan Allah, karena dia mendapat panggilan yang tidak ada duanya, yaitu mengabdi kepada Tuhan seperti yang dilakukan dalam CM. Di samping itu dia telah menerima pula rahmat untuk menjawab panggilan itu berkat kebaikan Allah”(M, 394).<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Setelah menekankan kepentingan doa, Vinsensius memberikan metode untuk memudahkan latihan sehari-hari. Metode praktis yang diberikan itu ia peroleh dari pembimbing rohani, penasihat dan sahabat karibnya, St. Fransiskus de Sales. Pengaruh de Sales telah menyala dalam diri Vinsensius meskipun ia wafat pada awal karier Vinsensius. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Asal dan metode tersebut sudah dikenal banyak orang. Karena itu St. Vinsensius enggan untuk mengatakannya. Namun ternyata ia menyampaikannya dalam suatu konferensi tentang ‘doa’<span> </span>kepada suster-suster Puteri Kasih, “kalian sudah mengetahui bagaimana menggunakan metode ini, sebab kalian telah sering mendengarnya, bahkan mempelajarinya di luar kepala. Barangkali tidak ada gunanya bagiku menyampaikan kepadamu metode Fransiskus de Sales ini. Meski demikian saya akan menyampaikannya, karena itulah yang termudah” (D, 1148). Sebenarnya banyak konferensi rohani St. Vinsensius kepada CM dan PK yang membahas metode tersebut. St. Vinsensius juga menyinggung motif dan cara mempraktekan keutamaan, menaati peraturan dan bagaimana hidup seturut semangat apostolik. Ia memberikan niat-niat yang mungkin dapat dilaksanakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Maksud-maksud pribadi hendaknya tidak mempengaruhi maksud utama dari doa, yaitu mengikat jiwa kepada Allah “untuk menunjukan cinta kita kepadaNya” dan membiarkan Dia berbicara kepada kita “dari hati ke hati” (D, 1148). Dengan bangga St. Vinsensius mengutip kata-kata Uskup Jenewa, “ah, saya tidak akan pergi kepada Allah jika Ia tidak datang kepadaku”! (M, 141). Untuk memudahkan komunikasi dengan Tuhan, Vinsensius menyarankan penggunaan teknik-teknik secara benar. Misalnya, mengapa orang mengalami kesulitan pada permulaan doanya? Ini disebabkan karena ia kurang memiliki “perhatian terhadap persiapan sebelum berdoa” (D, 278). Mungkin juga karena kurang menjaga keheningan dan silentium. “Sabda Allah tidak dapat meresap dalam diri orang yang banyak bicara dan gaduh” (D, 715). Contoh lain ada orang yang hanya menuruti keinginan hatinya dengan angan-angan intelektual saja sehingga niat-niatnya tidak terlaksana. Santo Vinsensius menjawab dengan satu metafora. “Mengapa kita menyalakan api yang sudah menyala”? (M, 160). Ketika seorang romo mengatakan bahwa “ia secara khusus membaktikan dirinya melalui sikap-sikap afektif”, Vinsensius menjawab: </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><em><span>Itulah yang hendaknya kita lakukan selama meditasi. Artinya, hendaknya kita menggunakan sedikit waktu untuk merenungkan alasan-alasannya. Lebih baik kalau waktu meditasi kita gunakan untuk mengungkapkan kasih kita kepada Allah, untuk merendahkan diri dan untuk menyesali dosa, dan sebagainya. Mengapa kita terus sibuk mencari alasan yang meyakinkan, padahal kita sudah yakin mengenai bahan meditasi </span></em><span>(M, 244-45)?</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span>Menurut Vinsensius meditasi dapat mengarah pada kontemplasi. Ia berkata bahwa dalam kontemplasi:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Jiwa berdiam diri di hadapan Allah. Ia hanya menerima apa yang dianugerahkan Allah. Jiwa tidak berbuat apa-apa; Tuhan sendirilah yang memberikan inspirasi kepadanya meskipun jiwa tidak melakukan apa-apa. Para suster terkasih, penahkah kalian mengalami doa semacam in? Saya yakin bahwa dalam ret-ret selama ini kalian sering terpukau sebab Tuhan memenuhi jiwamu, sementara dari pihakmu tidak dituntut untuk berbuat sesuatu; kalian terpukau karena Tuhan menganugerahkan pengetahuan yang belum pernah kalian peroleh sebelumnya </span></em><span>(D, 374). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span>Menurut St. Vinsensius, doa tidak dapat dikatakan selesai sebelum menghasilkan niat-niat. Kepada para suster ia berkata, “melakukan doa tanpa menghasilkan niat-niat &#8230; tidak dapat disebut berdoa” (D, 1134). Meskipun demikian niat-niat tersebut tidak akan berarti jika kita tidak mempunyai saran untuk menerapkannya:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Bila kalian berniat menghindari sifat-sifat buruk atau berniat melakukan keutamaan, hendaknya kalian berkata dalam hati, “baiklah! Saya berniat melakukan ini dan itu meskipun sulit bagiku untuk melakukannya. Dapatkah aku melakukan itu hanya dengan kekuatanku sendiri? Tidak. Hanya dengan bantuan rahmat Allah saya berharap setia. Karena itu, baiklah kiranya saya menggunakan sarana ini</span></em><span> (D, 1134-35).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Ketika St. Luisa hendak memulai retret, Vinsensius mengatakan agar perlu membatasi niat-niat. Kepada St. Luisa ia menulis, “hendaknya Anda tidak terlalu banyak membuat niat-niat praktis tetapi bertekun melaksanakan niat-niat tersebut dalam tindakan dan tugas sehari-hari” (V, 86). Niat-niat yang dibuat hendaknya sesuai dengan kenyataan agar berarti. Ia menyinggung juga niat-niat praktis dalam suratnya kepada St. Luisa:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-37.4pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><em><span><span> </span>Kepada Anda saya kirimkan kembali niat-niat baik Madame N.; niat-niat itu akan menjadi lebih baik lagi seandainya lebih konkret. Mintalah supaya orang-orang yang mengikuti retret bersama Anda melakukan hal ini. Kalau kita mempertimbangkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan keutamaan, berarti kita hanya mencari kesenangan diri kita. Untuk mencapai keutamaan sejati, hendaklah kita secara bijaksana membuat niat-niat praktis dalam tindakan-tindakan nyata dan tetap setia melaksanakannya. Tanpa itu, keutamaan kita hanyalah angan-angan belaka </span></em><span>(V, 111).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:-37.4pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span>Niat-niat dibuat bukan untuk satu hari saja tetapi untuk mendukung ketetapan hati. Dalam suatu konferensi bertemakan ‘kesetiaan di tengah percobaan’, Vinsensius bertanya kepada seorang suster mengenai sarana yang tepat untuk melawan godaan. Suster itu menjawab, “membaca kembali niat-niat kita yang telah kita buat selama retret”. Dengan penuh kegembiraan St. Vinsensius menanggapi:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-37.4pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><em><span><span> </span>Oh, puteri-puteriku, inilah saran yang jitu! Itulah pikiran Allah yang sampai kepada kita sewaktu kita berhubungan denganNya secara mesra. Inilah bekal yang Ia berikan kepada kita waktu kita membutuhkan. Oleh sebab itu baiklah kiranya kalau kita menyimpan bekal itu bersama-sama agar dapat kita gunakan pada waktu membutuhkannya &#8230; . Pasti kalian tahu bahwa dengan sarana ini kalian dapat melanjutkan kembali apa yang telah kalian mulai</span></em><span> (D, 319). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:-1.4pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-1.4pt;"><span>Sehubungan dengan metode doa dan kepentingan niat-niat praktis, St. Vinsensius memberi praktek ketiga untuk memupuk semangat doa kedua serikatnya. Praktek ketiga ini dikenal dengan istilah ‘sharing’. Ia melukiskan sharing sebagai “salah satu sarana terpenting untuk saling menguatkan devosi kita” (M, 436). Sharing ini merupakan suatu pengungkapan pikiran yang dialami seseorang selama berdoa. Sharing ini dilakukan oleh beberapa anggota komunitas setempat yang berkumpul dalam suatu konferensi rohani. Mereka yang hendak mengungkapkan pikirannya ditunjuk secara acak. Berdasarkan teori, praktek ini bukan melulu pengungkapan ide-ide tetapi suatu uraian mengenai dorongan Roh Kudus dalam doa pribadi. Praktek ini merupakan bagian integral dari konferensi St. Vinsensius yang ia sampaikan secara <em>ajeg</em>. Praktek ini juga dasampaikan oleh superior setempat yang memimpin konferensi. Dalam melakukan ini, pertama-tama Santo kita memanggil beberapa suster (atau romo atau frater) untuk menceritakan apa yang timbul dalam pikiran mereka ketika merenungkan bahan meditasi. Praktek semacam ini kadang-kadang menimbulkan suatu dialog yang mempertajam dan memperjelas suatu tema. Pengalaman tiap-tiap orang dalam hal ini dapat menjadi katekese bahwa ternyata ada begitu banyak cara untuk berdoa dan membuka diri terhadap tindakan Roh Kudus. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-1.4pt;"><span><span> </span>Santo Vinsensius dengan senang hati mendengar pemikiran apa saja yang diutarakan tiap-tiap orang meski sederhana sekalipun. Vinsensius menyatakan bahwa ada cukup banyak orang yang mengungkapkannya, </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-1.4pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 18.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><em><span>dengan cukup sederhana terang yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, sesuai dengan karunia masing-masing &#8230; Jika seseorang tidak sanggup mengungkapkan hasil meditasi karena tidak mendapat ide-ide selama doanya, baiklah, lain waktu mohonlah kepada Tuhan supaya ia menganugerahkan kepadanya apa yang pantas untuk diungkapkan </span></em><span>(M, 390).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Santo Vinsensius kerap bersyukur kepada Tuhan, “oh, suster! Anda benar. Ya Penyelamatku, terpujilah Engkau karena Engkau telah menyampaikan pikiran demikian kepada suster kami” (D, 655). “Puteriku, bukan engkau yang mengatakan, tetapi Roh Kuduslah yang menaruh kata-kata itu dalam mulutmu” (D, 692).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Kini sampailah kita pada puncak pembahasan mengenai St. Vinsensius dan doa. Ada dua ucapan Vinsensius yang pantas kita kutip. Keduanya disampaikan masing-masing kepada romo-romo CM dan suster PK. “<em>Mereka yang berdoa dengan baik dapat diketahui bukan dari cara menyampaikan doa-doanya, tetapi dari tindakan dan sikap-sikapnya; sebab tindakan dan sikap mereka menunjukan buah-buah doa yang mereka peroleh </em>&#8230;” (V, 77). Dan, “<em>hendaknya kalian membawa dua jenis makanan kepada para miskin, yaitu makanan untuk tubuh dan makanan untuk jiwa. Artinya, hendaknya kalian menyampaikan beberapa patah kata saja, yaitu buah-buah meditasimu </em>&#8230;” (D, 527). Kata-kata di atas menunjukan pandangan integral St. Vinsensius tentang doa dan pelayanan. Doa merupakan prasyarat untuk hidup dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan. Pada bagian akhir tulisan ini kita akan mendalami apakah yang disebut sebagai <em>buah-buah doa</em>. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Buah-buah doa adalah sikap-sikap khas yang menjadi tanda dari putera-puteri St. Vinsensius. Banyaknya tidak terhitung, namun untuk alasan praktis; kami membatasi diri pada empat buah: Hidup rohani, berjalan di hadapan Allah, nasihat-nasihat Yesus Kristus, dan Penyelenggaraan Ilahi.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span>Hidup Rohani</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Di akhir kedua konferensinya mengenai keutamaan-keutamaan St. Luisa (yang disampaikan sesudah wafat St. Luisa), St. Vinsensius menanyakan kepada para suster sejauh mana mereka memahami keutamaan-keutamaan St. Luisa. Seorang suster menjawab: “Ia memiliki hidup rohani yang baik dan Allah memenuhi seluruh pikirannya.” Santo Vinsensius puas dengan jawaban itu. Katanya:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><em><span>Ya, jiwanya selalu terarah kepada Allah. Hal ini karena ia telah cukup lama membina suatu devosi mendalam di dalam dirinya. Hidup rohani tercapai dengan cara melepaskan diri dari keterikatan pada dunia, orang tua, negara dan hal-hal duniawi lain &#8230; Para Suster, seorang suster yang memberikan dirinya hanya kepada Tuhan, dia itulah yang memiliki hidup rohani. Karena apakah artinya hidup rohani bila bukan membiarkan Allah memenuhi seluruh diri kita</span></em><span>? (D, 1263-64).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Santo Vinsensius terus mendorong para romo CM “supaya memiliki hidup rohani yang baik untuk membangun kerajaan Yesus Kristus dalam diri kita” (M, 310). Jadi “hidup rohani” dapat disamakan dengan pangabdian diri sepenuhnya kepada karya Allah. Hal itu menjadi jelas ketika ia mengajak, “marilah berusaha memiliki hidup rohani untuk menghayati semangat <em>mengabdi Allah</em> secara luhur dan kudus &#8230; Bukan kita yang memiliki diri ini melainkan Dialah yang memilikinya. Jika Ia memberikan kepada kita lebih banyak pekerjaan, Ia juga akan menguatkan kita” (M, 402). Ia menegaskan hal ini dalam suatu konferensi yang menyinggung keluhan tentang terlalu banyak pekerjaan yang diemban Kongregasi Misi. Pada kesempatan sebelumnya, sambil menceriterakan kepada romo dua suster yang wafat di Calais karena merawat para serdadu yang terluka, St. Vinsensius menandaskan, “pada hari penghakiman, kedua suster itu akan menjadi hakim kita seandainya kita tidak bersiap diri mengurbankan hidup kita demi Tuhan, seperti yang telah mereka perbuat. Percayalah, ia yang belum mencapai tahap ini, masih jauh dari kesempurnaan” (M, 291-92). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span>Kebiasaan Menghayati Kehadiran Allah</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Kesadaran bahwa kita berjalan di hadapan Allah itu juga dapat memupuk hidup rohani. Dari pengalaman seorang suster yang diungkapkan dalam suatu sharing, St. Vinsensius mengatakan: “<em>Semakin sering kita bertemu dengan orang baik, semakin besarlah cinta kita kepada orang tersebut. Nah, jika Allah senantiasa ada di depan kita – sebab Dialah kebaikan dan kesempurnaan – tentu semakin besarlah cinta kita kepadaNya, karena sering berhadapan denganNya</em>” (D, 420). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Kebiasaan menghayati kehadiran Allah terus-menerus itu dapat digunakan sebagai cara untuk tetap sadar. Karena itu St. Vinsensius mencantumkannya dalam Peraturan dan kebiasaan-kebiasaan kedua komunitas. Oleh karena itu usaha agar pikiran kita yang pertama saat bangun pagi terarah kepada Allah dan kebiasaan mempersembahkan kepada Allah seluruh kegiatan kita sejak pagi itu memberi arah dan dasar seluruh hari. Langkah pertama bermeditasi ialah menempatkan diri secara sadar di hadapan Allah untuk membangun komunikasi denganNya. Setiap kegiatan rohani kita awali dengan doa kepada Allah. Demikian pula lonceng jam dinding yang berbunyi secara teratur membantu kita untuk menyadari kembali kehadiranNya (lih., CR, X; R, IX).<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span>Nasihat-nasihat Yesus Kristus</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>“Nasihat-nasihat Yesus Kristus” merupakan pusat pemikiran Vinsensius. Hal ini tampak jelas dalam Peraturan Umum Kongregasi Misi dan Puteri Kasih (CR, II; R, I, V).<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Nasihat-nasihat itu menunjuk pada nilai-nilai yang diperjuangkan Yesus Kristus, sekaligus yang dituntutNya dari para pengikutNya. St. Vinsensius menyebutnya dengan istilah “Mengenakan Semangat Yesus Kristus dalam diri kita” (4, 411). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Untuk melaksanakan nasihat-nasihat Yesus Kristus, St. Vinsensius memberi kita sarana. Yang pertama ialah membaca Injil “dengan penuh perhatian dan ketulusan”, terutama baba kelima, keenam, ketujuh dan kesepuluh dari Injil Matius (M, 427). Harus diingat bahwa setiap nasihat Tuhan merupakan bahan yang cocok untuk doa-doa pribadi. Ia mengingatkan bahwa sarana paling efektif ialah mengenang kembali bahwa sejak awal Kongregasi Misi mempunyai keinginan untuk mengikuti Tuhan secara penuh dengan mengikuti apa yang dikerjakanNya sendiri melalui ketaatanNya kepada nasihat-nasihatNya. Kita melakukan ini untuk menggembirakan Allah Bapa seperti Yesus menyenangkan BapaNya. Di samping itu kita ingin berguna bagi Gereja Yesus dengan terus-menerus berjuang untuk maju dan menyempurnakan diri di dalamnya &#8230; (M, 427).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Akhirnya, St. Vinsensius merangkum nasihat-nasihat Yesus Kristus dalam keutamaan-keutamaan yang menjadi ciri khas kedua serikatnya. Bagi CM, keutamaan-keutamaan itu meliputi kesederhanaan, kerendahan hati, kelembutan hati, matiraga dan semangat untuk penyelamatan jiwa-jiwa. Kelimanya ia gambarkan sebagai “kelima batu Daud yang akan mengalahkan Goliat dengan sekali lemparan dalam nama Allah” (CR, XII, 12). Sedangkan untuk PK, keutamaan mereka ialah kerendahan hati, kesederhanaan dan cinta kasih. Dia mendorong mereka untuk melaksanakan seluruh kegiatan rohani, sambil menggabungkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri selagi masih hidup di dunia (R, I, iv).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span>Penyelenggaraan Ilahi</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Tidaklah terlalu membesar-besarkan kiranya bila dikatakan bahwa gagasan tentang Penyelenggaraan Ilahi memenuhi pikiran St. Vinsensius dan merupakan bagian integral percakapannya sehari-hari. Karena dirasa penting, ia memasukan gagasan tersebut dalam Peraturan kedua serikatnya. Misalnya, para suster PK didorong untuk “memiliki penyerahan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, menyerahkan diri tanpa syarat, seperti seorang bayi kepada pengasuhnya &#8230; (R, I, viii; lihat pula, CR, II, 2-3). “Puteri-puteriku,” katanya, “sebenarnya saya tidak tahu apa artinya seorang Puteri Kasih yang tidak memiliki keyakinan pada Penyelenggaraan Ilahi” (D, 1076). Kepada para romo CM ia berpesan, “melakukan kehendak Allah adalah jiwa serikat kita dan merupakan salah satu kebiasaan yang paling perlu kita cintai” (M, 338).<span> </span><strong><span> </span></strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Dari Kitab Suci Santo kita ini memperoleh pandangan itu. Pandangannya itu menggerakan dirinya untuk senantiasa percaya kepada Tuhan:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Kita tahu bahwa Tuhan itu baik. Ia mengasihi kita dengan penuh kelembutan. Ia menghendaki kesempurnaan dan keselamatan kita. Ia memikirkan jiwa dan tubuh kita. Ia bermaksud memberikan kepada kita apa yang kita cari sewaktu kita membutuhkan &#8230; Jika Ia memimpinmu melalui jalan-jalan keras seperti salib, penyakit, kesedihan, penyangkalan diri, biarlah Ia melakukannya. Marilah kita menyerahkan diri dengan sikap lepas bebas kepada Penyelenggaraan IlahiNya. Marilah menyerahkan penderitaan-penderitaan itu kepada Tuhan; Ia mengenal cara mendapatkan kemuliaan lewat penderitaan-penderitaan dan menggerakan segalanya serentak demi kebaikan kita, sebab Ia mengasihi kita lebih daripada bapak mana pun mengasihi anaknya </span></em><span>(D, 1074).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Meskipun sederhana, kata “Penyelenggaraan Ilahi” mengandung banyak unsur. Pengertian ini merangkum banyak keutamaan: Ketaatan, sikap pasrah, dan pengharapan, kesiap-sediaan dan suka cita. Itu hanya sebagian kecil. Sekaligus St. Vinsensius menghubungkan praktek ketaatan dengan “Penyelenggaraan Allah yang Mahasuci”. Bila seorang suster dirasakan penting untuk dipindah dari satu rumah ke rumah lain, hendaknya ia menanggapinya penuh ketaatan “karena penyelenggaraan Ilahi telah mengaturnya sedemikian rupa &#8230; Percayalah bahwa Penyelenggaraan Ilahi memelihara hidupmu”. Santo Vinsensius juga menyerukan: “<em>Hendaknya kalian memiliki devosi sedemikan besar kepada Penyelenggaraan Ilahi, sebesar keyakinan dan kasih yang ada di dalamnya. Seandainya Penyelenggaraan Ilahi belum memberikan nama Puteri Kasih kepadamu, hendaknya kalian menamakan diri Puteri Penyelenggaraan Ilahi, karena olehNya kalian ada</em>” (D, 67). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Jika kia merangkum ajaran St. Vinsensius mengenai Penyelenggaraan Ilahi, kita dapat merumuskan dalam dua kata: <em>Keberhasilan dalam karya </em>dan <em>kelangsungan hidup</em> baik pribadi maupun bersama. Namun, tidak seorang pun dapat menjamin keberhasilan karya kerasulan apalagi menjamin ketekunannya sampai akhir. Tidak seorang pun mampu menjamin kelangsungan hidup serikat. Tetapi, berkat kepercayaan dan Penyelenggaraan Ilahi, St. Vinsensius berani menjamin bahwa Cinta, Kehendak dan Kebijaksanaan Allah akan menyertai putera-puteri St. Vinsensius sepanjang sejarah bila mereka setia pada tugas perutusan mereka dan bila mereka berguna bagi rencana Ilahi. Pada dasarnya, ada pula kedamaian hati bagi mereka yang menyesuaikan diri dengan Kehendak Allah. “Tidakkah Romo-romo lihat, bagaimanakan mereka yang bersikap lepas bebas dapat berhasil dalam karya mereka? Romo akan menyaksikannya besok, pekan ini, sepanjang tahun bahkan sepanjang hidup mereka. Mereka penuh dengan ketenangan dan semangat serta terus-menerus mengarahkan diri kepada Allah sambil manaburkan buah-buah karya Allah di tengah jiwa-jiwa” (M, 367). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Jalan menuju <em>keberhasilan dalam karya </em>bagi kedua serikat itu, menurut St. Vinsensius, adalah keyakinan teguh dalam melaksanakan Kehendak Allah yang ternyata merupakan “jiwa serikat kita”, seperti yang dituturkannya kepada para romo CM:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Masing-masing sarana kesempurnaan yang mudah, bermutu dan tidak mungkin keliru, sehingga segala tindakan kita bukan lagi tindakan manusia atau malaikat, melainkan tindakan Allah sendiri. Ini karena segalanya kita kerjakan dalam Dia dan melalui Dia. Sungguh suatu kehidupan yang indah! Oh, Romo, sungguh indahlah hidup para misionaris yang demikian! Alangkah baiknya Kongregasi Misi bila cara ini mendasari hidupnya</span></em><span>! (M, 338).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span>Kepada para suster Puteri Kasih ia sampaikan juga harapan serupa:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;margin:0 20.6pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span>Oh, terpujilah Allah! Kita dapat berharap bahwa serikat ini bergantung pada Penyelenggaraan Ilahi dan tidak mencampuri bimbingannya &#8230; Biarlah dirimu dibimbing Penyelenggaraan Ilahi, meskipun segalanya tampak kurang jelas; dan kalian akan lebih banyak mengharapkan penyertaan Allah. Allah akan mengubah segalanya demi kebaikanmu </span></em><span>(D, 1080). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-right:20.6pt;text-indent:0;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Kita yang mengenal St. Vinsensius tahu bahwa dia sendiri merupakan figur orang yang bergantung pada Bapanya. Bagi St. Vinsensius, Yesus Kristus adalah model utama yang senantiasa bersama BapaNya. Bapa itulah yang membimbingNya menurut KehendakNya. Bapa mengenakan pada Yesus kemuliaan yang agung. Dengan doanya, St. Vinsensius mengarahkan putera-puterinya yang masih menempuh perjalanan ini. Ia memohon agar Tuhan Yesus “menganugerahkan rahmatNya kepada kita dalam segala situasi agar kita selalu berada dalam bimbingan Allah yang menuntun kita di hadapanTakhta IlahiNya” (M, 368).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Meskipun menangani banyak karya, St. Vinsensius tetap manusia pendoa. Dia juga mampu melakukan “segalanya”, seperti dalam ungkapannya. Tulisan ini menyinggung ucapan-ucapan St. Vinsensius tentang doa dan buah-buahnya; namun, sedikit sekali menyinggung hidup doanya. Hal ini terutama karena St. Vinsensius segan menceritakan hidup rohaninya, sehingga kita hanya menangkap apa yang dikatakannya selain tulisan-tulisan, baik konferensi maupun surat-suratnya. Kita tidak perlu meragukan hidup rohaninya meskipun ia segan menceritakannya (V, 271) karena ia terkenal setia dengan praktek-praktek tersebut sambil memanfaatkan segala bantuan untuk memupuk hidup doa. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Perhatian utama kita di sini ialah mencari garis besar pandangan St. Vinsensius tentang doa serta hubungannya dengan karya kerasulan. Ia tidak pernah melepaskan pandangan ini: Jika karya kerasulan tidak dijiwai oleh doa, pelayanan itu tidak berarti, bahkan hanya kepura-puraan. Supaya karya kerasulan itu benar-benar menjadi suatu pewartaan dan pelayanan kepada Yesus, hendaknya kita mengenalNya terlebih dahulu, terutama lewat doa. Baru sesudah itu kita dapat berharap meneladani, merenungkan dan berjumpa denganNya di tempat kita masing-masing, terutama dalam diri para miskin, lalu menjadikan Yesus sebagai nilai yang paling dominan dalam hidup kita. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span><span> </span>Dalam hidup St. Vinsensius, Yesus Kristus merupakan nilai tertinggi. Dialah pembimbing St. Vinsensius yang menangani banyak karya kerasulan. Sebagai penutup, marilah melihat peristiwa akhir hidup St. Vinsensius yang juga berkenaan dengan doa dan karya pelayanan. Sebelum meninggal, St. Vinsensius mencoba mengulangi dan mengungkapkan doa yang disampaikan sahabat-sahabatnya. St. Vinsensius mengucapkan kata yang ternyata mengandung seluruh pandangan dan sekaligus pusat hidup dan karyanya. Kata itu ialah <strong><em>Yesus</em></strong> (C, III, 397).<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-indent:0;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:-1.4pt;margin:0 20.6pt 0.0001pt 37.4pt;"><span><span> </span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>*</span></span></span></a><span>Diterjemahkan dari: “St. Vincent’s Legacy: Prayer, The Soul of Ministry”, dlm., <em>Vincentian Heritage</em>, 1981, Vol. II, p. 3-32; oleh Rafael Isharianto, CM.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Kutipan-kutipan sumber berasal dari teks-teks terjemahan dalam bahasa Inggris, antara lain: Piere Coste, CM., <em>The Life And Works of St. Vincent de Paul</em>, 3 vols., terj. Joseph Leonard, CM., The Newman Press, Westminster, 1952 (C, I, II, III); <em>Conferences of St. Vincent de Paul (to the Congregation of the Mission)</em>, terj. Joseph Leonard, CM., Philadephia, 1963 (M); Joseph Leonard, CM., (terj.),<em> The Conferences of St. Vincent de Paul to the Daughters of Charity</em>, edisi intern, 1979 (D); Joseph Leonard, CM., (terj.), <em>St. Vincent de Paul And Mental Prayer: A Selection of Letters and Addresses</em>, Burn &amp; Oates and Washbourne, London, 1952 (V); <em>Common Rules and Constitution of the Congregation of the Mission (CR): Rules of Daughters of Charity, Servants of the Sick Poor (R).<span> </span></em></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Dua belas tahun sejak Vinsensius wafat, tidak ditemukan peraturan bagi PK. Namun, PK telah memiliki peraturan-peraturan sederhana sejak tahun 1633 yang masih sangat sederhana. Peraturan ini lambat-laun disempurnakan menjadi suatu yang tetap, meskipun belum ditulis untuk digunakan secara meluas. Vinsensius menggunakan formulasi ini dalam konferensi-konferensinya bertemakan <em>Peraturan</em> sejak 29 September 1655 dan berakhir pada 25 November 1659. Keterangan lebih lanjut tentang perkembangan peraturan bagi PK, lih., Coste, I, 369-372.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Perhatian serupa diberikan kepada Perkumpulan Cinta Kasih yang sudah sejak semula dilatih “berjuang mencapai kesempurnaan Kristiani dan kesempurnaan yang sesuai dengan keadaan mereka: Mereka hendaknya bermeditasi sedikitnya setengah jam, mengikuti misa kudus, membaca buku Introducton à la vie dévote (Pengantar menuju Kesalehan Hidup) atau Traité de l’amour de Dieu (Uraian Tentang Cinta Allah); mereka hendaknya mengadakan pemeriksaan batin setiap hari secara umum, mengaku dosa dan menerima komuni suci sedikitnya seminggu sekali”. Kutipan dalam C, I, 271.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Banyaknya suster yang buta huruf menjadi masalah yang harus ditangani St. Vinsensius. Berkenan dengan hal itu ia menasihatkan, “akan sangat baik bila suster tersebut memiliki beberapa gambar kecil tentang misteri hidup Tuhan kita. Saya mohon Mlle. Le Gras mengatur supaya para suster yang tinggal jauh dari sini dapat memiliki gambar-gambar tersebut jika mungkin. Bila kalian pergi berdoa, biarlah mereka yang tidak dapat membaca mengambil bahan-bahan kecil dari gambar-gambar kecil itu &#8230; . Para suster, seandainya kalian tahu betapa banyak orang suci memperoleh rahmat tanpa belajar! Janganlah kalian kecewa karena tidak dapat membaca. Mungkin mereka yang tahu sedikit, berdoa jauh lebih baik daripada mereka yang tahu banyak” (D, 1136). Lihat: D, 191-92 di mana ia menasihatkan para suster yang tidak dapat membaca agar merenungkan sengsara Tuhan yang “dapat menganugerahkan kesegaran setiap hari”. Dari manakah para kudus mendapatkan pengetahuan? “Saliblah buku kudus dari mereka. Kalian akan maju bila membiasakan diri bergaul dengannya &#8230; dan kemudian kalian akan dapat berdoa meskipun tidak dapat membaca”. Lihat juga, D, 28.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>D, 284-85; lih., D, 190, 719, 1107; V, 269. </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Santo Vinsensius menyampaikan peringatan yang sama kepada para suster, “seorang suster Puteri Kasih akan maju hidup rohaninya, bila ia berdoa secara pantas. Ia tidak akan berjalan, melainkan berlari di jalan Tuhan dan mencapai tingkat kesempunaan cinta Allah. Sebaliknya, seorang suster yang tidak berdoa, atau berdoa tidak secara pantas, hampir tidak akan mengalami kemajuan. Ia mengenakan busana Puteri Kasih namun tidak memiliki semangat seorang Puteri Kasih” (D, 1147).<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Kepada Romo Durand, seorang superior di Agde, Vinsensius mengatakan, “bagi seorang pewarta Injil, doa merupakan buku utama” (V, 210). Santo Vinsensius juga mengajarkan kesederhanaan dalam cara berdoa. Ajarannya itu dikenal dengan istilah ‘Metode Kecil’. Lih., M, 161 dan seterusnya, mengenai konferensi bertemakan kotbah. Untuk pembahasan lebih lengkap tentang pembaruan kotbah oleh St. Vinsensius, lih., Coste, II, bab XXXII.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih.,. D, 752ff; M, 520ff, dalam konferensi yang membicarakan nasihat-nasihat Yesus Kristus.<span> </span></span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=22&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/santo-vinsensius-dan-doa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Panggilan Vinsensian: “Expectatio Israel” (Exegese)</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-panggilan-vinsensian-%e2%80%9cexpectatio-israel%e2%80%9d-exegese/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-panggilan-vinsensian-%e2%80%9cexpectatio-israel%e2%80%9d-exegese/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 13:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[doa vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Armada Riyanto, CM Pengantar§ Doa Expectatio Israel adalah doa panggilan. 224 tahun sesudah St. Vinsensius wafat, doa ini diciptakan dan diresmikan sebagai doa memohon panggilan pekerja-pekerja di ladang Tuhan bagi “Serikat Kecil” Kongregasi Misi dan Puteri Kasih. Penciptanya adalah Romo Superior Jenderal A. Fiat, CM., ( 1878-1914). Tahun 1884, sebagaimana termuat dalam Annales de [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=21&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Oleh: Armada Riyanto, CM</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pengantar</span><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span></strong></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Doa <em>Expectatio Israel</em> adalah doa panggilan. 224 tahun sesudah St. Vinsensius wafat, doa ini diciptakan dan diresmikan sebagai doa memohon panggilan pekerja-pekerja di ladang Tuhan bagi “Serikat Kecil” Kongregasi Misi dan Puteri Kasih. Penciptanya adalah Romo Superior Jenderal A. Fiat, CM., ( 1878-1914). Tahun 1884, sebagaimana termuat dalam <em>Annales de la Congregatie </em>Tome XLIX hal 323-324, Bapa Suci Paus Leo XIII menganugerahkan indulgensi</span><span id="more-21"></span><span> 200 hari sekali sehari kepada anggota keluarga Vinsensius, CM dan PK yang dengan kebaktian dan hati yang bertobat mendoakannya untuk pekerja-pekerja yang baik di ladang Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Expectatio Israel<span> </span></span></strong><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Salvator eius in tempore tribulationis</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span><span> </span>Propitius de caelo respice, vide et</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span><span> </span><strong><span> </span></strong>visita vineam istam, rivos ejus inebria </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span>multiplica genimina ejus, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>et perfice</span><span> </span><span>quam plantavit dextera tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>Messis</span><span> </span><span>qiudem multa, operarii autem pauci.</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span><span> </span>Rogamus ergo te Dominum messis,</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span><span> </span><span> </span>ut mittas operarios in messem tuam.</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span><span> </span>Multiplica gentem et magnifica</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span></span><span><span> </span></span><span>laetitiam ut aedificentur muri Jerusalem.</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span><span> </span><span> </span>Domus tua haec, Domine Deus, Domus tua haec; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>non sit in ea, queso, lapis quem </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>manus tua sanctissima</span><span> </span><span>non posuerit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>Quos autem vocasti, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>serva eos in nomine tuo </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span>et sanctifica</span><span> </span><span>eos in veritate. Amen</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span><span> </span>Sancte Joseph, ora pro nobis,<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span><span><span> </span></span><span>Sante Vincenti, ora pro nobis.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Ya Harapan Israel</span></strong><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Sang Penyelamat di saat yang sulit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>pandanglah dengan belas kasih dari surga,<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>lihatlah dan kunjungilah ladang anggurMu</span><span>,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>alirilah kali-kalinya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>pergandakanlah bibit mudanya</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>dan selesaikanlah apa yang Kau tanam dengan</span><span> </span><span>tanganMu sendiri</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Panenan memang berlimpah,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>namun sedikitlah pekerjanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Karena itu</span><span>,</span><span> kami</span><span> </span><span>mohon kepadaMu yang empunya panenan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>agar Engkau mengutus pekerja-pekerja ke panenanMu</span><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Perlipatgandakanlah bangsa ini </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>dan datangkanlah</span><span> </span><span>suka</span><span>cita</span><span> yang lebih besar, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>agar dibangunlah benteng Yerusalem</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Ini rumahMu, ya Tuhan, ini rumahMu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>jangan ada batu di</span><span> </span><span>sana yang tidak Kau pasang sendiri dengan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>tanganMu yang Mahasuci. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Adapun yang telah Kau panggil, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>jagalah mereka dalam namaMu </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>dan kuduskanlah mereka dalam kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Amin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Santo Yoseph, doakanlah kami</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span>Santo Vinsensius, doakanlah kami.</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Doa <em>Expectatio Israel</em> tidak berasal dari St. Vinsensius, pun tidak dari jaman ketika St. Vinsensius hidup. Maka, dapat dikemukakan beberapa soal: Apa arti doa <em>Expectatio Isarel</em>? Mengapa doa ini dimunculkan? Adakah doa ini diinspirasikan oleh semangat, gagasan, sikap dasar pendiri, ataukah hanya sekedar memenuhi tuntutan kebutuhan pada waktu itu (pada waktu doa ini dibat)?<span> </span>Bagaimanakah pandangan pendiri tentang doa mohon panggilan? Apa arti doa mohon panggilan ini <em>bagi keluarga Vinsensius</em>? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk mencurigai sekitar kemunculan doa <em>Expectatio Israel</em>, melainkan justru untuk mengungkapkan penghargaan yang tinggi sekaligus sikap hormat dalam upaya menggali warisan tak ternilai kongregasi yang hingga sekarang masih tetap aktual. Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan itu pula, tulisan ini hendak menggapai pengertian yang benar tentang doa indah <em>Expectatio Israel</em>, menyelamai kedalaman makna ungkapan-ungkapannya, dan menghayati semangat yang diinspirasikannya dalam kita menjawab panggilan Tuhan sebagai anggota keluarga Vinsensius pada umumnya, dan sebagai anggota “Serikat Kecil” CM dan PK pada khususnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<h1><span>I. Mangapa Doa Panggilan</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Santo Vinsensius “tak berani” memohon panggilan bagi serikatnya. Ia sangat yakin panggilan dalam serikatnya sama-sekali tergantung dari Tuhan. Tuhan yang mendirikan, Tuhan pulalah yang memimpin, meneruskan, dan menjaga kelestarian hidup serikat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:18.7pt;"><span><span> </span>“&#8230;, siapakah yang mendirikan serikat ini? Siapakah yang memberi tugas kepada kami untuk pergi ke misi, mempersiapkan para calon imam, memberi konferensi-konferensi, mengadakan retret-retret, dan sebagainya? Apakah saya? Juga, apakah Romo Portail yang sejak awal dikehendaki Tuhan untuk bekerja sama dengan saya? &#8230; Jadi, siapakah yang menjadi sebab semuanya ini? Tuhan, ya semua ini karena penyelenggaraan Ilahi Bapa Surgawi dan kebaikanNya yang murni” (XI, 38).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Juga, “semua orang di dunia ini berpendapat bahwa serika kita berasal dari Allah” (XII, 90).<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Keyakinan dasar St. Vinsensius ini membawa dirinya pada pandangan dan sikap teguh untuk senantiasa menyandarkan segala-galanya kepada penyelenggaraan ilahi. Bulla <em>Salvatoris nostri</em><strong> </strong>12 Januari 1633 yang merupakan surat resmi pengesahan kehadiran CM oleh Paus Urbanus VIII, demikian dikutip Romo van Winsen, menegaskan keyakinan dasar St. Vinsensius ini.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sedemikian besar penyerahan diri pada kehendak Tuhan sampai St. Vinsensius tidak pernah merasa tergesa-gesa untuk segera memperluas dan menyebarkan anggota-anggota Serikat Kecilnya. Surat kepada Romo Portail 16 Oktober 1635 menunjukan sikap teguh penyerahan diri Vinsensius itu. “Ah, Romo, betapa saya cemas di hadapan jumlah yang besar dan di hadapan perkembangan. Dan betapa kita mempunyai alasan untuk memuji Allah, karena Dia memberi kesempatan kepada kita untuk menghormati jumlah kecil para pengikut PuteraNya”.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Santo Vinsensius menyerahkan pertambahan jumlah anggota-anggotanya melulu kepada penyelenggaraan Tuhan. Dia tidak tergesa menyambut gembira usaha-usaha untuk menambah jumlah anggotanya jika belum sedemikian jelas selaras dengan kehendak Tuhan. Bahkan juga, sesudah pendirian Seminarium Internum pertama tahun 1637 di Zaint-Lazare, masih kita jumpai surat Vinsensius yang mengungkapkan pandangan tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya; tak sedemikian berminat untuk mengusahakan pertambahan pekerja-pekerja di ladang Tuhan dalam Serikat Kecilnya.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tak dijumpai doa-doa atau devosi-devosi yang dimaksudkan untuk memohon panggilan bagi Kongregasi Misi, apalagi aksi panggilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Tetapi, pandangan teguh dan suci St. Vinsensius ini mengalami perkembangan pada masa-masa 1650-an.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Tanggal 12 Nopember 1655, dalam suratnya kepada Romo Etienne Blatiron, Superior Genoa-Italia, St. Vinsensius mengungkapkan isi hatinya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;"><span>“Saya bersyukur kepada Tuhan karena devosi yang tidak biasa yang telah Romo rencanakan sendiri untuk diadakan dengan maksud memohon kepada Tuhan lewat perantaraan St. Yoseph bagi perluasan serikat. Saya sendiri sangat memohon kebaikan ilahiNya agar sudi menerima kebaktian-kebaktian itu. Selama lebih dari 20 tahun saya <em>tidak berani</em> berdoa memohon perluasan kongregasi, sebab saya berpikir jika kongregasi ini karya Tuhan sendiri, maka kelestarian maupun perkembangannya pulalah, diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Tetapi sekarang, setelah merenungkan pesan Tuhan yang diberikan dalam InjilNya untuk selalu memohon pekerja-pekerja bagi panenannya, saya menjadi yakin betapa perlu dan berguna kebiasaan kebaktian berdoa memohon panggilan itu”.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Yang menarik untuk diperhatikan ialah bahwa devosi-devosi berdoa memohon panggilan itu tidak berasal dari Vinsensius sendiri, melainkan dari <em>Komunitas Genoa</em>. Hal ini jelas sebab diceritakan sendiri oleh St. Vnsensius setahun sebelum surat itu ditulisnya. Rupanya Komuinitas Genoa menghadapi banyak permintaan untuk bekerja di berbagai keuskupan.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Demikian selanjutnya, sikap dasar penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi berkembang dan meraih kesempurnaannya dalam cetusan sikap aktif anjuran untuk berdoa dan memohon agat Tuhan mengutus pekerja-pekerja bagi panenanNya, sebagaimana disarankan Tuhan sendiri dalam Pewartaan Kabar GembiraNya.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span> </span>Terhadap perkembangan sikap dasar Vinsensius ini, kita memang dapat bertanya dan memandangnya dari kenyataan situasi-kondisi yang berlangsung waktu itu. Pendirian Seminarium Internum pertama tahun 1637, misalnya. Mengapa? Pada masa-masa itu, dapat dikatakan jumlah panggilan tidak menjadi masalah. Bahkan di kota Paris saja terdapat sepuluh ribu imam dan di kota-kota lain bercokol sejumlah imam dan biarawan-biarawan yang atidak berbuat apa-apa. Sementara itu di desa-desa kosong, atau jika ada imamnya umumnya bodoh.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Itu sebabnya langkah mendesak dan tepat yang harus diambil adalah mengarahkan segala kegiatan kepada usaha untuk mendidik para petugas gerejani (imam-imam) pada waktu itu. Lagi pula dalam, tahun-tahun itu juga (1625-1637) terdapat sekitar 35 imam klerus serta 20 bruder masuk dalam “Serikat Kecil”. Tahun –tahun pertama pendirian Seminarium Internum, secara statistik calon yang masuk bertambah dari tahun ke tahun dengan pesat sekali. Tercatat dalam <em>Notices sur les Pretres, Clercs et Freres Dèfunts</em><a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> ada 318 imam klerus dan 146 bruder yang menyediakan diri untuk dibimbing oleh St. Vinsensius.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Barangkali juga karena inilah, doa dan kebaktian-kebaktian memohon panggilan belum perlu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, setelah tahun 1650 secara statistik jumlah calon yang masuk mengalami kemunduran.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sebab kemunduran antara lain karena situasi politik dan perang. Tak diketumukan data lebih jelas mengapa terjadi kemunduran jumlah panggilan. Agaknya, kemunduran jumlah panggilan ini tak hanya menimpa Serikat Kecil CM, melainkan juga serikat-serkat yang lain. Selama kurun waktu 1625-1655, St. Vinsensius telah mendirikan 26 rumah di Perancis dan telah memberangkatkan imam-imamnya ke Polandia, Irlandia, Madagaskar (1648) dll. Dalam kesempatan yang lain dia juga diminta mengutus imam-imamnya untuk bekerja dalam karya-karya, seperti imam militer, yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Sejumlah Kardinal dan Uskup Italia terus mendesak romo-romo CM untuk bekerja di keuskupannya.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Melihat desakan banyak permintaan dan kebutuhan, St. Vinsensius menyadari bahwa Serikat Kecilnya, berkat kebaikan Tuhan, telah mengalami kemajuan-kemajuan, dan dia makin sadar akan kehendak Tuhan untuk senantiasa berusaha menjaga dan mempertahankan kelestariannya. Kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai berkat kebaikan Tuhan itu perlu diteruskan. Untuk itu dibutuhkan sejumlah pekerja yang siap menuai panenan. Agaknya, kongregasi menemukan persoalan berhubung dengan makin sedikit calon yang masuk. Apalagi, sampai dengan tahun 1655, jumlah konfrater yang meninggal 30; belum temasuk mereka yang keluar dari kongregasi, kembali ke keuskupan-keuskupan mereka, dan juga belum termasuk mereka yang dikeluarkan oleh Vinsensius dari kongregasi.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pendek kata, situasi yang membelit Vinsensius dan Serikat Kecilnya pada masa itu ialah <em>di satu pihak “panenan berlimpah”, terbukti dengan makin banyaknya kebutuhan dan perlunya mempertahankan kemajuan-kemanuan karya serikat, tetapi di lain pihak, “sedikit pekerjanya”</em>. Dari sebab itu, tepatlah upaya yang harus diambil untuk senantiasa berdoa kepada Yang Empunya panenan, agar berkenan mengutus pekerja-pekerja ke panenanNya (Mat 9:37-38; Luk 10:2).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Di kalangan Suster-suster Puteri Kasih, situasinya tak jauh berbeda: Banyak kebutuhan, sementara suster-suster yang siap diutus jumlahnya tak dapat menjangkau. Surat St. Luisa kepada St. Barbe Angiboust 29 Maret 1656 rupanya dapat menjadi indikasi persoalan yang dihadapi: “Saya mohon suster sudi terus berdoa memohon agar Tuhan kita mengutus pekerja-pekerja yang baik demi karyaNya, sebab – suster mungkin tidak percaya – betapa banyak daerah meminta suster-suster kita, tetapi betapa sedikit suster-suster yang ada untuk diutus”.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Demikianlah kiranya kita melihat St. Vinsensius <em>mendukung</em> kebaktian dan doa-doa panggilan dari Komunitas Genoa dan setiap kali menyerukan agar kebiasaan baik itu diteruskan dengan perenungan dan penghayatan. Dan, kemudian juga St. Luisa meminta doa-doa dengan intensi yang serupa, memohon panggilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Mengapa doa panggilan (<em>Expectatio Israel</em>) yang dipakai sekarang, ciptaan Rm. A. Fiat (1878-1914)? Apakah pada jaman Vinsensius tidak dimunculkan doa panggilan yang seragam bagi CM dan PK? Atau, mengapa baru muncul doa panggilan yang resmi dan seragam pada abad ke-19?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Pertanyaan-pertanyaan ini memang patut kita ajukan. Tetapi yang jelas, tak ditemukan informasi tentang adanya doa panggilan yang sama dan resmi di kalangan keluarga Vinsensius, PK dan CM. Kendati demikian, jelas pulalah bahwa dasar adanya doa <em>Expectatio Israel</em> sangat diinspirasikan oleh semangat dan cita-cita St. Vinsensius. Kemunculan doa <em>Expectatio Israel</em> seolah menjadi cetusan harapan Vinsensius abad ke-17, meski baru muncul abad ke-19.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Doa panggilan bagi<span> </span>keluarga Vinsensius <em>tidak mengurangi semangat penyerahan diri kepada penyelenggaraan Tuhan</em>, yang sejak awal sangat ditekankan oleh pendiri. Berdoa untuk panggilan justru menampakan partisipasi aktif sebagai “teman kerja” Tuhan dalam menuai panenanNya. Penghayatan yang benar dan sikap hati bertobat yang kita cetuskan dalam setiap kali berdoa untuk panggilan justru membawa <em>peneguhan </em>dan <em>kekuatan baru</em> dalam pengabdian kepada Tuhan. Dan yang bisa kita kerjakan barangkali kecil saja. Tetapi baiklah kita selalu memohon kepadaNya agar dengan yang kecil itu, kita dapat memuliakan namaNya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>II. Teks Doa <em>Expectatio Israel</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Dikemukan dua versi, Latin dan Indonesia. <em>Expectatio Israel </em>pertama kali ditulis dalam bahasa Latin. Kejelasan makna dan maksud teks biasanya diketemukan dalam perbandingan seperti ini. Jadi, teks Latin dan Indonesia dipaparkan tidak semata untuk “mengecek” terjemahan, melainkan untuk mendalami pengertiannya. Ada dua versi terjemahan Indonesia yang dipakai CM dan PK. Tetapi kami menggunakan terjemahan CM.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><strong>Expectatio Israel<span> </span>Ya Harapan Israel</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Salvator eius in tempore tribulationis<span> </span><span> </span>Sang Penyelamat di saat yang sulit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Propitius de caelo respice, vide et<span> </span><span> </span><span> </span>pandanglah dengan belas kasih dari surga,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:10pt;">visita vineam istam, rivos ejus inebria<span> </span><span> </span><span> </span>lihatlah dan kunjungilah ladang</span><span> </span><span style="font-size:10pt;">anggurMu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>multiplica genimina ejus, et perfice<span> </span><span> </span>alirilah kali-kalinya, pergandakanlah bibit mudanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>quam plantavit dextera tua. Messis<span> </span><span> </span>dan selesaikanlah apa yang Kau tanam dengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>qiudem multa, operarii autem pauci.<span> </span><span> </span>tanganMu sendiri. Panenan memang berlimpah,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Rogamus ergo te Dominum messis,<span> </span><span> </span>namun sedikitlah pekerjanya. Karena itu kami</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>ut mittas operarios in messem tuam.<span> </span><span> </span>mohon kepadaMu yang empunya panenan, agar </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span><span> </span>Engkau mengutus pekerja-pekerja ke panenanMu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Multiplica gentem et magnifica<span> </span><span> </span>Perlipatgandakanlah bangsa ini dan datangkanlah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>laetitiam ut aedificentur muri Jerusalem.<span> </span>suka yang lebih besar, agar dibangunlah benteng Yerusalem</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Domus tua haec, Domine Deus, <span> </span><span> </span>Ini rumahMu, ya Tuhan, ini rumahMu: jangan ada batu di</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Domus tua haec; non sit in ea, queso,<span> </span>sana yang tidak Kau pasang sendiri dengan tanganMu yang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>lapis quem manus tua sanctissima<span> </span>Mahasuci. Adapun yang telah Kau panggil, jagalah mereka<span> </span><span> </span>non posuerit. Quos autem vocasti,<span> </span>dalam namaMu dan kuduskanlah mereka dalam kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>serva eos in nomine tuo et sanctifica<span> </span>Amen.<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span style="font-size:10pt;">eos in veritate. Amen</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sancte Joseph, ora pro nobis,<span> </span><span> </span>Santo Yoseph, doakanlah kami</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sante Vincenti, ora pro nobis.<span> </span>Santo Vinsensius, doakanlah kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Keunikan dan Kesulitan Doa <em>Expectatio Israel</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Keunikan merupakan keunggulan, keindahan, kekayaan, kedalaman, kekhasan, dan kesendirian lain daripada yang lain, tetapi keunikan sekaligus membawa kesulitan-kesulitan tersendiri bagi kita dalam menggali makna, maksud dan pengertian serta nuansa-nuansanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>1. Keunikannya:</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Seluruh doa dibangun dari kata-kata      Kitab Suci. Karakter biblis sangat menonjol.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kaya akan bahasa gambaran. Ini      menunjukan doa <em>Expectatio Israel</em> tak hanya suatu doa yang hidup,      mengungkap pengalaman mendalam, sekaligus juga menyimpan kekayan makna      yang melimpah dan membuka perspektif perenungan dan penghayatan yang luas.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <strong></strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Doa <em>Expectatio Israel</em> membentuk      suatu syair/puisi<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang indah. Biarpaun dirangkai dari untaian ratapan, permohonan,      penyerahan diri, doa-doa Kitab Suci yang berasal dari aneka kitab, doa <em>Expectatio      Israel</em> akan menampakan kesatuan pesan yang utuh dan indah, yang akan      dijelaskan lebih lanjut.<strong></strong></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span>Expectatio Israel</span></em><span>: Doa Kitab Suci<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;">[19]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Ya Harapan Israel, Sang Penyelamat di saat yang sulit (Yer 14:8a), pandanglah dengan belas kasih dari surga, lihatlah dan kunjungilah ladang anggurMu (Mzm 80:15b-c), alirilah kali-kalinya, pergandakanlah bibit mudanya (Mzm 65:11a-b)dan selesaikanlah apa yang Kau tanam dengan tangan <em>kananMu</em> sendiri (Mzm 80:16). Panenan memang berlimpah tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu kami mohon kepadaMu yang empunya panenan, agar Engkau mengutus pekerja-pekerja ke panenanMu (Mat 9:37-38; Luk 10:2). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Perlipatgandakanlah bangsa ini dan datangkanlah suka cita yang besar (Yes 9:2a), agar dibangunlah benteng Yerusalem (Neh 2:17c). Ini rumahMu, ya Tuhan, ini rumahMu (1 Taw 22:1b): Jangan ada batu di sini yang tidak Kau <em>tempatkan</em> sendiri dengan tanganMu yang Mahasuci (-). Adapun yang telah Kau panggil<span> </span>(1 Sam 3:8), jagalah mereka dalam namaMu (Yoh 17:11) dan kuduskanlah mereka dalam kebenaran (Yoh 17:17). Amen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>St. Yoseph, doakanlah kami</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>St. Vinsensius, doakanlah kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>2. Kesulitannya:</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Doa <em>Expectatio Israel </em>adalah doa      panggilan. Muncul kesulitan baru berhubung dengan keunikan bahwa seluruh      doa ini dibangun dari kata-kata Kitab Suci, yang <em>tidak seluruhnya </em>diambil      dari konteks yang sama, konteks panggilan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Ddoa <em>Expectatio Israel</em>, karena      dibangun dari kutipan-kutipan Kitab Suci, timbul kesan “comotan”. Tetapi,      kesan ini disisihkan sebelum sampai pada akhir penggarapan. Praduga yang      tidak berdasar, tidak bisa diterima.<span> </span><strong><span> </span><span> </span><span> </span></strong></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Susunan dan Analisa Teks Doa <em>Expectatio Israel</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><em><span>Expectatio Israel</span></em><span> dapat dibagi menjadi dua bagian:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span>Permohonan kepada Tuhan agar mengutus      pekerja-pekerja ke panenanNya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Permohonan kepada Tuhan agar      menguduskan pekerja-pekerjaNya yang telah dipanggilNya.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Doa ini syarat dengan bentuk-bentuk kalimat perintah (imperatif), tetapi tentu saja lebih merupakan suatu <em>permohonan</em> atau <em>harapan</em>. <em>Pada bagian pertama</em>, doa ini terdiri atas enam (6) kata yang membangun kalimat-kalimat imperatif atau harapan: <em>Pandanglah </em>(respice); <em>lihatlah </em>(vide); <em>kunjungilah </em>(visita); <em>alirilah </em>(inebria); <em>pergandakanlah </em>(multiplica); <em>selesaikanlah </em>(perfice); dan satu bentuk <em>konjungtif</em> (permohonan): <em>agar Engkau mengutus </em>(mittas). Perhatikanlah kata-kata kerja yang digunakan: pandanglah, lihatlah, kunjungilah,&#8230; dan selesaikanlah. Kata-kata ini menampakan hubungan yang berantai, mempunyai urutan-urutan waktu pelaksanaan. Urutan kata-katanya seolah ditata secara kronologis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span>Pada bagian kedua</span></em><span>, kita jumpai empat kata yang menyusun kalimat imperatif: <em>Perlipatgandakanlah</em> (multiplica); <em>perbesarlah </em>(magnifica); <em>jagalah/peliharalah </em>(serve); <em>kuduskanlah </em>(sanctifica). Yang menarik kita perhatikan pada bagian kedua ini ialah suasana “penyerahan diri” yang jelas ditampilkan. Hal itu tampak dalam kata-kata, “ini rumahMu, ya&#8230;”. Tentu semangat ini, semangat bahwa kongregasi adalah bentukan Tuhan dan dengan demikian adalah milik Tuhan sendiri, selalu harus ditonjolkan. Dan semuanya ini akan kita lihat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Jika melihat bahwa doa <em>Expectatio Israel </em>ini menampilkan diri sebagai doa yang relatif singkat, tetapi memiliki 10 kata permohonan, tentu kita dapat bertanya apa saja yang menjadi objeknya, apa saja yang dimohonkannya adalah ladang <em>kebun anggur </em>(vineam istam); <em>kali-kalinya </em>(rivos eius); <em>bibit mudanya </em>(genimina eius); <em>apa yang Kau tanam dengan tangan kananMu </em>(quam plantavit dextra tua); <em>bangsa </em>(gentem); <em>kegembiraan </em>(laetitiam); <em>mereka yang telah Kau panggil </em>(eos quos vocasti). Tidak semua objek menunjuk pada maksud arti yang sama. Tetapi jelas kita jumpai sebutan-sebutan, seperti juga pada kata kerjanya, yang sering kali merupakan “<em>bahasa gambaran</em>”. Bahasa gambaran ini sedemikian menonjol dalam doa ini, sampai seolah-olah doa ini melulu dikuasai oleh bahasa gambaran. Kita dapat mendaftar bahasa gambaran ini sekali lagi: <em>panenan</em>, <em>pekerja-pekerja</em>, <em>benteng Yerusalem</em>, <em>rumah</em>, <em>batu</em>, <em>tempat </em>(Kau tempatkan), <em>tangan</em>. Maka tak perlu disangsikan bahwa doa ini dibangun dalam “fondasi” bahasa gambaran, yang kesemuanya “tersebar” dalam aneka kitab dengan konteks-konteks dan latar belakangnya sendiri-sendiri. Konsekuensi dari kenyataan ini adalah muncul persoalan-persoalan: Apa arti masing-masing bahasa gambaran itu? Apa hubungannya satu dengan yang lain? Bagaimanakah untaian bahasa gambaran itu menampilkan sebuah doa panggilan yang Vinsensian? Lalu, apa sumbangan doa panggilan Vinsensian ini bagi suatu penghayatan hidup panggilan pada umumnya?</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span><span> </span>Bahasa gambaran dalam doa ini merupakan “jantung” doa. Maka jika kita ingin mengertinya, kita harus menggali setuntas mugkin bahasa gambaran itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>III. Exegese Doa <em>Expectatio Israel</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Dengan exsegese maksudnya, kita menyimak apa yang mau kita katakan. Doa <em>expectatio </em>dapat diexsegesekan sebab dibangun atas dasar Kitab Suci. Metode yang hendak digunakan ialah exegese per perikop (per bagian dari mana perikop Kitab Suci itu diambil).<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>1. Expectatio Israel: <em>Salvator eius in tempore tribulationis </em>(Yer 14:8a)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Teks ini merupakan kutipan langsung dari teks Vulgata. Dalam doa, perikop ini diterjemahkan “<em>Ya Harapan Israel, Sang Penyelamat di saat yang sulit</em>”. Dalam penggunaan kosa kata, terjemahan ini bebeda dengan LAI namun dalam arti nampak sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kalau mau mengerti doa ini, tentu kita bertanya: Apa artinya <em>Expectatio Israel</em>? Mengapa Tuhan, dalam doa ini, dipanggil <em>Expectatio Israel</em>? Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk lebih memudahkan kita melacak dan menemukan arti yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kita melihat teks-konteks dan latar belakang perikop. Perikop ini diucapkan oleh Nabi Yeremia dalam teks Yer 14:1-15:4, Firman Tuhan yang datang kepada Yeremia mengenai <em>musim kering</em>. <em>Magna siccitas in Iudaea: orat propheta pro populo, sed eius oratio reicitur</em> (musim kering yang berkepanjangan di Yudea: Nabi berdoa untuk bangsanya, tetapi doanya ditolak). Keseluruhan perikop ini kemungkinan besar dikatakan pada pemerintahan Raja Yoyakim (bukan Yoyachim!) yang memerintahYehuda tahun 609-598 SM. Jadi, dua belas tahun sebelum kerajaan dihancurkan dan pembuangan Israel ke Babilon. Pada jaman pemerintahannya, Israel menghadapi bermacam-macam kemelut pertempuran dan krisi yang berkepanjangan (II Raja 23:36-24:7; juga 2 Taw 36:5-8). Raja Yoyakim adalah taklukan Raja Firaun Neko, Mesir (II Raj 23:34). Karenanya dia harus berafiliasi ke Mesir. Tambahan lagi Yoyakim melakukan apa yang jahat di mata Tuhan tepat seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya (II Raj 23-37). Tahun 604 SM (5 tahun pertama dalam pemerintahannya), Raja Nebukadnezar menyerbu kerajaannya, takluklah Raja Yoyakim. Maka, goncanglah kehidupan politik kerajaan Yehuda! Tidak hanya itu, pada masa-masa itu pula Israel dilanda <em>krisis panggilan</em>, <em>tiada nabi sejati</em>. Sementara raja lemah sekali dan kerajaan di ambang kehancuran, bermunculanlah nabi-nabi palsu (Yer 23:11-12, 30, 33, 28:1-17). Fenomena kemunculan nabi-nabi palsu ini memuncak dalam penampilan “perdebatan antara Nabi Yeremia dan Nabi Hanaya” (Yer 28). Kemelut pada masa itu makin bertambah runyam, karena bangsa Israel sendiri tidak mendengarkan Tuhan dan hanya menimbulkan sakit hati Tuhan dengan buatan tangan manusia (Yer 25:9). Mereka melawan nabi-nabi sejati tetapi memihak nabi-nabi palsu (Yer 26). Itulah sebabnya mengapa Israel, pada jaman pemerintahan Yoyakim, mengalami “musim kering”, masa-masa sulit yang amat menyusahkan. Situasinya demikian kritis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kenyataan ini mencekam Nabi Yeremia, sampai tercetus Firman Musim Kering ini. Bahkan, dalam latar belakang “musim kering” inilah “Ya Harapan Israel” diucapkan oleh Nabi Yeremia. Dalam konteks situasi kritis inilah, Tuhan disebut “<em>Pengharapan Israel</em>” (Yer 14:8). Sebutan Tuhan sebagai “Pengharapan Israel ini <em>tidak ada lain dalam Perjanjian Lama selain dalam Yeremia ini</em>. Pengharapan Israel merupakan sebutan yang sangat khusus bagi Tuhan. Barang kali ini membuktikan betapa situasi krisisnya sangat genting.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Mengapa Tuhan disebut “Pengharapan Israel”? Jawabannya ialah karena <em>tidak ada lain yang dapat memberi hujan, bahkan langit pun tidak, kecuali Tuhan sendiri </em>(Yer 14:22). Tidak ada lagi yang menjadi tumpuan harapan Israel selain hanya Tuhan. Tidak ada kekuatan apa pun dan siapa pun baik itu dewa-dewa maupun raka yang dapat menjadi sandaran Israel! Ya, hanya Tuhanlah <em>satu-satunya</em> pengharapan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Seruan “Ya Harapan Israel, Sang Penyelamat di saat yang sulit” mengungkapkan makna pesan <em>penyerahan diri yang hanya kepada Allah saja sebagai satu-satunya yang dapat menyelamatkan Israel dari kungkungan kemelut situasi krisis</em>. Lalu, adakah karena pesan ini yang menjadikan alasan digunakannya sebutan <em>Expectatio Israel</em> sebagai doa panggilan? Jika kita menyimak sikap dasar St. Vinsensius: Penyerahan total hanya kepada Tuhan, barang kali benar bahwa karenanya sebutan itu dikutip sebagai doa, kendati jelas tiada kesamaan latar belakangnya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>2. <em>Propitius ded caelo respice, vide et visita vineam istam </em>(Mzm 80:15)<span> </span><span> </span></span></strong><span>Kutipan ini diterjemahkan dalam doa “pandanglah dengan belas kasih dari surga, lihatlah dan kunjungilah ladang anggurMu”. Terjemahan harafian dari <em>propitius </em>adalah <em>rahim, baik hati, sudi, rela, berkenan</em>. Sedangkan <em>vienam </em>dapat berarti <em>kebun anggur </em>atau <em>pokok anggur</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span><span> </span>Apa artinya “pandanglah dari surga, lihatlah, dan kunjungilah ladang anggurMu” (itu)? Apa artinya “ladang anggur” (baca: kebun/pokok anggur)? Tentu dalam mencari arti semuanya ini, kecenderungan untuk tergesa-gesa untuk menghubungkan dengan perikop kutipan pertama dari Yerusalem tadi harus dielakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Teks-konteks Mazmur 80 adalah <em>restitue vitem tuam devastatam</em> (pulihkanlah pokok anggurMu yang telah dirusakan), yang merupakan doa ratapan nasional bangsa Israel berhubung dengan peristiwa-peristiwa sedih direbutkan Kerajaan Utara oleh Asyur tahun 732 SM dan dimusnahkan Yerusalem oleh Babel tahun 586 SM. Umat berdoa kepada Tuhan agar sebagai Gembala yang baik memelihara kebun anggurNya dan melimpahi kepada umatNya anugerahNya (Mzm 9-12). Dan, ayat 15 mengungkapkan cetusan pengharapan Israel agar Tuhan memelihara dan memperlihatkan pohon anggurNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Frase “pandanglah (atau memandang) dari surga” selalu menunjuk pada Allah dan <em>selalu dengan tindakan kelanjutan </em>entah untuk <em>melihat </em>(Mzm 14:2; 80:15; 53:3), entah untuk <em>mendengar</em>,<em> </em>entah untuk <em>membebaskan </em>(Mzm 102:20). Dengan demikian kegiatan Allah “memandang dari surga” senantiasa tidak pernah berhenti pada aspek penginderaan mata saja. Dengan kata lain, Allah tidak pernah hanya menatap dari kejauhan, dari surga saja!Allah adalah transendens (Allah semesta alam, Mzm 80:15a) tetapi juga imanens:<em> terlibat, melihat dari dekat, dan mengunjungi</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kata “kunjungilah” (baca LAI, indahkanlah) mengandung makna adanya perhatian, pengingatan (bdk., Mzm 8:5, 28:5; Ams 13:8; Ibr 2:6). Sedangkan pokok anggur (kebun anggur) sering dikaitkan dengan sebutan untuk Israel (Hos 10:1; Yes 5:1, 27:2; Yer 2:21; Yeh 17-19:10). Para nabi sering menghubungkan kebun anggur dengan Israel, karena Israel adalah <em>milik Tuhan</em> yang sangat dicintaiNya kendati sering tak setia kepada Tuhan (Yes 5). Pohon anggur (baca: Israel), di mata Tuhan selalu merupakan <em>pohon anggur pilihan</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Maka, seruan “pandanglah dengan belas kasihMu dari surga, lihatlah dan kunjungilah kebun anggurMu” menyimpan makna mendalam sebagai suatu <em>permohonan akan keterlibatan</em>, <em>kehadiran dan perhatian Allah kepada milikNya sendiri</em>, pohon anggur pilihanNya sendiri. Allah yang memilih pohon anggur ini, Allah pulalah yang bertangggung jawab atas hidup dan layunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>3. <em>Rivos Eius inebria, multiplica genimina eius </em>(Mzm 65:11)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>“Alirilah kali-kalinya, pergandakanlah bibit mudanya”, demikian terjemahan dalam doa <em>Expectatio Israel</em>. Teks terjemahan Mazmur ini berbeda dengan LAI (Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya). LAI sama dengan teks Vulgata yang sudah diperbaharui oleh Pius XII, 24 Maret 1945. Perbedaan tejemahan ini tidak diperhatikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kata-kata ini merupakan bahasa gambaran yang menunjukan pada suasan situasi <em>khas perladangan atau perkebunan</em>. Dengan demikian sudah langsung terasa benang merah hubungan dengan perikop sebelumnya, meskipun teks-konteks dan latar belakang kedua kutipan berbeda. Tetapi jelas, suasana ini tidak bisa kita hindari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Secara keseluruhan, Mazmur 56 adalah nyanyian syukur atas berkat yang berlimpah-limpah (ay 10-14). Nyanyian ini sangat sesuai dengan situasi akhir masa panen. Pada saat itu, umat berkumpul dan bersama-sama menyanyikan Mazmur ini. <em>Suasana optimisme dalam bagian ini sangat menonjol</em> (sollemnis gratiarum actio pro beneficiis Dei).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Sungai itu menyejukan (Mzm 46:5), darinya orang minum (Mzm 110:7) dan seperti alirannya, demikianlah keselamatan mengalir dari Tuhan (Mzm 66:12). Dan jelas, dari padanya pula, kebun/ladang menjadi subur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“<em>Genimina</em>” terjemahan harafiahnya panenan atau buah atau hasil. Dalam teks Inggris, diterjemahkan “<em>seed</em>” (benih). Agaknya, keduanya tidak terlalu mengubah maksud atau arti. “Pergandakanlah bibit mudanya” jelas juga akan membawa kepada panenan yang berlimpah-limpah. Yang pokok, ialah bahwa semuanya itu tergantung pada aliran sungai, dan aliran sungai tergantung pada Tuhan. Jadi, baik itu yang menumbuhkan bibit mudanya maupun yang membuat belimpah panenannya adalah Tuhan. Jika kita menghubungkan dengan perikop sebelumnya, “alirilah kali-kalinya, pergandakanlah bibit mudanya” merupakan <em>wujud nyata konkretisasi dari perhatian dan kunjungan Tuhan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>4. <em>Et perfice quam plantavit dextera tua </em>(Mzm 80:16)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>“Dan selesaikanlah apa yang telah Kau tanam dengan tangan kananMu sendiri”. Teks ini sebenarnya adalah kelanjutan dari kutipan “pandanglah dengan belas kasih dari surga, lihatlah dan kunjungilah ladang anggurMu” (Mzm 80:15). Bahwa pohon anggur itu (vineam istam) adalah yang “Kau tanam dengan <em>tangan kananMu </em>sendiri”. Dari sebab itu, <em>sempurnakanlah </em>(perfice) dia! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kanan atau sebelah kanan selalu menunjuk pada hal-hal yang utama, terpilih, terhormat (bdk. Mzm 80:18). Tangan kanan itu lebih sakti, lebih berkhasiat, lebih hebat (Kej 48:17+). Dan, tangan kanan Tuhan itu mulia, menghancurkan musuh (Kel 15:6), melakukan keperkasaan (Mzm 139:10). Jadi, sebutan tangan kanan Tuhan itu menunjukan kekuasaan, kebesaran dan keperkasaan Tuhan sendiri. Dengan demikian <em>pertumbuhan anggur pilihan itu dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan sendiri</em>. Ya, betapa terpilih pohon anggur itu! “Sempurnakanlah” dia mengandung makna permohonan perlindugan (protege) sekaligus juga permohonan untuk <em>merampungkannya</em>,<em> menyelesaikannya</em>. Sekali lagi, semuanya itu adalah karya Tuhan sendiri. Dengan demikian seruan permohonan-permohonan itu tak lain adalah <em>cetusan penyerahan diri yang teguh melulu kepada Tuhan</em>!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>5. <em>Messis quidem multa, operarii autem pauci&#8230; </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span><span> </span>in messem tua </span></em><span>(Mat 9:37-38; Luk 10:2)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Berbeda dengan kutipan-kutipan sebelumnya, perikop ini diambil dari kata-kata Yesus, ketika hendak mengutus tujuh puluh murid (Lukas), ketika tergerak hatinya melihat orang banyak berbondong-bondong manakala Dia mengajar dari desa ke desa dan kota-kota di rumah-rumah ibadat (Mateus). “Panenan memang berlimpah, namun sedikitlah pekerjanya. Karena itu kami mohon kepadaMu yang empunya panenan, agar Engkau mengutus pekerja-pekerja ke panenanMu”. Jadi, suasana panggilan amat ditampilkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Jika Yesus mengucapkan kata-kata itu dalam bentuk <em>seruan</em> (perintah): “Mintalah kepada tuan yang empunya panenan&#8230;”, maka, dalam doa, kita mengucapkan dalam bentuk kalimat <em>permohonan</em>: “Kami mohon kepadaMu yang empunya panenan&#8230;”. Permohonan agar Tuhan sudi mengutus pekerja-pekerja ke panenan ini berdasar kenyataan bahwa panenan berlimpah tetapi pekerja sedikit. Jadi permohonan ini berdasarkan sikap dasar Kristus sendiri: Kristus tergerak oleh mereka yang lelah dan terlantar <em>seperti domba yang tak bergembala</em> (Mat 9:36). Seperti domba yang tak bergembala artinya tepencar-pencar, berserakan, dan karenanya terancam oleh binatang-binatang buas lain (Yeh 34:5; 2 Taw 18:16) menjadi makanan mereka. Itulah sebabnya sangat perlu untuk “<em>mendesak</em>” <em>Tuhan agar mengutus pekerja-pekerjaNya</em>, kendati semuanya tergantung dari kehendakNya saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>6. <em>Multiplica gentem et magnifica laetitiam</em> (Yes 9:2) </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>“Perlipatgandakanlah bangsa ini dan datangkanlah suka cita yang lebih besar”. Teks Vulgata persis sama, hanya tidak tertulis dalam bentuk imperatif: “<em>Multiplicasti gentem et magnificasti laetitiam</em>”. Sedangkan LAI menterjemahkan: “<em>Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak dan suka cita yang besar; mereka telah bersuka cita di hadapanMu</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Konteks pewartaan Nabi Yesaya ini adalah kegembiraan dan pengharapan akan pembebasan dari pembuangan. Kegembiraan itu bertambah-tambah dengan diwartakannya kehadiran Raja Damai (de Liberatione Iudae per Principem pacis – Yes 8:23-9:6). Pada waktu itu, tahun 732 SM, Kerajaan Utara (Israel) digempur oleh Tiglat Pileser, raja Asyur, dan bangsa Israel dibuang (II Raj 15:29). Peristiwa ini berlangsung di Galilea, daerah di mana penduduk amat berduka karenanya. Tetapi, ditengah-tengah suasana kedukaan nasional itu, sebaliknya Nabi Yesaya justru mewartakan kabar suka cita, kabar pembebasan. Akan tiba saatnya, “Hari Tuhan”, saat pembebasan bangsa Israel: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar &#8230;” (Yes 9:1-6). Dan, akan tiba saatnya pemerintahan damai yang dipegang oleh seorang keturunan Raja yang akan disebut Emanuel. Nubuat Nabi Yesaya ini, menurut Mat 4:13-16, sepenuhnya digenapi dengan kedatangan Kristus, yang <em>berasal dari Galilea</em>. Pada saat itulah, Tuhan telah memberikan banyak sorak-sorai dan suka cita yang berlimpah-limpah. Mereka telah bersuka cita di hadapanMu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Perlipatgandakanlah bangsa ini” barangkali yang dimaksudkan adalah perlipatgandakanlah sisa-sisa Israel yang setia dan yang kembali dari pembuangan. Tidak semua setia kepada Tuhan. Tetapi, bangsa yang kembali adalah bangsa Israel yang setia. Kepada bangsa ini, Nabi Yesaya menubuatkan suka cita yang berlimpah dengan pewartaannya tentang damai sejahtera yang tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya (Yes 9:6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Apa artinya “perlipatgandakanlah”? Menjadikan sisa-sisa bangsa Israel yang setia, besar dalam jumlah atau dalam mutu (artian politik)? Menjadikan “bangsa besar” dalam terang perkataan janji Allah kepada Abraham (Kej 12:2), menunjuk pada artian politis. Maksudnya, keturunan Abraham kelak akan lebih berpengaruh besar dan luas secara politis di banyak bidang kehidupan daripada dalam hal jumlah. Dan dalam sejarah, hal ini benar, hingga sekarang pengaruh itu sangat terasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Apakah juga arti demikian yang dimaksudkan dalam terang pewartaan Nabi Yesaya? Mungkin benar, sebab fakta sejarah membuktikan demikian: Dari Galilea telah muncul keturunan Raja yang oleh banyak orang disebut Penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Raja damai yang berpengaruh luas dan tampil sebagai Penyelamat dunia. Dan dalam terang doa panggila? Barangkali permohonan “perlipatgandakanlah bangsa ini” memaksudkan agar tak hanya dalam jumlah pekerja saja yang cukup supaya banyak kebutuhan dapat dipenuhi, tetapi juga dalam mutu pekerjaan-pekerjaan yang makin meningkat supaya kemajuan-kemajuan yang diperoleh karena kebaikan Tuhan, <em>dapat dipertahankan dan dikembangkan sesuai dengan kehendakNya</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>7. <em>Ut aedificentur muri Jerusalem </em>(Neh 2:17)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Kutipan ini diterjemahkan “agar dibangulah benteng (tembok) Yerusalem”. Teks Vulgata, <em>et aedificemus muros Jerusalem</em> (mari kita bangun tembok-tembok Yerusalem). Dan teks LAI sama dengan Vulgata, “berkatalah aku (Nehemia) kepada mereka (pemuka-pemuka Yahudi): Kamu melihat kemenangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar”. <em>Mari kita bangun kembali tembok Yrusalem</em>, supaya kita tidak lagi dicela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Tahun 586 SM, Yerusalem digempur oleh Nabukadnezar, Raja Babel. Runtuhlah tembok-temboknya, dan digiringlah penduduknya ke pembuangan. Tetapi tiada kemalangan yang amat memukul Israel kecuali keruntuhan Yerusalem, kota Tuhan, kota yang amat dicintaiNya (Mzm 137:5). Maka, selama dalam pembuangan, direncanakanlah untuk membangun kembali tembok-tembok yang runtuh, dan sesudah pembuangan rencana itu direalisasikan. Nehemia, seorang awam yang hidup pada jaman pemerintahan Raja Artahsasta (465-424 SM), raja Persia, meneruskan usaha pembangunan kembali tembok-tembok Yerusalem itu. Sebab dengan keruntuhan itu (tembok-tembok Yerusalem), Israel tinggal dalam keadaan tercela (Neh 1:3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Sesudah jaman pembuangan, pembangunan kembali tembok-tembok Yerusalem diartikan sebagai <em>tanda bahwa Allah sudah mengampuni dosa umatNya</em> (bdk. Mzm 51:20; Yes 60:62; Yer 30:15-18; Yeh 36:33). Beginilah Firman Allah: Pada hari Aku akan mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami kembali dan reruntuhan-reruntuhannya akan dibangun kembali!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Dari sebab itu, benarlah bahwa setiap kali kita mendoakan doa <em>Expectatio Israel</em>, kita harus selalu ada dalam sikap hati yang bertobat, agar “dibangunlah tembok-tembok Yerusalem”. Tetapi kota Yerusalem menunjuk juga makna Gereja. Maka, pembangunan kembali Yerusalem adalah antisipasi pembangunan Gereja. Di sinilah terletak <em>dimensi eklesial doa Expectatio Israel</em>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>8. <em>Domus tua haec, Domine Deus, domus tua Haec </em>(1 Taw 22:1)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Daud menunjuk “di sini rumah Allah, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel”! Di sini maksudnya di Yerusalem. Atas campur tangan malaikat Tuhan, kemah suci yang dibuat Musa di padang gurun dan mezbah pengorbanan di bukit Gibeon, dipindahkan ke Yerusalem. Yerusalem Rumah Tuhan (II Taw 26:23; Ezr 1:2), tempat di mana nama Tuhan diserukan (1 Raj 8:43), penuh dengan kemuliaanNya (2 Taw 7:1). Dan sangat kucintai (Mzm 26:8; 69:10). Jadi, rumah Tuhan itu menunjukan kemuliaan Tuhan sendiri dan karenanya sangat kujujung tinggi. Tidak pasti menang, tetapi jika kongregasi diidentifikasikan dengan “rumah Tuhan”, maka konsekuensinya, kongregasi ini milik Tuhan sendiri yang harus menampakan kemuliaanNya. Dan karenanya harus diusahakan kemajuannya, agar semakin menghadirkan kemuliaan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>9. <em>Non sit in ea, queso, lapis quem manus tua</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span><span> </span>sanctissima non posuerit</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Kalimat ini tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi jelas, warna biblis tetap nampak dengan dipakainya bahasa gambaran yang lazim, seperti “batu”, “tangan”, “tempat” (Kau tempatkan): “Jangan ada batu di sana yang tidak Kau pasang (Kau tempatkan) dengan tanganMu yang Mahasuci”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Batu memaksudkan arti bahan dasar bangunan (rumah). Batu biasanya diletakan sebagai fondasi atau dasar bangunan (bdk. Yes 28:16; 54:11) berhubung dengan sifatnya yang keras, kuat, dan kokoh (Ayb 6:12). Jadi fungsi batu dalam suatu bangunan (rumah) amat menentukan. Karena “ketahanan” batulah, rumah yang disanggahnya mampu berdiri kokoh. Sebaliknya, batu yang rapuh akan menyebabkan rumah goyah. Demikianlah halnya dengan rumah Tuhan, rumah Tuhan harus disusun atas batu-batu yang kokoh dan karenanya harus oleh Tuhan sendirilah yang meletakanNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Tangan Tuhan menunjukan kuasa Tuhan sendiri (Yes 45:12; 51:5 etc), yang kudus (Yes 52:10), menentukan aku (Mzm 139:10) dan tak kurang panjang untuk menyelamatkan (Yes 59:1) Itulah sebabnya, batu-batu yang menyusun rumah ini sepenuhnya diserahkan kepada penyelenggaraan tangan Tuhan yang Mahakudus. Dengan kata lain, biarlah <em>Tuhan sendiri yang memilih dan menyusun “batu-batu kongregasi dan semoga tidak ada “batu” yang tidak dipasangnya sendiri</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>10. <em>Quos autem vocasti </em>(1 Sam 3:8-9) </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span><em><span> </span>Serva eos in nomine tuo </em>(Yoh 17:11)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span><em>Et sanctifica eos in veritate</em> (Yoh 17:17)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Penutup doa ini secara sangat jelas menampilkan permohoan untuk mereka yang telah dipanggil. Ada dua permohonan, <em>jagalah mereka dalam namaMu </em>dan <em>kuduskanlah mereka dalam kebenaran</em>. Menarik diperhatikan bahwa permohonan ini menjadi “<em>puncak</em>” doa panggilan. Dengan demikian permohonan ini diletakan pada tempat yang sangat penting dalam seluruh untaian intensi doa panggilan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Apa artinya “jagalah dalam namaMu?” Nama dalam bahasa Ibrani menyatakan diri itu sendiri (Yoh 3:18). NamaMu (nama Bapa) artinya <em>diri Bapa atau pibadi Bapa</em> (Yoh 17:6; 12:28; 14:7-11). Hal ini jelas dari maksud perutusan Kristus, yaitu mewahyukan kepada manusia ”nama” Bapa: “Barang siapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Ciri khas “diri” Bapa adalah kasih atau mengasihi (1 Yoh 4:8, 16), dan Bapa membuktikan kasihNya ini dengan menyerahkan Putera tunggalNya (lih. Yoh 3:16-18; 1 Yoh 4:9, 10; juga Rom 8:32).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Maka, “peliharalah dalam namaMu (nama Bapa)” merupakan <em>wujud nyata permohonan untuk menyerahkan mereka yang telah dipanggil kepada kasih Bapa</em>, agar mereka tinggal dalam kasihNya, dan kasihNya tinggal dalam mereka. Supaya, dengan demikian mereka diliputi dengan cinta kasih Bapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Dan, “kuduskanlah mereka dalam nama kebenaran”. Doa ini diucapkan Kristus bagi murid-muridNya (Yoh 17:17). Dikuduskanlah artinya <em>disendirikan</em>, <em>dibaktikan</em>, <em>disucikan</em>, <em>ditakdiskan bagi Allah </em>(bdk. Kis 9:13). Disendirikan bukan semata-mata berarti diasingkan atau dialienasikan dari lingkungannya, melainkan <em>dikhususkan untuk berkarya membaktikan dalam perkara-perkara Allah, dalam ibadat Roh dan kebenaran</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Apa artinya “dalam kebenaran”? Kebenaran adalah Firman Allah (Yoh 17:17). Dengan Firman Allah dimaksudkan pribadi Yesus sendiri yang merupakan perwujudan konkret rencana penyelamatan Allah. Yesuslah kebenaran itu! Yesus memohon kepada Bapa bagi murid-muridNya agar menguduskan mereka dalam kebenaran, maksudnya agar para murid tetap di dalam Yesus dan Yesus tetap di dalam para murid. “Ya Bapa, Aku mau supaya di mana Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku! Mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu&#8230;” (Yoh 17:24).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Inilah puncak dari doa <em>Expectatio Israel</em>, yaitu <em>agar mereka yang telah dipanggilNya senantiasa dibaktikan bagi Allah dan dipersatukan dengan Kristus sendiri</em>. Seluruh rangkaian permohonan kepada “Pengharapan Israel” memuncak dan menemukan kesempurnaannya di sini, <em>dalam pengudusan bagi Allah dan persatuan mesra dengan Kristus</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<h1><span>IV. Apa Yang Dikatakan Doa <em>Expectatio Israel </em>Tentang Panggilan?</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Setelah menyimak satu per satu bagian-bagian yang membangun doa <em>Expectatio Israel</em>, sekarang dikemukakan beberapa gagasan menyeluruh yang menjadi “kekayaan” doa panggilan <em>Expectatio Israel</em>. Untaian indah kutipan Kitab Suci, sekarang tidak lagi dilihat terpisah-pisah, melainkan satu-kesatuan dalam nada dasar <em>panggilan</em>. Apa yang dikatakan doa <em>Expectatio Israel </em>tentang panggilan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><em>Pertama</em>, panggilan itu harus dipupuk dan dikembangkan dalam sikap dasar “menyerah (memberi diri) kepada penyelenggaraan Tuhan”. Dalam sikap “menyerah” tersimpan di dalamnya kehendak yang tulus untuk mau dibentuk oleh Tuhan. Ya, sebab Tuhanlah satu-satunya “Pengharapan Israel”, Sang Penyelamat kita di saat yang sulit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><em>Kedua</em>, Alasan untuk selalu memberi diri kepada Penyelenggaraan Tuhan adalah juga karena <em>kita ini milik Tuhan</em>, pohon anggur Tuhan yang telah ditanam dengan <em>tangan kananNya </em>sendiri. Maka, biarlah Tuhan sendiri yang “<em>melipatgandakan bibi mudanya</em>”! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><em>Ketiga</em>, panggilan tidak untuk diri sendiri, melainkan untuk bekerja menuai panenan Tuhan. Dari sebab itu, demikian Kristus, mohonkanlah kepada yang empunya panenan agar diutusNya pekerja-pekerja yang baik. Panggilan memang <em>tergantung sama-sekali dari Tuhan sendiri sebagai yang memanggil, namun demikian harus juga dimohonkan kepadaNya</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><em>Keempat</em>, panggilan itu pada akhirnya selalu tertuju dan terarah kepada <em>pemuliaan Tuhan</em> (dalam karya dan pelayanan kita yang diwujudkan dalam “pembangunan benteng Yerusalem”) dan <em>pengudusan diri</em> (dalam cinta kasih Bapa dan persatuan mesra dengan Kristus sendiri).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<h1><span>V. Refleksi Bagi Penghayatan Panggilan Keluarga Vinsensius</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span><span> </span></span></strong><span>Betapa sulit menuangkan secara tepat dalam rumusan-rumusan wujud khas panggilan keluarga Vinsensius itu. Betapa luas kharisma panggilan itu untuk dilukiskan dalam kata-kata. Juga, dalam refleksi ini. Maka, panggilan itu pertama-tama tidak untuk diterangkan dalam kata-kata. Panggilan itu untuk dihayati, dipupuk, dan dikembangkan dalam hidup. Dan, itu benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Dalam upaya untuk menghayati panggilan kita, <em>Expectatio Israel </em>menyumbang gagasan. Doa <em>Expectatio Israel</em> dapat dibagi menjadi dua bagian pokok yang merangkai untaian aneka permohonan: Doa bagi <em>pengutusan lebih banyak pekerja-pekerja ke kebuh anggur </em>Tuhan; dan doa bagi <em>pengudusan pekerja-pekerja di kebun anggur </em>Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Dari judulnya, <em>Expectatio Israel</em>, kita dapat menyimak dari exegese, bahwa seluruh permohonan dan intensi yang dikemukakan bertolak dari sikap dasar <em>penyerahan diri total hanya kepada Tuhan</em>. Sikap dasar ini pulalah yang sangat dijujung tinggi oleh Vinsensius. Dengan penyerahan diri maksudnya kesadaran pribadi sebagai <em>milik Tuhan</em>, <em>sebagai yang ada karena pilihan Tuhan</em>, <em>dan sebagai yang berkembang karena bentukan Tuhan sendiri</em>, dari sebab itu sudah seharusnya untuk selalu memberi diri kepadaNya dengan berusaha mencintainya dalam “cucuran keringat” dan karya-karya kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Jadi penyerahan diri tidak dimaksudkan sikap pasif yang menyisihkan usaha-usaha. Sikap dasar penyerahan diri sebagaimana ditampilkan dalam <em>Expectatio Israel </em>ini justru <em>memupuk kehendak baik dan tulus untuk berjuang demi Allah</em>. Begitulah, tak ubahnya dengan penghayatan panggilan Visensian kita.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>§</span></span></span></a><span>Tulisan ini diangkat dan diinspirasikan dari artikel <em>Expectatio Israel</em> oleh Rm. John W. Carven, CM., yang dimuat dalam <em>Vincentian Heritage</em>, vol. II, 1981, p. 25-31. Dalam studi ini exegese doanya didalami.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Keyakinan ini dikatakan St. Vinsensius dalam Konferensinya 6 Desember 1658, tentang tujuan Kongregasi Misi (RC I, art. 1). </span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih., Gerard van Winsen, CM., “La Vocation de la Congrégatie de la Mission”, dlm., <em>Vincentiana</em>, vol. 4-5-6, 1987 (Mensis Vincentianus), hal. 610. Informasi lain dapat dilihat pada “Introductio” dlm., <em>Constitutiones Et Statuta Congręgationis Missionis</em>, hal. 15. </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>SV, I, 312.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Misalnya dalam surat kepda Romo Bernard Codaing 14 April 1644 (SV, II, 456), Vinsensius mengatakan: “Jangan terlalu pusing dengan perluasan Serikat Kecil”. </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih., Rm. Ferdinand Combulazier, CM., “St. Vinsensius dan Promosi Panggilan” (terj. oleh Rm. Ponticelli), <em>Serikat Kecil</em> No. 3 Th. II, 1987, hal. 42-50. </span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>SV, V, 462-463. </span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>SV, V, 102. </span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;">SV, V, 145, 573, dan lihat juga dalam <em>Common Rules</em> bab xi tentang “The Mission And Other Works of Congregation Behalf of the Neighbor”; sedang, SV, II, 550 malah menunjukan setahun sebelum St. Vinsensius meninggal masih dengan tegas mengajak agar terus berdoa memohon panggilan. </span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>SV, XI, 34. </span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Paris, Dumoulin , 1881, Premiere Serie, Tome Premier, p. 435-509.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih., Rm. John W. Carven, Op.Cit., hal. 25-26 </span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih., Rm. Dferdinand Combaluzier, Op.Cit., hal. 43+. </span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>SV, V, 120. </span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Lih., Rm. John W. Carven,<span> </span>Op.Cit., hal. 26. Dan bahwa St. Vinsensius pernah mengeluarkan konfrater dari keanggotaan kongregasi, lihat, “Kemanusiaan Seorang Kudus Vinsensius” (terj. oleh Rm. Thomas David), dlm., <em>Serikat Kecil</em>, No. 5 Th. III, 1988, hal. 13-27.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Surat ini diambil dari <em>Correspondance, Meditations, Pensées et Avia de Sainte Louise de Marillac</em>, 1961, No. 471, lihat dalam Rm. John W. Carven, Ibid. </span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Pertimbangan kami: Terjemahan PK yang terdapat dalam buku doa suster-suster Puteri Kasih merupakan hasil terjemahan lama (tahun 1970-an) dan sejumlah penelitian kami, kurang menampakan bentuk-bentuk imperatif, yang menguasai bahasa doa <em>Expectatio Israel</em>.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Penjelasan lebih lebar tentang bahasa gambaran, lih., B.A. Pareira, <em>Pembimbing Kepada Mazmur</em>, hal. 47-9.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Juga pengertian puisi, lih., Ibid., hal. 43.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Cetusan <em>Expectatio Israel</em> doa Kitab Suci ini merupakan hasil studi<span> </span>Rm. Vansteenkiste, CM., seorang konfater Perancis, ahli Kitab Suci. </span></p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:0.5in;"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>Sumber Kitab Suci:<em> Alkitab</em>, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI); <em>Kitab Suci 3 </em>(PB-PL), Nusa Indah, Ende; <em>Biblica sacra Iuxta Vulgatam Clementinam </em>(nova editio) </span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=21&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/07/doa-panggilan-vinsensian-%e2%80%9cexpectatio-israel%e2%80%9d-exegese/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Do the best for the Poor!</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/do-the-best-for-the-poor/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/do-the-best-for-the-poor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 06:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[tetes-kata vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Do the best for the Poor! (Santo Vinsensius) Marilah kita mencintai Allah, MencintaiNya dengan berpeluh keringat! (Santo Vinsensius) O Sang Penebus, ubahlah tanganku menjadi tanganMu; lidahku menjadi lidahMu! (Santo Yohanes Gabriel Perboyre) Adakah sesuatu yang lebih indah dari mengabdi Tuhan seutuhnya untuk orang miskin?! (Santo Vinsensius) Membantu orang yang menderita Itu karya keadilan! Bukan belas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=18&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Do the best for the Poor! </span><em><span>(Santo Vinsensius)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Marilah kita mencintai Allah, MencintaiNya dengan berpeluh keringat! </span><em><span>(Santo Vinsensius)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>O Sang Penebus, ubahlah tanganku menjadi tanganMu; lidahku menjadi lidahMu! </span><em><span>(Santo Yohanes Gabriel Perboyre)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Adakah sesuatu yang lebih indah dari mengabdi Tuhan seutuhnya untuk orang miskin?!</span><em><span> (Santo Vinsensius)</span></em><span id="more-18"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Membantu orang yang menderita Itu karya keadilan! </span><strong><em><span>Bukan</span></em></strong><span> belas kasihan!</span><em><span> (Santo Vinsensius) </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah upahku mengabdi Tuhan dalam orang miskin? Upahku ialah bahwa aku boleh mengabdiNya tanpa upah! Dan, itu sudah cukup! </span><em><span>(Paulus &amp; Vinsensius) </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Yang <em>you </em>perbuat untuk mereka yang hina itu, </span><em><span>you </span></em><span>perbuat <em>untuk </em>Aku! Sabda Tuhan. </span><em><span>(Yesus Kristus)</span></em><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=18&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/do-the-best-for-the-poor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Missionaris Awam Vinsensian (MAVI)</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-missionaris-awam-vinsensian/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-missionaris-awam-vinsensian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 06:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[studia vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[DASAR-DASAR SPIRITUALITAS MISIONER VINSENSIAN 1.1. APA ITU SPIRITUALITAS? Spiritualitas adalah kumpulan motivasi-motivasi injili yang kuat dan dalam, yang memberi makna pada harapan, kesetiaan, dan komitmen kita kepada Gereja, untuk mengikuti Yesus Kristus dengan dorongan Roh Kudus. Spiritualitas ini menjadi lebih terbentuk berdasarkan ketaatan kita kepada Yesus, baik dalam pengalaman pribadi maupun hidup komunitas berdasarkan iman. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=17&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;">DASAR-DASAR SPIRITUALITAS MISIONER VINSENSIAN</span><br />
<span style="font-size:10pt;">1.1. APA ITU SPIRITUALITAS?</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;">
<p>Spiritualitas adalah kumpulan motivasi-motivasi injili yang kuat dan dalam, yang memberi makna pada harapan, kesetiaan, dan komitmen kita kepada Gereja, untuk mengikuti Yesus Kristus dengan dorongan Roh Kudus.<br />
<span style="font-size:10pt;">Spiritualitas ini menjadi lebih terbentuk berdasarkan ketaatan kita kepada Yesus</span><span id="more-17"></span><span style="font-size:10pt;">, baik dalam pengalaman pribadi maupun hidup komunitas berdasarkan iman. Dokumen spiritualitas ini dimaksudkan sebagai acuan bagi mereka yang mau menerimanya sebagai suatu cara hidup ataupun sebagai pengantar bagi mereka yang tertarik untuk bergabung dengan MAVI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;">Mengerti dan menerima Injil, jejak-jejak langkah Kristus, dan hidup menurut kehendak Roh Kudus merupakan cara yang telah ada dalam sejarah. Juga, merupakan suatu anugerah bahwa seseorang memohon melalui inspirasi ilahi, walaupun hal ini menuntut kasih dan jawaban kerja sama kita. “Setiap orang, menurut anugerah dan tugas masing-masing, wajib melangkah tanpa ragu menempuh jalan iman yang hidup, yang membangkitkan harapan dan mewujudkan diri melalui cinta kasih.” (LG art. 41).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;">Bagaimanapun spiritualitas bukanlah sesuatu yang bisa dipandang ringan. Spiritualitas haruslah diperdalam menurut tema-tema prinsip hidup kristiani dan diperbaharui menurut tuntutan-tuntutan misi dan kebutuhan-kebutuhan kaum miskin. Karena itu, spiritualitas perlu selalu disesuaikan dengan konteks sosio budaya dan gerejani di mana pun para misionaris berada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">1.2. SPIRITUALITAS MISIONER</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Menurut spiritualitas misioner, mata kita seharusnya terarah kepada Yesus Kristus, Misionaris dari Bapa, yang datang untuk melaksanakan rencana keselamatan bagi seluruh umat manusia dan setiap pribadi manusia. Pastilah bahwa semua spiritualitas memiliki dimensi misioner. Namun, kekhususan dari spiritualitas misioner ini adalah bahwa ia berpusat pada menghidupi misteri Kristus yang “diutus” untuk mewartakan kabar gembira (RM art. 88).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bila kita dapat membedakan empat bentuk atau level dalam hidup misionaris, kita akan dapat menemukan empat dimensi lain tentang spiritualitas dan identitas misioner :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">1. Kita meyakini bahwa semua orang kristen adalah misionaris; dalam arti ini semua spiritualitas memiliki dimensi misioner yang dicapai dengan melibatkan diri dalam pewartaan Kerajaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">2. Kita juga mengenal orang-orang kristen yang menjadikan pewartaan kabar gembira kepada orang-orang non-kristen sebagai pusat hidup doa dan asketisme mereka. Dalam aspek doa, kita menemukan di sini banyak orang, biarawan, dan komunitas, misalnya mistikus agung seperti St. Theresia Lisieux.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">3. Juga, kita menemukan orang-orang kristen yang aktif mempromosikan pewartaan Injil di antara orang-orang yang belum percaya, melalui penggunaan media, memfasilitasi penyebaran ribuan salinan Kitab Suci, dan penyadaran akan proyek-proyek dan institusi-institusi sosial Gereja yang ditujukan untuk misi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">4. Akhirnya, ada spiritualitas dari orang-orang kristen yang menemukan dalam dirinya suatu panggilan misioner khusus. Mereka melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan evangelisasi secara langsung, mewartakan Injil di antara orang-orang non-kristiani, dan berjuang untuk membentuk komunitas-komunitas kristen baru. Panggilan misioner ini biasanya mengikat seseorang secara total dan menjadikannya sebagai suatu pilihan hidup. Panggilan tersebut adalah panggilan khusus (RM art. 27), yang dihidupi seseorang dengan spiritualitas khusus pula (RM art. 87).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Spiritualitas misioner bervariasi, bergantung pada panggilan dan karisma yang berbeda-beda. Karena itu, ada bermacam variasi dalam mengikuti Yesus Kristus, Sang Misionaris : dalam doa, kerasulan, bentuk-bentuk hidup bersama, karya-karya sosial, donasi, dst.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">1.3. SPIRITUALITAS VINSENSIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Spiritualitas Vinsensian memiliki ciri khas bertemu Kristus dalam diri kaum miskin. Kepada kita Kristus menyatakan kasih tak terbatas dari Bapa bagi seluruh umat manusia, dan Ia mengundang kita untuk prihatin atas keselamatan seluruh saudara kita. Kita mengkontemplasikan Yesus sebagai Pengabdi Bapa dan Pelayan Kaum Miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Hanya iman yang membuat kita mampu melihat realitas sebenarnya sebagaimana ada di hadapan Allah. Iman ini membuat kita mampu menemukan Kristus dalam diri kaum miskin, karena “ketika kita melayani orang miskin, kita melayani Kristus… dan hal itu begitu pasti” (XI, 240). Agar dapat melaksanakan kata-kata tersebut, kita perlu memohon rahmat Allah dan merefleksikan tindakan-tindakan Yesus : “Mari kita melihat Putera Allah. Hati yang begitu penuh kasih! Betapa cinta yang membara. Oh, Penyelamat kita! Sumber cinta yang direndahkan di hadapan siksaan keji salib! Siapakah yang memiliki cinta seperti Engkau? Saudara-saudaraku, jika kita memiliki sebagian dari cinta itu, akankah kita diam dan menyilangkan tangan kita? Akankah kita membiarkan mati segala hal yang bisa kita pelihara? Tidak, cinta kasih tidak dapat diam berpangku tangan, melainkan menggerakkan kita untuk menyelamatkan dan menghibur sesama.” (XI, 132)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Merupakan hal yang penting untuk memiliki perasaan-perasaan yang berasal dari hati Kristus, penuh belas kasih pada manusia, “…siapa saja yang telah dipanggil untuk melanjutkan misi Kristus hendaknya dipenuhi oleh perasaan dan afeksi yang sama…untuk mengikuti jejak langkahNya dengan setia.” (Pembukaan <em>Rules Communes CM</em>).<span> </span>Identifikasi dengan Yesus Kristus ini akan membangkitkan dalam diri para Vinsensians roh mereka sendiri, yang memiliki ciri khas kesderhanaan, kerendahan hati, kelembutan, matiraga, dan cinta kasih atau semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Misi ini merupakan inti dari pemikiran dan kegiatan Vinsensius de Paul. Dia mengalirkan seluruh panggilannya pada “kaum miskin, yang terhukum karena tidak memiliki pengetahuan yang perlu bagi keselamatan mereka”, karena mereka kekurangan sarana-sarana yang penting untuk hidup secara pantas dan untuk mengembangkan martabat mereka sebagai anak-anak Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Vinsensius tak pernah jera dalam menanamkan dalam diri para pengikutnya semangat kesiapsediaan untuk pergi ke mana saja di dunia ini, untuk mewujudkan perintah evangelisasi Yesus, yang telah bangkit, menjadi kenyataan. Rasa kesanggupan misionaris Vinsensian dijelaskan oleh kontemplasi terhadap misi Putera Allah dan terhadap misi evangelisasi Gereja, yang diutus oleh Yesus Kristus ke seluruh dunia. “Apa artinya menjadi seorang misionaris? Apa artinya diutus, diutus oleh Allah? Tuhan kita berkata kepadamu, ‘Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah kabar gembira kepada semua mahluk.’” (XI, 342). Karena alasan ini, seluruh Keluarga Vinsensian merasa dipanggil dan diutus, atas nama Yesus dan atas nama Gereja, untuk memberitakan Injil dan untuk mengabdi kaum miskin tanpa batasan kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita memahami bahwa semua orang adalah subjek dari Kasih Allah dan objek dari pembebasan dan perkembangan kita sendiri. Tetapi, penerimaan akan spiritualitas Vinsensian ini juga membuat kita menjadi subjek dari persahabatan kita dengan kaum miskin dan objek dari evangelisasi mereka. Perhatian yang terus-menerus perlu kita miliki untuk memberi hidup pada Semangat Vinsensian dan untuk mewujudkannya dalam aneka realitas yang berbeda-beda, dari suatu sikap kritis, menjadi penuh perhatian terhadap perubahan, tantangan-tantangan, kemajuan-kemajuan…menjadi setia pada akar-akar Vinsensian dan keawaman kita, dengan memberikan jawaban pada tuntutan Injil. Bahasa Vinsensian seharusnya berupa : perbuatan yang memajukan dan mengembangkan keadilan, kata-kata yang mewartakan belas kasih Allah, hubungan-hubungan yang membangun komunitas dengan orang miskin.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Spiritualitas Vinsensian diperkaya oleh kontemplasinya pada Maria, yang mendorong kita untuk bertekun dalam pengenalan akan karya Allah dalam sejarah kita, seperti yang dinyatakan dalam pelayanan-pelayanan yang membangun Kerajaan Allah. Jawaban “ya” dari Maria dan penampakannya pada tahun 1830 (penampakan Maria Medali Wasiat kepada St. Katarina Laboure PK) mendorong kita untuk meningkatkan kesiapsediaan evangelisasi kita dan memberi, khususnya demi kaum muda yang terbuang.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">2. KITA MENYADARI KERAJAAN ALLAH DALAM PROSES-PROSES YANG POSITIF </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">DAN MENGGEMBIRAKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></strong><span style="font-size:10pt;">Para misionaris awam menyadari bahwa Kerajaan Allah hadir di tengah kita sebagai suatu anugerah Allah dan sebagai hasil perjuangan orang-orang yang memiliki kehendak baik. Harapan kita bersandar pada hal itu. Kehadiran ini disadari dalam tanda-tanda berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">1.<span> </span>Kita mengakui ada elemen-elemen dalam banyak kebudayaan yang secara mendalam bersifat memanusiakan : kesadaran yang lebih besar akan hak-hak asasi manusia yang semakin dimungkinkan bagi kelompok-kelompok minoritas, pendidikan dasar diperluas pada kelompok-kelompok masyarakat yang lebih besar, kebebasan ditingkatkan dalam segala bentuk perwujudannya, pembinaan demokrasi dan organisasi massa dikonsolidasikan sebagai sistem-sistem politis seperti yang diharapkan, informasi dan teknologi-teknologi komunikasi yang baru yang memperlancar budaya global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">2.<span> </span>Suatu kesadaran sosial yang lebih besar telah berkembang terhadap mereka yang membutuhkan, baik di lingkungan dekat kita maupun di tingkat global. Hal ini mendorong banyak kaum awam mencari bentuk-bentuk konkret untuk mengikuti dan melibatkan diri dalam program-program untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pembangunan, pemerataan-diskriminasi, perdamaian, kesehatan, ekologi, dan sebagainya. Ini merupakan suatu kerinduan yang kuat akan persaudaraan universal dan saling membantu tanpa perbedaan ras, kondisi sosial, maupun kepercayaan, untuk berjuang mengatasi fenomena berganda pembedaan sosial. Inilah salah satu tanda paling menonjol dari budaya sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">3.<span> </span>Suatu perubahan, yang penuh harapan, sedang berlangsung dalam sikap para awam berhadapan dengan karya evangelisasi. Sedikit demi sedikit kaum awam mengambil tanggung jawab, yang telah diterima melalui Baptisan dan diperkuat oleh Krisma, sebagai karakter utama dalam misi meneruskan warta Injil dalam konteks sosial yang berbeda-beda. Iman akan Yesus Kristus, yang selalu diiringi oleh pewartaan kabar gembira dengan perbuatan-perbuatan dan tanda-tanda yang sekarang ini menampakkan kehadiran Kerajaan Allah, melalui pribadi-pribadi yang integral, bebas, dan bertanggung jawab, yang berkomitmen pada transformasi masyarakat, membawa kita pada kemajuan yang mengarah pada persaudaraan penuh damai dan transenden. Keluarga Vinsensian sedang berkembang dalam identitasnya, dalam rencana-rencana umum dan tantangannya dalam meningkatkan pewartaan Injil kepada kaum miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">4.<span> </span>Sebagai konsekuensi dari hal di atas, sekarang ini sejumlah saluran telah terbuka bagi para awam. Mereka diundang untuk melibatkan diri dalam evangelisasi dan perkembangannya di luar batas-batas wilayah mereka. Telah muncul banyak organisasi bagi kaum muda dan remaja, yang menawarkan keterlibatan dalam suatu misi selama liburan atau untuk suatu periode tertentu. Kegiatan tersebut merupakan pelayanan yang sungguh luar biasa,<span> </span>yang dibuat oleh gereja-gereja muda bagi mereka dari dunia pertama dan komunitas-komunitas tua. Tetapi hal itu menuntut persiapan serius, karena perlu berpikir bukan hanya dari sudut pandang mereka yang dikirim maupun yang mengirim. Merupakan hal yang sangat fundamental untuk berpikir dari sudut pandang kebutuhan-kebutuhan misi, komunitas, dan orang-orang, kepada siapa mereka kita kirimkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">5.<span> </span>Bertambah banyaknya LSM berkarakter sosial merupakan contoh menyolok tentang kepekaan dan kerinduan akan solidaritas dalam masyarakat kita sekarang ini. LSM-LSM tersebut adalah karya sukarela dari mereka yang kebanyakan non-kristen. Namun, mereka mengundang banyak orang, yang ingin berpartisipasi, dalam tugas-tugas solidaritas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">6.<span> </span>Dalam keluarga Vinsensian, kaum muda menghendaki untuk menghidupi nilai-nilai Injili dalam komunitas. Dengan rasa syukur, pelayanan, kerendahan, dan bahkan ketegangan, mereka memberikan waktu dan hidup bagi proyek-proyek sosial dalam budaya mereka sendiri, seperti keterlibatan dalam misi-misi <em>ad-gentes</em>. Contoh tentang hal ini antara lain <em>Permanent Service Communities of Service </em><span> </span>dan <em>Permanent Mission Communities</em> yang dimulai oleh JMV Sepanyol beberapa tahun yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Semua hal di atas adalah tanda-tanda, yang menggembirakan, yang membuat kita merasa bahwa Kerajaan Allah TELAH<span> </span>menjadi kenyataan di sini dan sekarang ini. Ini adalah anugerah Tuhan bagi usaha-usaha misioner GerejaNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">3. REALITAS BERBICARA KEPADA KITA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kehadiran Kerajaan Allah di dunia tidak menghalangi kita untuk menyadari adanya banyak realitas manusiawi yang masih memerlukan penyembuhan, misalnya untuk mengatasi kemiskinan dan tanda-tanda negatif lain. Agar memiliki komitmen yang benar untuk misi, kita perlu melakukan analisis kritis yang tepat terhadap masyarakat dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang dihidupi di jaman kita ini. Elemen-elemen negatif dan kesulitan-kesulitan justru akan membantu kita untuk terbuka terhadap rahmat Allah dan menemukan di mana harus kita meletakkan fokus dengan penuh ketekunan dan kreativitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dari sekian banyak kenyataan dalam masyarakat yang berbicara kepada kita, kita menekankan hal-hal berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Kita hidup dalam suatu budaya yang dominan, yang ditandai oleh nilai-nilai negatif, di mana “memiliki” dianggap lebih penting daripada “menjadi” : dominasi kuat dari konsumerisme dan elemen-elemen residualnya seperti pengangguran, persaingan, dan individualisme, perpecahan keluarga dan berkembangnya jumlah <em>single-parent</em>, kekerasan dan kejahatan, penyalahgunaan obat, dst. Semua itu berada dalam konteks membengkaknya jumlah mereka yang tinggal pada taraf kemiskinan dan tersingkirnya kelompok-kelompok besar umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Globalisasi dan neo-liberalisme adalah sistem ekonomi yang tidak adil, yang menghasilkan kemakmuran bagi kelompok minoritas. Di lain pihak, semakin banyak negara mengalami bentuk-bentuk baru kemiskinan berhadapan dengan situasi serius ketidakadilan, seperti hutang luar negeri, migrasi, pemerintahan diktator dan korupsi di tingkat multinasional, pembatasan hak-hak sosial dasar (kesehatan, pendidikan, perumahan), lalu lintas obat terlarang dan kelompok-kelompok kriminal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Budaya-budaya kritis dan alternatif-alternatif mengalami kesulitan besar untuk tetap menjadi opsi yang secara sosial bermakna, dengan usaha memperbaharui diri di tengah-tengah evolusi sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Seringkali program-program relawan dan kerjasama internasional terhenti oleh rantai birokrasi dan beban berat honor bagi para anggota yang di luar negeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Munculnya gerakan-gerakan “<em>New Age</em>” dan berkembangnya sekte-sekte religius serta gerakan-gerakan yang berupaya menemukan makna dalam kebutuhan transenden manusia.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;">Pada level gerejani kita melihat elemen-elemen yang berbeda, yang mengundang kita untuk berkarya, sehingga komunitas Kristen akan semakin terbuka terhadap pembangunan Kerajaan Allah :</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Paroki-paroki tidak lagi merupakan struktur otentik komunio di antara komunitas-komunitas. Mereka bahkan membiarkan diri dipengaruhi oleh kemapanan dan birokrasi. Sementara sakramen-sakramen tidak membentuk hidup berdasarkan Roh Kudus. Hal-hal itu tak akan terjadi bila semua yang digariskan oleh Konsili Vatikan II secara total diterima dan dilaksanakan.</span></p>
<p class="MsoBodyText">♦<span> </span>Hidup sehari-hari Gereja tidak lagi menarik bagi kaum muda. Bahkan keheningan dan kemurahan hati telah menjadi barang kuno bagi kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan kristen modern.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Kerap kali diungkapkan gambaran yang <em>double negative</em> tentang hirarki di barat, yaitu di satu sisi mereka sangat jauh dari umat dan, di sisi lain, terjadinya penumpukan harta kekayaan yang luar biasa dalam Gereja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Pengakuan akan vitalitas Gereja di belahan bumi selatan tidak pernah berakhir, yang pada gilirannya memberikan banyak dukungan bagi formatio para pembina mereka dan menghargai sumbangan kaum awam dan kaum muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita juga menemukan beberapa godaan dalam hidup para misionaris, yang perlu kita atasi bersama:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Godaan untuk menjadi pahlawan : berpikir bahwa kita tidak tergantikan, dan cenderung menjadi paternalistik, tidak mempercayai orang lain, maupun tidak tahu bagaimana bekerja dalam suatu tim. Penting bagi kita untuk mengakui keterbatasan dan kerapuhan setiap pribadi, dengan menyadari bahwa hanya ada satu Gembala yang membuat segala karya kita berbuah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Godaan untuk jatuh pada fatalisme : jatuh pada kebiasaan, mengalami depresi karena kurangnya hasil yang dapat dilihat. Kita perlu percaya bahwa Tuhan selalu bersama mereka yang bekerja membangun KerajaanNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦<span> </span>Godaan akan narcisisme : berpusat hanya pada diri sendiri, cenderung menyesuaikan diri dengan gaya hidup kelas menengah, bekerja hanya di bidang-bidang yang kita ketahui atau yang mudah. Penting bagi kita untuk hidup menurut dinamisme penebusan salib Kristus, dengan mendasarkan diri kita pada rencana keselamatan Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText">♦<span> </span>Godaan untuk jatuh dalam aktivisme : bekerja dengan sejumlah komitmen tanpa refleksi dan disermen, berkarya tanpa motivasi iman dan kontemplasi. Untuk mengatasi visi-visi parsial ini, kita perlu mengembangkan persahabatan dan kepekaan sebagai peng-ambilbagian dalam karya Kerajaan Allah.</p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">4. SECARA EKSPLISIT MENENTUKAN IDENTITAS MISIONER KITA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Tugas utama Gereja adalah evangelisasi (EN art. 1,14), untuk menjadi tanda dan sakramen Kerajaan Allah di antara umat manusia; suatu Kerajaan cinta, kebebasan, keadilan, kedamaian. Dan, karena misi merupakan elemen esensial evangelisasi, semua pengikut Yesus Kristus berpartisipasi dalam tugas ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.1. KITA ADALAH KAUM AWAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Oleh Baptisan kita dipilih Allah dan diundang untuk menerima keselamatan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menimbang (Lk 1:34-35) dan untuk memilih panggilan ini, yang berasal dari Tuhan yang tinggal dalam diri kita (1Ptr 1:23), dengan membangun suatu komunio yang intim dengan Kristus (ChL art. 9), seperti pokok anggur dengan ranting-rantingnya (Yoh 15:4), sehingga Kristus sepenuhnya hidup dalam diri kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dalam iman kita memiliki gelar Anak-anak Allah dalam Kristus (LG art. 15,31,32) dan kita melepaskan “manusia lama” kita untuk mengenakan “manusia baru” dari Kristus yang sama (Gal 3:27). Melalui Baptisan kita masuk dalam kelompok Umat Awam Allah. Seluruh umat manusia diundang masuk ke dalam kelompok ini (LG art. 9) dan menjadi subjek cinta dan pelayanan kita, sebagaimana Kristus sendiri mencintai dan melayani mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sebagai pribadi-pribadi awam kita berpartisipasi dalam imamat pelayanan Kristus (LG art. 34), dengan mempersembahkan bagi diri kita dengan sepenuhnya murah hati hari ke hari (1Ptr 2:5-9), dengan memasrahkan segala diri kita dan segala yang kita miliki, hidup kita sendiri, demi Kerajaan Allah (ChL art. 14).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita juga berpartisipasi dalam pelayanan kenabian (LG art. 35), dengan mewartakan Injil melalui kata dan perbuatan, menghadirkan Kristus dalam hidup kita sehari-hari dan menolak ketidak-adilan yang ada dalam dunia kita (ChL art. 14).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Juga, kita berpartisipasi dalam pelayanan rajawi (LG art. 36); kita merefleksikan dan mewartakan bahwa Kristus adalah Raja, bahwa Dia mengatasi segala yang duniawi dan seharusnya menjadi hal utama dalam prioritas nilai hidup kita (Rom 6:12-14).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sebagai kaum awam, kita seharusnya memiliki sikap kritis dalam berhadapan dengan realitas, dengan dibimbing oleh karisma Vinsensian. Kita perlu terus–menerus berusaha menjadikan semangat Vinsensian relevan dan mewujudkannya dalam realitas yang berbeda-beda, dengan didasari oleh pengetahuan kritis dan menjadi penuh perhatian terhadap perubahan, tantangan, kemajuan, yang memberikan jawaban-jawaban terhadap tuntutan Injil. Hal ini mengandaikan suatu perhatian yang terus-menerus terhadap pembinaan diri dan latihan spesifik menurut kebutuhan kaum miskin.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span> </span>Kita, sekali lagi sebagai kaum awam, berusaha menghadirkan struktur-struktur sosial, kelompok, dan organisasi, yang menyumbangkan kondisi kita sebagai Gereja. Kita menggabungkan bersama PEWARTAAN (area evangelisasi), KEHIDUPAN (area sosial), dan PERAYAAN (area liturgi) dari Kabar Gembira di tempat yang berbeda-beda di mana pun kita berada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.2. KITA MENGHIDUPI IDENTITAS MISIONER</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita menghidupi identitas misioner kita mulai dari panggilan hingga mengarah kepada kesucian, sesuatu hal yang umum bagi semua orang kristen, dan kita menjadikannya nyata melalui iman, harapan, dan cinta kasih (AA art. 4).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Iman adalah penerimaan anugerah, yang kita terima bukan karena jasa kita, seperti anugerah agung di mana kita mempersembahkan diri secara total kepada Allah Bapa, dengan meletakkan diri kita ke dalam tanganNya dan mengembangkan suatu kepekaan baru untuk menemukan kehadiranNya di dunia (Ibr 17:28).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Harapan yang lengkap dalam iman untuk hidup dalam suatu sikap percaya yang kontinyu kepada Allah, dengan menunggu Allah untuk membimbing kita dan bertindak dalam diri kita, hidup dalam kerendahan hati dan simplitas, seperti seseorang yang membiarkan dirinya dibawa dengan kepercayaan total. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;">Cinta kasih mengarahkan kita untuk mencintai Allah, karena Ia telah memilih kita, dengan memberikan hidupNya bagi kita (LG art. 42) dan menawari kita suatu skala nilai bagi kebahagiaan kita (1Kor 13:1-3). Kita menyadari bahwa cinta kasih kepada sesama merupakan ungkapan terbaik cinta kasih kita kepada Allah, yang menjadikan kita pribadi-pribadi “bagi semua” seperti Kristus (Flp 2:5).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:10pt;">Panggilan kepada kesucian awam ini melibatkan kita pada situasi manusiawi yang berbeda-beda. Kita diundang untuk hadir dalam dunia (ChL art. 17), dalam realitas masa kini kita, dengan mencoba mengubahnya menjadi sesuai dengan kehendak Bapa, sesuai dengan nilai-nilai Injil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.2.1. Patuh kepada Roh Kudus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Para murid Kristus telah menunjukkan kepada kita cara untuk memperoleh spiritualitas misioner. Mereka belajar bagaimana menjadi rasul-rasul iman secara bertahap, dengan mengikuti teladan Yesus Kristus, “rasul pertama” yang diutus oleh Bapa. Roh Kudus telah mengubah mereka menjadi “saksi-saksi luar biasa Kristus dan pewarta-pewarta brilyan SabdaNya” (RM art. 87). Roh Kudus telah mengubah beberapa pengikut, yang sedang ketakutan pada saat itu, dengan memberi mereka hidup, doa, kerasulan, persembahan radikal…mereka menjadi baru, dengan visi baru tentang Allah, dunia, dan diri mereka sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Seperti para rasul, kita pun telah dipenuhi oleh Roh Kudus, dan telah membiarkan diri dibimbing olehNya dalam menentukan tempat, daerah, dan metode-metode evangelisasi (RM art. 24). Misi juga merupakan buah dari gerakan Roh yang sama, yang menggerakkan para misionaris untuk dipertobatkan dalam mengikuti Yesus Kristus dan untuk membangkitkan sikap yang sama dalam diri orang-orang sejaman mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Segenap kehidupan misioner yang otentik seharusnya dihidupi dalam suatu kebahagiaan, yang berasal dari dalam, yang diberikan oleh Roh Kudus bagi mereka yang hidup dalam iman, karena dalam Kristus kita menemukan harapan yang sejati. “Jika pasti bahwa kita telah dipanggil untuk membawakan cinta kasih Allah kepada orang-orang di sekitar kita dan ke seluruh dunia, jika kita harus menggelorakan cinta kasih itu kepada semua bangsa, jika kita memiliki panggilan untuk pergi dan menyinarkan api ilahi itu ke seluruh dunia, jika memang demikian, betapa aku harus lebih gelorakan lagi oleh api ilahi ini!” (St. Vinsensius de Paul).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.2.2. Menghidupi Sebuah Sikap Keterlibatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kristus, dalam inkarnasiNya, mampu mengatasi jarak dan batas-batas antara yang manusiawi dan ilahi. Syukur atas kemanusiaanNya, umat manusia tidak lagi merasa jauh dari Allah. Bahkan mereka mengenali diri mereka sebagai anak-anak dan ahli waris janji-janji Allah (Gal 4:4-7). Kristus telah menerima pribadi manusia sebagai diriNya sendiri, dan membuat diriNya miskin untuk menampung kelemahan kita. “Ia telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp 2:7-8).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Proses sharing kondisi manusiawi dan kultural dari tempat, di mana kita diutus, adalah proses yang tidak pernah berhenti, yang senantiasa menemani para misionaris. Inkarnasi atau keterlibatan ke dalam suatu budaya merupakan sebuah exodus terus-menerus dari seseorang, mengarah pada sikap indiferen dan dan pengabaian, yang menerima kurangnya pemahaman dan kekeliruan dalam pemenuhan misi, dengan mengikuti teladan Yesus Kristus. Siapapun, yang sungguh-sungguh terlibat di suatu tempat, seharusnya berkomitmen dan memberikan diri sepenuhnya pada tugas ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Sebagai misionaris-misionaris awam, yang telah dipilih dan diutus, kita dipanggil untuk melanjutkan hidup dan misi Yesus Kristus dalam sebuah realias konkret, pada suatu masa tertentu dalam sejarah, yang harus kita respon dengan penyerahan total dan kemurahan hati, karena :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:10pt;">♦ untuk mengetahui realitas, kita perlu mengalaminya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:10pt;">♦ untuk mencintai realitas, kita perlu menderita baginya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:10pt;">♦ untuk mengubah realitas, kita perlu menjadi bagian darinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Misi kita di dunia seharusnya dilaksanakan bersama dengan mereka yang miskin, dengan mereka yang paling lemah (Mat 25:40), memilih untuk berada bersama dengan mereka, menghargai perasaan dan hidup mereka di dunia, hidup bersama mereka dalam cinta kasih kerasulan : dengan perhatian, kemesraan, belas kasihan, keterbukaan, kesiapsediaan…dengan mengikuti teladan Vinsensius de Paul, yang menempatkan seluruh hidup dan cinta kasihnya dalam pelayanan kepada orang miskin. “Orang miskin adalah belenggu dan penderitaanku.” “Kaum miskin adalah tuan dan majikan kita, kita tidak pantas dengan pelayanan kecil yang kita berikan kepada mereka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Spiritualitas misioner membimbing kita pada sebuah keterlibatan otentik (RM art. 88). Dengan spiritualitas tersebut seorang misionaris menjadi seperti mereka, kepada siapa ia diutus. Ia menjadi “saudara universal”, yang menyingkapkan nilai-nilai dari budaya baru, yang menyambut dan membantunya untuk merasakan dan memperkaya mereka dalam komunio gerejani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.2.3. Mendukung dan Berbagi Proses Solidaritas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yesus Kristus menyimpulkan kehidupanNya dalam pewartaan bagi orang miskin bahwa Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah adalah untuk mereka (Luk 4:18). Ia menunjukkan bahwa Allah Bapa adalah cinta, karena Ia mencinta mereka yang tidak dicintai oleh seorangpun, mereka yang “lelah dan ditindas” (Mat 11:28), mereka yang mengalami penghinaan dan cemohan di depan publik, dan mereka yang putus asa karena tidak mampu untuk menemukan keselamatan dalam Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Evangelisasi misioner telah muncul dengan sesuatu yang baru, mewartakan bahwa sesuatu sedang berubah dalam dan bagi kaum miskin oleh kehendak dan kuasa Allah. Hal yang baru ini menghasilkan kebahagiaan dan menumbuhkan harapan, karena rencana Allah adalah adanya kehidupan dan persaudaraan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>“Dengan menjadi dekat dengan orang miskin, seperti menemani dan melayaninya, kita sedang melakukan apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita, ketika dalam inkarnasi Ia menjadi saudara kita, miskin seperti kita.” (Dok. Puebla art. 909). Di satu pihak, kasih kepada orang miskin merupakan suatu anugerah, yang kita terima dari Allah dan kasih itu mengantar kita pada dinamika belas kasihan, yang mengiringi Allah dalam mencintai kaum miskin. Di lain pihak, keadilan menuntut kita untuk menjadi realistis dan mencari keefektivan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>“Kita adalah pewaris masyarakat yang murah hati, kampanye-kampanye darurat, dan bantuan yang tepat waktu, yang akan terus berlanjut, karena orang miskin dan orang yang malang akan terus ada. Namun tidak berarti solidaritas semata-mata adalah tepat waktu, bersifat okasional. Kita harus menghasilkan pengaruh dalam struktur. Dan, dalam perspektif ini, saya menemukan bahwa kita seharusnya lebih menuntut persamaan atau ekualitas sebagai tujuan solidaritas. Persamaan bagi manusia, persamaan bagi daerah-daerah; persamaan dalam martabat, dalam hak-hak, dan kesempatan-kesempatan.” (Rm. Casaldáliga CM).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Para misionaris perlu mencari perkembangan diri kaum miskin dengan aktivitas-aktivitas personal dalam aneka proyek, yang membantu pembebasan kaum yang miskin dan yang paling lemah. Suatu opsi fundamental harus tersedia untuk menciptakan kesadaran dan mengembangkan hati nurani, yang kritis terhadap keadaan masyarakat dan kecenderungan manusia akan pembenaran diri. Kita juga dapat mendukung proyek-proyek konkret, yang memfasilitasi distribusi kemakmuran secara merata bagi semua warga bumi, tanpa menciptakan ketergantungan baru, dengan menumbuhkan kemampuan untuk menjadi karakter utama dalam proses perkembangan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita pun perlu menyadari bahwa cinta kasih politis menuntut kita, orang-orang kristen, menghidupi identitas kita dalam level sosial, yang menghasilkan akibat-akibat, yang berasal dari nilai-nilai evangelis bagi karya sehari-hari. Kita perlu pula mengetahui dan mendukung gerakan-gerakan yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia, pembatalan hutang luar negeri, dan gerakan-gerakan sosial alternatif…. Ssekarang ini kesucian tidaklah mungkin tanpa suatu komitmen akan keadilan, tanpa solidaritas dengan kaum miskin dan tertindas. Karena itu, “kesucian di kalangan umat beriman awam haruslah berupa melibatkan dimensi sosial dalam upaya mengubah dunia menjadi sesuai dengan rencana Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">4.2.4. Membangun Hidup Gereja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Spiritualitas misioner juga memiliki ciri khas cinta kasih yang mendalam kepada Gereja. Seperti Kristus mencintai Gereja dan menyerahkan diri kepadanya (Ef 5:25), para misionaris berusaha menyerahkan diri mereka bagi Gereja, bagi kebaikan semua (RM art. 89).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Pengalaman personal akan Sabda dan liturgi merupakan makanan utama bagi hidup spiritual sejati. Itulah cara di mana semua orang dapat berpartisipasi dalam hal-hal yang ditawarkan bagi mereka dalam persaudaraan dengan murid-murid Yesus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Gereja universal berlangsung dalam Gereja-gereja partikular. Karena itu, sikap mengikuti Kristus memiliki bentuk dan wujudnya yang nyata dalam perbedaan komunitas-komunitas gerejani, dalam kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan gerejani, dalam begitu banyak macam karisma, pelayanan dan anugerah. Gereja dibangun dengan cara ini, dan senantiasa dipelihara oleh Sabda dan sakramen-sakramen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Di samping mendukung pembangunan komunitas-komunitas gerejani, misionaris perlu mengusahakan agar semua orang yang percaya akan satu Allah mencapai suatu pengakuan akan paguyuban hidup, sakramen, dan komitmen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Misi kita di jantung Gereja akan memiliki ciri-ciri :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ menyumbang kepada komunitas gerejani karisma Vinsensian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ berpartisipasi dalam struktur-struktur pastoral untuk mengarahkan aksi-aksi Gereja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ bekerja sama pada tingkat keuskupan dalam mengenali dan mencari segala potensi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ mempromosikan Keluarga Vinsensian dalam organisasi mereka dengan aksi bersama dan integral.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">▪ kehadiran kaum awam yang berkomitmen : pewartaan, kehidupan, dan perayaan.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">5. MENYIMPULKAN SEBUAH GAYA HIDUP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">5.1. BERPUSAT PADA YESUS KRISTUS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yesus Kristus adalah misionaris utama. Ia adalah misionaris yang dikirim oleh Bapa untuk melengkapi rencana Bapa dengan cara yang bebas dan tanpa peduli jasa kita, dengan menjawab pencarian manusia akan arti hidup dan memberi sebuah wawasan bagi seluruh harapan kita. Dalam kontemplasi kita akan Yesus Kristus, kita menemukan bahwa :</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">♦ Yesus Kristus adalah pewarta Injil pertama (EN art. 1,7) dan Ia mewartakan Kerajaan Allah yang inti atau pusatnya adalah keselamatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ Ia menjadikan kehendak Bapa sebagai kehendakNya sendiri : Abba, yang membuat kita menjadi anak-anakNya dan menjadi saudara bagi yang lain dalam Allah (Rom 8:14-17).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ Yesus menghidupi suatu <em>preferential option</em> terhadap kaum yang paling miskin dan tidak punya, yang, sekali menerima pewartaanNya, menjadi murid-muridNya (EN art. 1, 12).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ Di antara sikap-sikapnya, kita dapat menekankan belas kasihan, kerendahan hati, simplisitas, cinta kasih, dan pelayanan, yang kita ambil bagi hidup kita hingga konsekuensi-konsekuensi terakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ Yesus Kristus adalah sumber spiritualitas, yang membebaskan kita dari ambiguitas sejarah kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Untuk hidup dalam kesetiaan terus-menerus pada Yesus Kristus, perlulah mengembangkan suatu kepekaan kontemplatif, yang memberi dorongan bagi motivasi-motivasi kita dalam mengabdi kaum miskin. Kita menyadari bahwa doa dan kontemplasi sangat fundamental dalam spiritualitas misioner, karena keberhasilan misi tidak tergantung pada sumber daya manusia. Seorang misionaris perlu menjadi kontemplatif dalam aksi, atau sebaliknya ia tidak akan bisa dipercaya dalam mewartakan Kristus (RM art. 91). Juga, kita menemukan dalam doa kekuatan bagi pewartaan misioner dan cahaya dalam berhadapan dengan persoalan-persoalan pribadi dan problem-problem misioner kita. “Berilah aku seorang pendoa dan dia akan mampu melakukan segalanya” (St. Vinsensius de Paul).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Hidup rohani para misionaris perlu dengan hati-hati dipelihara :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ Setiap hari menyediakan saat-saat bagi doa bersama dan pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ Secara teratur membaca dan meditasi atas Kitab Suci.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">▪ Secara teratur pula menghadiri perayaan Ekaristi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ Menyediakan waktu selama beberapa hari untuk latihan rohani tahunan (retret).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ Mengadakan pertemuan komunitas untuk sharing hidup spiritual Vinsensian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">5.2. KITA MEMILIH MISI DI ANTARA KAUM MISKIN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Baik perhatian terhadap tanda-tanda jaman maupun pengalaman sentral akan panggilan Vinsensian mengundang kita untuk mencari Kristus dalam pribadi kaum miskin, dalam proses-proses hidup dan kematianNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Cinta kasih Kristus, yang telah disalibkan, mendesak kita untuk membuat cinta afektif menjadi efektif. Cinta kasih itu hanyalah sekedar olok-olokan, jika tidak diterjemahkan ke dalam karya dan komitmen demi mereka yang tertimpa kesedihan dan sakit. “Marilah kita mencintai Tuhan, saudara-saudaraku, marilah kita mencintai Tuhan, tetapi dengan menyingsingkan lengan baju dan memeras keringat kita.” (XI, 733).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Seperti Vinsensius de Paul, kita menemukan bahwa kita dipanggil untuk bekerja sama dalam pewartaan kepada mereka yang paling membutuhkan dan, pada saat yang sama, untuk menemukan Yesus Kristus dalam diri mereka yang tidak tahu arti inkarnasi dan penebusanNya. “Lihatlah di balik medali dan kamu akan melihat, dengan mata iman, apa yang menghadirkan Putera Allah, yang memilih untuk menjadi miskin.” (XI, 725).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dengan hidup sebagai Vinsensian di antara kaum miskin, kita bermaksud :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● kita hidup dan berkarya dalam lingkungan yang biasa, sederhana, dengan perlengkapan seperti yang dimiliki oleh kaum miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● bekerja sama dalam proyek-proyek pengembangan diri bagi mereka yang terbuang dan segala tipe kemiskinan, dengan mengusahakan proyek-proyek pendidikan non-formal, yang partisipatif dan membebaskan, terlaksana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● hidup dalam cinta kasih yang konkret dan efektif, dengan kerendahan hati dan kesederhanaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● kita juga akan mengatur keuangan kita dengan penuh kecermatan dan mensubjekkannya pada disermen komunitas, karena kita sadar bahwa harta benda kita dimaksudkan untuk membantu kaum miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">5.3. HIDUP DALAM KOMUNITAS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Yesus membentuk sebuah komunitas di sekitarNya, sekelompok murid yang meninggalkan segalanya untuk mengikutiNya. Yesus sendiri memberi mereka beberapa indikasi tentang cara hidup, yang akan mengembangkan eksistensi masa depan bagi mereka yang dipanggil (Mat 19:27-29; 18:1-35). Dalam Injil, perjamuan-perjamuan Yesus dengan para muridNya dan mereka yang terbuang memiliki arti yang besar, yang berpuncak pada Ekaristi. Komunitas Yesus dibentuk oleh mereka, yang melaksanakan kehendak Bapa dan hidup sesuai dengan proyek Kerajaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Bahkan jika Perjanjian Baru menunjukkan kepada kita model-model komunitas yang berbeda-beda, kita menemukan bahwa mereka begitu fleksibel dan disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan mereka. Strukturnya begitu kecil dan mereka melayani ikatan cinta kasih, saling mengenal, dan bekerja sama. Setiap pribadi bernilai dan menyumbang sesuai dengan karismanya. Tetapi, tanggung jawab ada pada komunitas. Keramahan dilaksanakan sebagai karisma fundamental dari cinta kasih. Dialog penuh damai di tengah konflik sangat diutamakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Komunitas yang dihidupi dalam Misionaris Awam Vinsensian dimaksudkan seperti paguyuban dari mereka yang melaksanakan kehendak Bapa dan mengambil bagian dalam proyek Kerajaan Allah. Karena itu, mereka tahu bagaimana memberi perhatian sepantasnya kepada struktur-struktur tradisional dan<span> </span>bagaimana menghadapi kesulitan-kesulitan dalam mengikuti Yesus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Struktur dalam komunitas kita kecil, sehingga lebih mudah untuk mengembangkan relasi horisontal dan persaudaraan, menguatkan ikatan cinta kasih dan saling mengenal, kerja sama dan saling membantu. Kita menghormati perbedaan di antara kita dan hidup bersama dalam atmosfer dialog dan disermen dalam cahaya Sabda dan karisma Vinsensian. Pembuatan keputusan-keputusan perlu dilakukan melalui konsensus bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Para misionaris awam perlu mengusahakan suatu komunitas Vinsensian yang berkualitas. Maka kita mengupayakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ berusaha agar setiap misionaris bertumbuh dalam kematangan pribadi, menerima kelemahan dan keterbatasannya, selalu mengusahakan terciptanya komunikasi dengan misionaris lain, mampu bekerja dalam tim, dan berbagi kehidupan secara persaudaraan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ untuk merasa bahwa kita dipanggil oleh Tuhan sebagai satu kelompok komunitas, untuk melanjutkan misiNya, menafsirkan sejarah dan fakta-fakta sehari-hari sebagai tanda-tanda Kerajaan Allah, melakukan disermen dalam Roh Kudus, mencari kebenaran dengan semangat kesederhanaan, seperti layaknya kehidupan persaudaraan yang saling mendukung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ membangun persatuan dalam pluralisme dan menerima situasi-situasi konflik sebagai kesempatan untuk berkembang, menjadi matang, dan menjadi kreatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ mewujudkan elemen-elemen yang membangun hidup komunitas : doa komunitas, kerja sama dalam rencana hidup komunitas, pertemuan-pertemuan refleksi dan disermen, perayaan-perayaan ekaristi dan rekonsiliasi yang dipersiapkan dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ bersosialisasi dengan petugas-petugas pastoral lain, kaum miskin, dan tetangga-tetangga kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ mengikuti program-program pembinaan terus-menerus, yang menjaga kita dalam pembaharuan evangelisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">♦ mengambil karakteristik sejarah dari daerah dan setiap budaya, nilai-nilai, dan pengalaman-pengalaman hidup mereka. Kita hidup dalam komunitas yang terlibat dalam realitas, dengan menjadi tanda persatuan dan mencari cara untuk menghadirkan Allah di tempat-tempat di mana kehadiranNya tampaknya tidak dirasakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">5.4. DENGAN MENENTUKAN RENCANA PRIBADI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Dalam tahap-tahap awal panggilan misioner, minat dan antusiasme untuk melayani Yesus, yang memanggil kita, begitu indah. Tahap tersebut menjadi momen-momen perwujudan diri yang otentik. Kita merasa bahwa hati kita, yang bertemu dengan Yesus Sang Misionaris, menjawab aspirasi-aspirasi terdalam diri manusia. Tetapi motivasi-motivasi ini perlu bertumbuh dan menjadi matang, karena hal-hal tersebut tidak cukup untuk mempertahankan kesetiaan misioner dalam ke-monoton-an hidup sehari-hari, dalam krisis, dan kekeliruan-kekeliruan yang mungkin terjadi. Maka, setiap misionaris awam perlu mengembangkan cara hidup dan cara bertumbuh dalam panggilan dengan perumusan rencana pribadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Seorang misionaris percaya bahwa Yesus Kristus adalah revelasi Allah Bapa, yang mengutus kita menjadi Sabda yang menginkarnasi dengan mereka yang paling miskin. Dengan keyakinan itu, misi kita tidak lain adalah menyatakan Kasih Allah kepada kaum miskin, hidup dalam komunio dengan mereka, memfasilitasi mereka sebagai subjek perkembangan dan pembebasan mereka sendiri, dan juga diinjili oleh mereka. Karena itu, kita perlu memiliki perhatian untuk selalu membaharui semangat Vinsensian dan mewujudkannya dalam realitas hidup kita, dengan suatu sikap kritis, penuh perhatian pada perubahan, tantangan, kemajuan…menjadi setia pada akar-akar Vinsensian dan keawaman kita, yang menjawab tuntutan Injil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Rencana pribadi akan menjadi sebuah sarana, yang memungkinkan perkembangan pilihan-plihan dan sikap-sikap misioner dalam momen-momen yang berbeda dalam pelaksanaan misi. Kita akan menyertai motivasi-motivasi dan pilihan-pilihan fundamental dengan irama hidup, strategi, dan komitmen konkret. Menuliskan proses perumusan dan evaluasi akan menjadi bantuan untuk mengembangkan spiritualitas misioner.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Untuk membantu mengembangkan identitas misioner kita, kita diingatkan bahwa seorang misionaris:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● adalah pengikut setia Yesus Kristus, pewarta kabar gembira kepada kaum miskin. Misionaris menemukan dalam Dia harapan yang sejati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● terinspirasi oleh dan diutus untuk membangun Kerajaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan disermen terhadap tanda-tanda jaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● adalah seorang pribadi yang berasal dari doa-doa pribadi dan komunitas, di mana ia membaharui komitmennya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● hidup dalam komunio dengan Gereja dan merayakan sakramen-sakramen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● kreatif, dinamis, dan berinkarnasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● membantu Gereja untuk hidup dalam dunia fana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● melayani realitas konkret.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● berada di sisi kaum miskin dan yang terkecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● membantu untuk menaikkan martabat kehidupan dan perasaan sesama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● menemukan Maria dalam model inkarnasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● penuh perhatian, rendah hati, sederhana, lemah lembut, berbelaskasihan, dan selalu siap sedia, dengan mengikuti teladan St. Vinsensius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● merindukan keadilan dan damai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">● hidup dalam suatu komunitas misionaris awam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Proyek pribadi para misionaris haruslah searah dengan perkembangan sikap-sikap fundamental misionaris :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ sikap mendengarkan dan membuka mata lebar-lebar untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ mempertimbangkan segala peristiwa hidup dalam cahaya iman, Sabda, dan spiritualitas Vinsensian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ menghidupi suatu komitmen nyata dalam pembebasan integral kaum miskin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ terbuka pada dialog dan saling pengertian, dengan menghormati dan mencintai perbedaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ mewujudkan diri dalam budaya dan realitas di mana ia hidup, dengan memajukan apa yang positif dalam budaya tersebut dan memperkayanya dengan nilai-nilai pewartaan Injil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ penuh perhatian pada kenyataan-kenyataan dari mereka yang paling membutuhkan kasih Kristus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ menghidupi pelayanan pastoral dengan anugerah-anugerah yang dimilikinya, dalam komunio dengan Gereja lokal dan keuskupan,<span> </span>dan menyinarinya dengan cahaya karisma Vinsensian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">▪ memilih untuk berkarya dalam suatu tim dan menggerakkan struktur-struktur horisontal dan partisipatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><strong><span>MARIA, MODEL MAV</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"><span> </span>Kita ingin memfokuskan pandangan kita pada bintang penginjilan, yang membantu kita menghidupi misi:</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">SEPERTI MARIA, sebuah komunitas yang hidup; DENGAN MARIA, sebuah komunitas yang melayani; MELALUI MARIA, sebuah komunitas yang mewartakan Kristus, Sang Misionaris.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">♦ SEPERTI MARIA, sebuah komunitas yang hidup</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria, seorang wanita desa yang menjadi milik seluruh desa.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria, model pewartaan Injil yang menginkarnasi, yang merasuk dan mengubah, membuat dimensi evangelisasi Maria menjadi dimensi inkarnasi Injil.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria, ibu universal, ibu bagi semua (Kis 1:14). Dia bersama dengan kita semua, untuk membawa kita semua kepada Allah tanpa mengecualikan seorang pun.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">♦ DENGAN MARIA, sebuah komunitas yang melayani</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria mengumpulkan para murid dan bersama-sama menemukan bagaimana “menjadi saksi sampai akhir jaman”. Tanpa persatuan, tidak ada komunitas, tidak ada Misi.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria, model kesetiaan.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Saat malaikat mengabarkan kehamilannya, Maria mempersembahkan suatu “ya” yang personal. Peristiwa Pentekosta membangkitkan “ya” yang komunal kepada kehendak Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;">♦ MELALUI MARIA, sebuah komunitas yang mewartakan Kristus, Sang Misionaris</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria adalah seorang misionaris saat ia melahirkan Allah bagi dunia, tanpa menjadikan Allah itu miliknya sendiri, karena ia telah memberikanNya kepada kita.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;"><span>·<span> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;">Maria adalah guru Injil. Sikap-sikapnya membimbing kita untuk menghadirkan Kabar Gembira kepada kaum miskin.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=17&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-missionaris-awam-vinsensian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Santo Vinsensius, Bapak Orang Miskin (Biografi Singkat)</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/santo-vinsensius-bapak-orang-miskin-biografi-singkat/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/santo-vinsensius-bapak-orang-miskin-biografi-singkat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 06:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[studia vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Silvano Ponticelli, CM &#8220;Siapa gerangan orang ini” (Mk.4:41) Pada tanggal 27 September 1660 Vinsensius de Paul wafat di Rumah Pusat CM, Saint-Lazare, di pinggiran kota Paris. Hampir delapan puluh tahun sebelumnya dia lahir dari keluarga kecil, di suatu desa kecil. Mungkin karena itu, selama hidupnya, dia ingin mencari perlindungan di tengah-tengah hal kecil. Sambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=16&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Silvano Ponticelli, CM</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;<em>S</em><em>iapa gerangan orang ini” (Mk.4:41)</em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada tanggal 27 September 1660 Vinsensius de Paul wafat di Rumah Pusat CM, Saint-Lazare, di pinggiran kota Paris. Hampir delapan puluh tahun sebelumnya dia lahir dari keluarga kecil, di suatu desa kecil. Mungkin karena itu, selama hidupnya, dia ingin mencari perlindungan di tengah-tengah hal kecil. Sambil membaca surat-suratnya, kita bisa tersenyum melihat bahwa segala-galanya yang berhubungan dengan dia disebutnya “kecil”. CM disebut “serikat kecil’ atau “keluarga kita yang kecil”<span id="more-16"></span>. Pagi hari bersama seluruh komunitas Vinsensius melakukan meditasi selama satu jam dan setelah itu dia mempersembahkan Misa serta membaca bagian Ibadat Harian yang sesuai: Itu pun disebut “doa-doa saya yang kecil”. Karya serta kegiatan yang dilakukannya mendapat sebutan yang sama: “pelayanan-pelayanan yang kecil”. Cara hidup CM menjadi “cara hidup kami yang kecil”, dan peraturan CM menjadi “peraturan kita yang kecil”, dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kecil itu indah, dikatakan oleh manusia modern. Tetapi nampaknya falsafah ini belum terpikirkan oleh manusia abad XVII. Falsafah Vinsensius ialah kerendahan hati yang mendarah daging dalam hidupnya. Kerendahan hati itu tidak mencetak manusia yang penuh frustrasi dan minder, melainkan manusia yang optimis karena percaya kepada Allah: “Ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri itu harus merupakan dasar untuk percaya kepada Allah”<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[1]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Orang “kecil” ini ternyata mendapat perhatian yang sangat besar selama hidupnya dan setelah kematiannya. Raja, Pangeran, Kardinal, Uskup sampai rakyat kecil berlomba untuk mengunjungi dan memberi hormat kepada jenazahnya yang disemayamkan di Gereja Saint-Lazare. Setelah itu lebih dari 1500 buku telah diterbitkan untuk menceritakan hidupnya dalam pelbagai bahasa.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Maka kita juga dapat bertanya: “<em>Siapa gerangan orang ini?”</em><span> Supaya cerita tentang Vinsensius dan karya-karyanya lebih jelas, kami menyusun buku ini dalam lima bagian, berdasarkan buku: </span><em>San Vincenzo de’ Paoli, </em><span>karangan José María Román, CM.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>I Masa muda (1581-1609)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tanggal kelahiran Vinsensius masih diperdebatkan. Biasanya dikatakan bahwa Vinsensius lahir tanggal 24 April 1581, di desa Pouy, dekat kota Dax, Perancis barat daya. Keluarganya sungguh sederhana, meskipun tidak amat miskin. Karena itu sejak kecil Vinsensius ikut membantu bekerja sebagai penjaga ternak.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada umur 15 tahun, keluarga dan desa ditinggalkannya untuk belajar di suatu asrama yang dipimpin oleh para imam Fransiskan di kota Dax. Selama di kota itu Vinsensius menjadi pengasuh anak-anak keluarga de Comet. Dengan demikian Vinsensius bekerja sambil belajar. Mulai saat itu keluarga de Comet menjadi pendukung Vinsensius dalam banyak usahanya, antara lain dengan menuntun Vinsensius ke jenjang imamat. Ternyata di Dax Vinsensius menerima tahbisan-tahbisan kecil.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Setelah dua tahun Vinsensius pindah ke Universitas Toulouse berkat pengorbanan ayahnya yang menjual sepasang lembu untuk memungkinkan anaknya melanjutkan studi. Studinya diselesaikan di Toulouse<span> </span>pada tahun 1604 dengan gelar BA dalam bidang teologi. Sebelum itu ia telah ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 23 September 1600. Saat itu umurnya baru 19 tahun lebih 5 bulan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tentu tahbisan sebagai imam pada umur demikian muda mengundang pertanyaan: Ada apa di belakang? Lebih-lebih kalau kita melihat bahwa Vinsensius berusaha ditahbiskan di luar keuskupannya, di tempat yang sangat jauh (Château l’Évêque, Keuskupan Périgueux), oleh seorang Uskup yang sudah berumur delapan puluh empat tahun dan satu bulan kemudian meninggal. Mungkin peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian memberi terang juga mengenai tahbisan Vinsensius, khususnya mengenai apa yang dikejar Vinsensius melalui imamat.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Setelah menjadi imam, Vinsensius berusaha memperoleh kedudukan yang sepadan dengan jabatannya itu. Pertama-tama dia berjuang untuk menjadi Pastor Paroki Thil, tidak jauh dari desa asalnya. Untuk itu ia mendapat pengangkatan dari Vikaris Jenderal Keuskupan Dax. Sayangnya pada waktu itu seorang imam lain sudah diangkat untuk Paroki yang sama dan pengangkatannya berasal dari Roma. SK Vikjen tentu tak banyak berarti di hadapan SK dari Roma. Vinsensius tidak putus asa. Pada tahun 1601 dia pergi ke Roma untuk memperjuangkan kariernya. Setelah beberapa bulan imam muda itu terpaksa kembali ke Toulouse tanpa hasil.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rencana Vinsensius berikutnya lebih berani, “demikian berani sehingga saya malu mengatakannya”<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[2]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>, tulis Vinsensius sendiri. Kemungkinan besar ia ingin menjadi uskup. Tetapi untuk itu diperlukan banyak uang. Untunglah seorang ibu mewariskan kepadanya 400 écus<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[3]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>, jumlah uang yang cukup besar, sama dengan gaji seorang pegawai menengah atas selama empat tahun. Sialnya, uang itu dibawa lari oleh seorang bajingan. Vinsensius mengejarnya sampai Marseille dan akhirnya mendapat 300 écus. Dalam perjalanan pulangVinsensius ditangkap bajak laut, dibawa ke Tunis (Afrika Utara) dan dijual sebagai budak. Selama dua tahun Vinsensius berganti beberapa majikan. Majikan terakhir dipertobatkannya dan bersama-sama mereka berdua melarikan diri ke Perancis.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Cerita mengenai perbudakan itu ditulis oleh Vinsensius sendiri dalam dua surat kepada Bapak de Comet<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[4]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>. Tetapi kebenaran isi dua surat itu, yaitu kebenaran cerita mengenai perbudakan Vinsensius, diperdebatkan oleh ahli sejarah. Yang jelas rencana Vinsensius untuk menjadi uskup itu pun gagal.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Vinsensius tidak putus asa. Pada tahun 1607, sekembalinya dari Afrika Utara, dia menjumpai utusan Paus yang berkedudukan di Avignon. Karena masa jabatannya selesai, Mgr. Pietro Montorio, demikianlah namanya, mengajak Vinsensius ke Roma. Vinsensius ikut dengan gembira, karena pejabat Gereja itu menjanjikan pertolongannya agar imam muda itu memperoleh suatu jabatan yang menguntungkan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada akhir tahun 1608 Vinsensius berada di Paris, sekali lagi tanpa hasil, tetapi dengan keinginan besar untuk maju dalam karier. Sebuah surat yang ditulis Vinsensius kepada ibunya tgl. 17 Februari 1610, menggambarkan keadaannya dengan cukup jelas:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">“Ibuku, ……saya gelisah, karena saya terpaksa tinggal di kota ini guna memperoleh kesempatan untuk maju dalam karier saya. Memang sampai sekarang musibah-musibah beruntun menghalangi saya, sehingga saya tidak dapat mengabdi kepada Ibu sesuai kewajiban saya. Namun saya menaruh harapan pada Tuhan, semoga Dia sudi memberkati segala usaha saya dan segera memberi saya jalan agar saya dapat mengundurkan diri dengan tenang dan untuk selanjutnya tinggal dekat Ibu … Saya ingin agar kakak saya menyuruh salah seorang anaknya belajar. Musibah-musibah yang telah saya alami serta kenyataan bahwa saya belum bisa memberi bantuan kepada keluarga, mungkin membuat dia putus asa. Namun kita tahu bahwa kegagalan masa kini adalah petunjuk keberhasilan untuk masa mendatang …”<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[5]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Surat kepada ibunya ini memperlihatkan dengan jelas cita-cita Vinsensius pada masa itu: 1. Maju dalam karier; 2. Memberi bantuan ekonomi bagi keluarganya; 3. Mengundurkan diri ke desanya dekat Ibunya untuk menikmati “masa pensiun” pada umur 29 tahun.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Wajarlah cita-cita ini bagi seorang anggota masyarakat<span> </span>biasa; tetapi seorang imam muda yang idealismenya berhenti di situ saja sungguh memalukan. Maka satu pertanyaan tak dapat kita elakkan: Mengapa Vinsensius menjadi imam? Tak dapat disangkal bahwa Vinsensius, terdorong oleh keluarganya, mau menjadi imam karena pada zaman itu imamat merupakan satu-satunya jalan bagi orang miskin seperti dia untuk meningkatkan status sosial dirinya maupun keluarganya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Namun Vinsensius tidak berhenti pada taraf itu. Pada tahun 1657 dia berkata kepada para Romo CM: “Kita harus menjadi sepenuhnya milik Tuhan dan sekaligus terarah kepada pelayanan bagi masyarakat. Demi tujuan ini kita harus menyerahkan diri kepada Tuhan, menghabiskan diri, memberikan hidup kita. Biar kita telanjang, bila dapat dikatakan demikian, agar orang lain memperoleh pakaian. Sekurang-kurangnya inilah kesediaan yang perlu kita usahakan apabila kita belum memilikinya: siap sedia untuk pergi ke mana saja dikehendaki Tuhan, entah ke India, entah ke tempat lain; pendek kata kita harus melibatkan diri dengan gembira dalam pelayanan kepada sesama, dalam usaha memperluas kerajaan Kristus dalam jiwa-jiwa. Mengenai saya sendiri, meskipun sudah tua dan lanjut usia, saya juga tidak boleh mengesampingkan kesediaan itu, yaitu kesediaan untuk pergi ke daerah India guna merebut jiwa-jiwa bagi Tuhan, meskipun ada kemungkinan saya akan mati dalam perjalanan”<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[6]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ternyata Vinsensius mengalami perubahan menyeluruh. Dulu segalanya dimanfaatkan demi kesejahteraan dirinya dan keluarganya. Imamat juga dipakai untuk itu. Sekarang seluruh pribadinya dan segala yang dimilikinya diserahkan kepada Tuhan dan sesama: “Biar kita telanjang …”. Kapan dan bagaimana perubahan ini terjadi?</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>II Masa Pertobatan<span> </span>(1609-1620)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kegagalan-kegagalan beruntun mendorong Vinsensius untuk berpikir: “Apakah ada sesuatu yang tidak beres dalam hidupku?”<span> </span>Dengan didasari keprihatinan ini, imam yang menanjak dewasa itu mencari seorang pembimbing rohani: Romo Pierre de Bérulle, seorang imam terkemuka di Perancis, pelopor pembaharuan Gereja. Melalui Romo de Bérulle, Vinsensius masuk dalam pergaulan dengan seluruh kelompok pembaharu. Berkat bimbingan Romo de Bérulle dan teladan kawan-kawan, Vinsensius pelan-pelan mengerti apa yang tidak beres dalam hidupnya: Sebagai imam tidak cukup mengejar status sosial; seorang imam harus memberikan hidupnya untuk Tuhan dan sesama.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Vinsensius menerima dengan gembira tugas sebagai kapelan mantan Ratu Margareta de Valois, lebih-lebih karena, dalam penentuan tugas, dia diangkat sebagai pembagi derma kepada orang miskin dan kepada orang sakit di Rumah Sakit “La Charité”.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Vinsensius merasa lebih senang lagi saat Romo de Bérulle menawarkan kepadanya satu jabatan baru, sebagai Pastor Paroki di Clichy, desa dekat kota Paris. Sejak bulan Mei 1612 imam kita mulai berkarya di tengah orang-orang sederhana. Di bawah bimbingannya Paroki berkembang dalam segala aspek, terutama dalam bidang katekese dan liturgi. Di Pastoran, Vinsensius mengumpulkan dua belas anak muda yang dibinanya sebagai calon imam.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Tetapi pada akhir tahun 1613 Vinsensius diajak Romo de Bérulle untuk menerima tugas baru lagi: sebagai pengasuh anak-anak keluarga Gondi, salah satu keluarga terkemuka dalam kerajaan Perancis. Dalam istana di tengah kota Paris atau dalam kunjungan ke villa-villa yang mereka miliki di daerah kekuasaan mereka, Vinsensius berusaha hidup seperti dalam biara. Pelan-pelan Bapak Gondi dan Nyonya mulai menghargai imam itu, sampai akhirnya dipilih oleh mereka sebagai Pembimbing Rohani; terutama Nyonya Gondi merasa sangat membutuhkan bimbingannya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada waktu itu atau sebelumnya, Romo kita mengalami dua peristiwa yang dianggap penting dalam pertobatannya. Pernah Vinsensius tinggal di satu kamar kos bersama dengan seorang teman. Suatu hari temannya pergi ke luar untuk urusannya, sedangkan Vinsensius terpaksa tinggal di kamar karena sakit. Ketika pulang, teman Vinsensius itu terkejut karena uangnya yang disimpan dalam almari tidak ada lagi. Siapa lagi yang dapat dianggap pencuri selain Vinsensius? Maka tuduhan itu terang-terangan dilontarkan kepada Vinsensius dan disebarkan di kalangan luas. Imam kita tidak dapat membela diri, maka dia hanya berkata: “Tuhan tahu”. Setelah enam tahun pencurinya ditemukan, yaitu petugas apotik yang pagi itu membawa obat bagi Vinsensius<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[7]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Peristiwa itu dianggap penting dalam proses pertobatan Vinsensius, karena baru kali ini tokoh kita menerima dirinya sebagai orang miskin yang tak berdaya dan karenanya menyerahkan diri kepada Tuhan: “Tuhn tahu”.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Suatu hari seorang ahli dan dosen teologi membuka hatinya kepada Vinsensius. Dosen itu sudah beberapa tahun menderita karena mengalami kesangsian iman yang gawat. Vinsensius terharu, maka ia berdoa kepada Tuhan agar temannya itu dibebaskan, dan jika perlu biarlah penderitaan itu menimpa dirinya. Betul, dosen itu bebas dari segala kecemasan, tetapi Vinsensius mulai mengalami kesangsian iman yang dahsyat; segala kebenaran iman yang dahulu diimani dengan damai, sekarang seakan-akan sudah kehilangan dasarnya. Vinsensius menderita selama beberapa tahun. Akhirnya dia berjanji akan membaktikan seluruh hidupnya bagi orang miskin bila Tuhan berkenan membebaskannya. Doanya dikabulkan Tuhan<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[8]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kesempatan untuk mewujudkan janjinya akan segera tiba. Pada bulan Januari 1617 Vinsensius berada di Folleville bersama seluruh keluarga Gondi. Suatu hari Vinsensius dipanggil ke desa Gannes, karena seorang tokoh umat mendekati ajalnya dan ingin mengaku dosa kepadanya. Romo Vinsensius datang dan petani mengaku dosa-dosa seluruh hidupnya. Deretan dosa yang diungkapkannya cukup panjang, karena sebelumnya tokoh umat itu malu mengaku dosa. Setelah pengakuan dosa selesai, petani itu merasa seperti lepas dari jerat setan dan karena gembiranya dia menceritakan pengalamannya kepada banyak orang, termasuk Nyonya<span> </span>Gondi.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Romo Vinsensius dan Nyonya Gondi berpikir: Kalau tokoh umat yang dianggap saleh ini ternyata di ambang kebinasaan abadi, apalagi orang lain yang kelakuannya jelas-jelas lebih jelek. Apa yang dapat<span> </span>dilakukan?<span> </span>Beberapa hari setelah peristiwa itu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 1617, Vinsensius memberi khotbah mengenai pengakuan dosa seluruh hidup di Gereja Folleville. Umat dari desa-desa sekitarnya berbondong-bondong datang untuk mendengarkan khotbah dan mengaku dosa.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bagi Vinsensius dan Nyonya Gondi pengalaman ini merupakan semacam wahyu. Mereka menyadari bahwa daerah pedesaan terlantar karena kurang mendapat pembinaan. Para imam lebih suka tinggal di kota, sehingga umat daerah pedesaan terlupakan. Maka Vinsensius merasa terpanggil untuk membaktikan seluruh hidupnya demi pembinaan rohani rakyat kecil dari daerah pedesaan. Itulah yang mendorong Vinsensius untuk memulai kegiatan Misi Umat di desa-desa dan untuk mendirikan Kongregasi Misi (CM).</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Setelah kembali ke Paris, di tengah-tengah kemewahan istana keluarga Gondi, Vinsensius merasakan konflik batin yang mendalam. Dia semakin sadar bahwa Tuhan memanggilnya untuk membina rakyat kecil. Tetapi ternyata sekarang dia menikmati keadaan yang begitu menyenangkan, di istana orang kaya, sementara rakyat kecil semakin terdesak oleh kebutuhan jasmani maupun rohani. Maka pada masa Prapaskah tahun 1617, Vinsensius meninggalkan istana keluarga Gondi tanpa pamit dan memilih menjadi Pastor Paroki di Châtillon-les-Dombes (Lyon). Di sinilah suatu pengalaman baru lebih meyakinkan Vinsensius akan panggilannya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Suatu hari Minggu di bulan Agustus, ketika mempersiapkan diri di Sakristi untuk mempersembahkan Misa, Vinsensius diberitahu bahwa di luar desa Châtillon semua anggota satu keluarga sakit parah dan terlantar, karena tidak ada yang merawat mereka. Dalam khotbahnya ia mendorong umatnya untuk memberi perhatian kepada keluarga yang malang itu. Sore harinya, setelah selesai tugas Paroki, Vinsensius bersama beberapa umat<span> </span>mengunjungi keluarga yang menderita itu. Ternyata banyak umat sudah datang dan sudah membawa makanan berlimpah. Vinsensius berfikir: “Keluarga yang malang ini pada hari ini telah menerima bantuan berlimpah. Sebagian dari makanan itu akan menjadi busuk dan keluarga itu akan mulai menderita lagi seperti<span> </span>semula. Cinta kasih seperti ini kurang efektif, karena kurang terencana. Orang-orang miskin sering menderita bukan karena tidak ada yang sanggup menolong, melainkan karena tidak ada koordinasi”<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[9]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Karena itu Vinsensius membentuk “Persaudaraan Kasih”, kumpulan awam yang menolong orang miskin secara terencana dan terorganisir. Perkumpulan itu kemudian akan menyebar ke seluruh Perancis, bahkan ke seluruh dunia.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Semua peristiwa ini membuka mata Vinsensius. Dia semakin sadar akan panggilannya sebagai imam. Terutama Vinsensius yakin bahwa hanya seorang imam yang suci mampu memenuhi panggilan Tuhan itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Inilah pertobatan Vinsensius. Tetapi pertobatan di sini harus diberi arti yang tepat: Vinsensius bukanlah orang jahat yang menjadi suci, melainkan orang biasa yang berhasil mengarahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan dan sesama.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Perlu kita tambahkan bahwa pada tahun 1618, pertemuan pribadi dengan seorang santo sejati, yaitu S. Fransiskus dari Sales, sangat menolong Vinsensius untuk tinggal landas menuju kesucian. Allah mempertobatkan Vinsensius lewat pembimbing rohani, lewat orang miskin yang menuntut pelayanan sejati, lewat seorang santo, dan lewat banyak pengalaman lain yang diatur oleh Tuhan agar rencanaNya yang abadi terlaksana.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>III Daya cipta yang subur(1620-1634)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada tahun 1620 Vinsensius sudah mengerti arah hidupnya dan panggilannya. Kemelaratan jasmani dan rohani rakyat kecil seperti menampar Romo kita dan menggugahnya untuk menanggapi masalah itu dengan tegas. Mulai saat itu karya-karya Vinsensius mengalir lewat dua jalur, yang dalam bahasa Perancis mendapat nama “Mission” dan “Charité”. Yang pertama menjawab pada kemelaratan rohani, melalui katekisasi menyeluruh yang diwujudkan dalam kegiatan Misi Umat. Yang kedua menjawab pada kemelaratan jasmani, melalui karya amal terencana dan terorganisir, yang pada awalnya ditangani oleh kelompok baru yang bernama “Persaudaraan Kasih”.</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Dari      karya Misi ke Kongregasi Misi</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada akhir tahun 1617 keluarga Gondi berhasil membujuk Vinsensius untuk kembali ke Paris. Tetapi kali ini Romo kita menentukan syarat-syarat. Dia sanggup kembali menjadi Pembimbing Rohani keluarga Gondi, asal diberi kesempatan untuk menyelenggarakan Misi Umat di desa-desa dalam wilayah kekuasaan Gondi.</p>
<p class="MsoNormal">Maka selama kurang lebih tujuh tahun Vinsensius mengunjungi sekitar 40 desa untuk melakukan Misi Umat itu. Dengan satu atau dua teman imam, Vinsensius menetap di satu desa selama satu atau satu setengah bulan. Katekismus diajarkannya kepada semua lapisan masyarakat secara sederhana dan praktis. Seluruh umat pelan-pelan dituntun kepada pertobatan, yang diwujudkan dalam pengakuan dosa seluruh hidup dan dalam komuni. Masalah-masalah yang ditemukan dalam Paroki, seperti perselisihan antara keluarga, perkawinan yang tidak beres dan lain-lain, ditangani dengan sabar dan lembut, sampai dapat diselesaikan dengan tuntas.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sampai tahun 1625 karya ini dipikul oleh Vinsensius secara pribadi, dengan bantuan<span> </span>insidentil beberapa teman imam. Namun Vinsensius dan Nyonya Gondi menyadari bahwa kegiatan ini demikian penting, sehingga membutuhkan penanganan yang profesional dan berkesinambungan dari satu Kongregasi khusus.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Vinsensius tidak bernafsu untuk mendirikan satu Kongregasi baru. Pertama-tama dia menghubungi beberapa Kongregasi yang sudah berkarya di Perancis dan minta agar mereka menerima Misi Umat sebagai karya mereka. Tetapi semua Kongregasi yang dihubungi tidak bersedia. Maka pada tanggal 17 April 1625, Vinsensius bersama Bapak dan Nyonya Gondi menandatangani sebuah kontrak yang menetapkan berdirinya Kongregasi Misi, dengan modal pertama sebesar 45.000 Lire yang disumbangkan oleh keluarga Gondi.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kongregasi baru diwajibkan memberi Misi hanya di desa-desa saja dan secara gratis. Untuk melaksanakan tugas dengan baik, para anggotanya diwajibkan juga hidup bersama.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk sementara Misi Umat hanya diberikan di daerah kekuasaan keluarga Gondi. Namun dalam waktu beberapa tahun kegiatan ini mulai diminati oleh banyak Keuskupan, sehingga Vinsensius kewalahan menanggapi semua permintaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tahun 1626 Kongregasi baru itu mulai menerima anggota-anggotanya. Pada awalnya hanya tiga imam bergabung dengan Vinsensius, termasuk Antoine Portail, yang telah dibina oleh Vinsensius sejak menjadi Pastor Paroki Clichy, bersama dengan beberapa anak lain. Tetapi setiap tahun jumlah mereka pelan-pelan bertambah, sehingga pada tahun 1631 jumlah imam CM mencapai empat belas orang. Mereka tinggal di Kolese “Bons Enfants”, yang selama tahun-tahun pertama menjadi markas besar CM. Tetapi pada awal tahun 1632 markas besar CM pindah ke Saint-Lazare, suatu biara yang luas dan kaya. Karena Misi Umat harus diberikan secara cuma-cuma, maka kekayaan Saint-Lazare dapat dimanfaatkan untuk menghidupi para Romo dan mendukung karya-karya Kongregasi baru itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dari Oktober sampai Juni para Romo CM keliling dari desa ke desa untuk membina rakyat jelata yang terlantar. Tak terhitung jumlah Misi Umat yang diselenggarakan oleh kelompok kecil yang telah dirintis Vinsensius itu. Dari Juni sampai Oktober para petani sibuk dengan pekerjaan pertanian. Maka para Romo tinggal di rumah untuk belajar, untuk melakukan latihan, dan untuk karya-karya lain yang segera mulai menyibukkan Kongregasi Misi.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan menekuni pembinaan rakyat kecil, Vinsensius dan para Romo CM lambat laun menyentuh luka-luka<span> </span>lain yang merongrong Gereja, terutama kemerosotan rohani para imam. Justeru karena itulah rakyat sangat terlantar. Vinsensius tidak bisa tinggal diam di hadapan masalah-masalah yang menyangkut kesejahteraan jasmani dan rohani rakyat kecil. Dia sadar juga bahwa hasil Misi Umat tidak dapat bertahan bila Pastor Paroki tidak melanjutkan pembinaan umat. Karena itu sejak dini pembinaan para imam dan calon-calon imam mulai dipikirkan oleh santo kita. Tetapi,. seperti biasanya, dia menanti tanda dari Penyelenggaraan Ilahi sebelum bertindak. Tanda itu datang melalui permintaan Uskup Beauvais yang mendesak Vinsensius untuk membina calon-calon imam dari Keuskupannya sekitar 20 hari sebelum tahbisan. Vinsensius menerima permintaan itu dan dengan demikian dimulailah karya Retret untuk calon-calon tahbisan yang akan menyibukkan para Romo dan semua rumah CM. Setelah beberapa tahun sangat terasa bahwa pembinaan calon-calon imam hanya menjelang tahbisan itu, tidak cukup. Maka pelan-pelan waktu diperpanjang sampai beberapa tahun dan akhirnya menjadi Seminari, yang<span> </span>merupakan pengembangan karya retret.</p>
<p class="MsoNormal">Pada pertengahan tahun 1633 di Saint-Lazare dimulai, juga atas usul orang lain, suatu kegiatan yang nanti akan dikenal sebagai “Konferensi Hari Selasa”.<span> </span>Banyak Romo dari kota Paris dan sekitarnya pada hari Selasa berkumpul untuk membahas bersama-sama salah satu tema<span> </span>yang berhubungan dengan kehidupan para imam, yaitu masalah rohani atau pastoral. Banyak calon pejabat Gereja mendapat pembinaan Vinsensius melalui kegiatan ini. Hasilnya sangat memuaskan, sehingga banyak Uskup baru dipilih di antara anggota “Konferensi Hari Selasa”.</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Dari      karya kasih ke Puteri Kasih.</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span>“Persaudaraan Kasih” yang dirintis di Châtillon-les Dombes merupakan permulaan suatu karya raksasa yang akan mempengaruhi secara mendalam kegiatan Gereja<span> </span>pada abad-abad berikutnya. Langkah pertama itu dapat diumpamakan dengan mata air sebuah sungai raksasa. Permulaannya sangat kecil, tetapi jangkauannya nanti sangat luas. Kunci keberhasilan perkumpulan baru itu mungkin terletak di sini: Pembagian tugas yang efektif di antara anggota, peraturan yang jelas, semangat rohani yang mendasari seluruh kegiatan, perpaduan antara usaha karitatif dan pembinaan iman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Setelah tahun 1617, Vinsensius mengunjungi banyak desa untuk memberi Misi Umat. Di semua desa itu didirikan Persaudaraan Kasih. Perkumpulan itu berkembang dalam tiga bentuk: Yang pertama hanya terdiri dari ibu-ibu, yang kedua anggotanya hanya bapak-bapak, dan yang ketiga campuran. Harus diakui bahwa bentuk campuran mengecewakan dan pelan-pelan dihapus. Sedangkan perkumpulan yang hanya terdiri dari ibu-ibu mengalami kemajuan paling besar dan akhirnya hanyalah bentuk ini yang bertahan sampai sekarang.</p>
<p class="MsoNormal">Mulai tahun 1626 para Romo CM juga mengunjungi desa-desa untuk menyelenggarakan Misi Umat. Di mana-mana mereka juga mendirikan Persaudaraan Kasih. Dalam waktu beberapa tahun ratusan perkumpulan tersebar di Perancis, terutama di bagian utara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tahun 1621. dalam salah satu perjalanannya, Vinsensius mampir di Macon. Ternyata di kota itu terdapat sejumlah besar pengemis dan keadaan mereka sangat menyedihkan. Vinsensius langsung tanggap terhadap keadaan dan permasalahan dan mencari penyelesaian. Didirikannya dua Persaudaraan Kasih, yang satu terdiri dari ibu-ibu dan yang lain dari bapak-bapak. Bersama mereka Vinsensius mencari jalan keluar agar para pengemis dapat hidup dari pekerjaan mereka atau dari derma yang dibagikan oleh perkumpulan. Dua syarat ditentukan bagi para pengemis: Jangan mengemis lagi dan rajin mengikuti kegiatan rohani (Misa, Pelajaran agama dan lain-lain). Kota Macon seluruhnya dilibatkan, para pejabat pemerintah maupun Gereja, pedagang-pedagang serta seluruh umat. Dalam waktu yang singkat kota itu bebas dari pengemis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tahun 1629 Persaudaraan Kasih masuk juga di ibukota Paris, mulai dengan dua perkumpulan saja. Setelah pengalaman awal yang menggembirakan, pelan-pelam semua Paroki mendirikan Persaudaraan Kasih.</p>
<p class="MsoNormal">Juga kota Beauvais segera mendapat organisasi itu. Ibu-ibu yang dapat dihimpun sekitar 300 orang, yang terbagi dalam 18 Persaudaraan. Vinsensius rupanya belum dikenal di Buauvais. Seorang pejabat melaporkan kepada pemerintah pusat bahwa “seorang bernama Vinsensius, dengan tidak mengindahkan kekuasaan Raja dan tanpa pemberitahuan apapun kepada pemerintah kota, mengumpulkan sekitar 300 wanita dalam suatu wadah ‘persaudaraan’ yang mereka namakan ‘kasih’. Mereka berkumpul untuk kegiatan mereka dan untuk memberikan pertolongan serta membagikan makanan bagi orang miskin yang sakit dari kota itu. Hal ini tidak dapat ditolerir”<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[10]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Tetapi Vinsensius sudah dikenal dengan baik oleh pemerintah pusat, sehingga 18 Persaudaraan kota Beauvais tak mengalami hambatan apapun, malah terus berkembang dengan subur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dengan cepat Persaudaraan Kasih mengalami kemajuan dalam jumlah maupun dalam kegiatan. Namun apa yang akan terjadi tanpa pembinaan terus menerus? Dari mana-mana laporan mengenai keadaan perkumpulan itu<span> </span>sampai pada Vinsensius. Tidak semua laporan menggembirakan. Di suatu tempat anggota perkumpulan tidak mau mengunjungi orang sakit, di tempat lain keuangan tidak beres; bendahara satu perkumpulan terlalu kikir, anggota-anggota perkumpulan lain tidak dapat bekerja sama … Tanpa pembinaan, organisasi itu akan roboh di bawah masalah-masalah yang bertumpuk-tumpuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Untuk menjamin pembinaan itu, Vinsensius dan Romo-Romo merasa perlu sering mengunjungi Persaudaraan-Persaudaraan yang tersebar di daerah yang luas. Kunjungan-kunjungan ini sering bergema dalam korespondensi S. Vinsensius. Pada akhir tahun 1654 (umurnya sudah 73 tahun) dia menulis: “Nanti sore saya bermaksud mengunjungi ibu-ibu cinta kasih dari Paroki kecil Saint-Marceau. Di sana perkumpulan yang baik ini menghadapi bahaya kehancuran, bila tidak mendapat sedikit dukungan”<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[11]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Surat di atas ini ditulis Vinsensius kepada Luisa de Marillac. Wanita yang luar biasa ini sudah dikenalnya sejak tahun 1624. Pada waktu itu wanita muda yang baru ditinggal mati suaminya, membutuhkan bimbingan yang lembut dan tegas. Rupanya Vinsensiuslah orang yang tepat. Sejak tahun 1629, Luisa dilibatkan dalam pembinaan Persaudaraan Kasih di kota dan desa yang cukup jauh. Inilah salah satu langkah Vinsensius yang paling berani dan paling subur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Luisa mengunjungi banyak Persaudaraan. Di mana-mana Luisa mempelajari situasi, memberi semangat, membantu menyelesaikan masalah, dan selalu rajin melaporkan segalanya kepada Vinsensius. Sebagian dari korespondensi antara dua tokoh ini masih dapat kita baca, dan itu sangat membantu kita untuk mengenal mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah Persaudaraan Kasih masuk kota, banyak Nyonya dari keluarga bangsawan atau dari keluarga terkemuka menjadi anggotanya. Tetapi lama-kelamaan mereka malu mengunjungi orang miskin dan sakit di lorong kota yang kecil dan di gubuk yang kumuh. Karena itu, pembantu rumah tanggalah yang disuruh mengunjungi orang miskin yang sakit dan membawa makanan kepada mereka. Dapat kita bayangkan bagaimana pelayanan kasih ini menjadi suatu kegiatan tanpa jiwa di tangan pembantu rumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Vinsensius dan Luisa tak dapat menerima cara kerja ini, karena pelayanan seperti itu lebih menyakitkan daripada menghibur. Dua tokoh kita sadar, bahwa<span> </span>orang miskin lebih membutuhkan perhatian dan kelembutan daripada makanan. Untunglah beberapa gadis desa yang baik datang kepada Vinsensius dan Luisa dan menawarkan diri untuk berkarya demi orang miskin. Gadis-gadis ini diserahkan kepada Luisa untuk dibina dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Mereka membantu di Paroki-Paroki kota Paris dalam kunjungan kepada orang miskin yang sakit. Kegiatan ini mereka lakukan atas nama Persaudaraan Kasih. Gadis pertama yang datang kepada Vinsensius untuk melayani orang miskin bernama Margareta Naseau. Semangat pengabdiannya menjadi teladan bagi gadis-gadis yang lain. Setelah beberapa tahun dia meninggal, karena berani menolong orang sakit pes, sampai ketualaran penyakit itu.</p>
<p class="MsoNormal">Tanggal 29 November 1633 merupakan suatu hari yang bersejarah. Pada hari itu sejumlah gadis dipilih dan dihimpun di rumah Luisa de Marillac. Dengan langkah itu dibentuklah suatu komunitas baru dalam Gereja, dengan nama Serikat Puteri Kasih. Bukanlah suatu ordo yang terkurung dalam biara sesuai kebiasaan pada waktu itu, melainkan suatu kelompok kerasulan. Mereka memang hidup bersama dan harus memiliki semangat seperti biarawati-biarawati lain; tetapi anggota Serikat Puteri Kasih harus terbuka dan terarah kepada pelayanan orang miskin, di mana saja orang miskin membutuhkan pertolongan. Pada tanggal 31 Juli 1634 jumlah mereka hanya dua belas orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dalam tahun 1634 pula, di kota Paris ibu-ibu yang membantu Vinsensius dalam karya amal sejak tahun 1625, dihimpun dalam suatu Persaudaraan Kasih yang mengambil nama dari Rumah Sakit Paris, “Hôtel Dieu”. Kelompok inilah yang akan menjadi pendukung utama Vinsensius dalam karya-karya besar yang akan ditanganinya. Nyonya-Nyonya terkemuka dari Paris berlomba untuk menjadi anggota Persaudaraan Kasih Hôtel Dieu.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan demikian Vinsensius sudah berhasil membentuk satu barisan sukarelawan-sukarelawati yang sanggup menghadapi tantangan dan tuntutan jaman. Para Romo CM bersama dengan imam-imam yang tergabung dalam Konferensi Hari Selasa berkarya terutama di jalur pertama yang bersumber dari pengalaman Folleville (‘Mission’). Para Suster Puteri Kasih beserta Persaudaraan Kasih dan khususnya kelompok Hôtel Dieu , berkarya di jalur kedua yang bersumber dari pengalaman Châtillon-les-Dombes (‘Charité’).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>IV Masa Panen (1634-1653)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Abad XVII di Perancis dikenal sebagai ‘le grand siècle’ (abad yang agung), karena pada abad itu Perancis mengalami masa yang cemerlang dalam bidang politik dan militer, maupun dalam sastra, seni serta filsafat. Pada masa itu Perancis berhasil menggeser Spanyol sebagai negara adikuasa dalam percaturan politik Eropa. Tetapi tak pernah rakyat Perancis menderita seperti pada abad ini, sehingga abad yang demikian diagung-agungkan itu dapat disebut juga ‘abad orang miskin’. Penyakit pes, bencana alam yang menghancurkan penghasilan para petani, struktur masyarakat yang sangat menekan orang kecil, dan terutama perang yang berkepanjangan merupakan sumber derita yang tak terkatakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada abad orang miskin Allah membangkitkan pula ‘Bapak orang miskin’, yaitu Vinsensius de Paul. Orang-orang miskin yang penuh luka dan derita dipandang Vinsensius sebagai “majikan”, karena dalam diri mereka, seirama dengan samangat Injil, dia melihat Kristus sendiri; bagi dia melayani orang miskin sama dengan melayani Kristus. Oleh karena itu karya dipandang sebagai lanjutan dari doa dan cinta kepada Tuhan berpadu dengan cinta kepada orang kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Seluruh keluarga besar yang telah dihimpun Vinsensius siap untuk melayani orang kecil dan meringankan penderitan mereka.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>1.Cinta kasih melawan kekejaman perang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Balatentara cinta kasih yang dihimpun Vinsensius mendapat ujian pertama di Lorraine,<span> </span>salah satu propinsi Perancis di daerah perbatasan bagian timur laut. Sepanjang sejarah propinsi tersebut menjadi rebutan antara Perancis dan tetangganya Jerman. Pada jaman Vinsensius, Lorraine mengalami penderitaan yang dahsyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Sekitar tahun 1630, selama beberapa musim para petani hampir tidak dapat memetik hasil apa-apa karena pelbagai sebab. Panen jelek membawa paceklik dan kelaparan. Tak ketinggalan penyakit pes mengamuk sampai tahun 1637. Musibah yang paling dahsyat ialah perang. Dari tahun 1635 sampai dengan tahun 1643 balatentara dari bermacam-macam negara dan golongan menjelajahi daerah yang malang itu. Dimana-mana para serdadu merampas apa saja yang dapat dimanfaatkan, terutama bahan makanan. Mereka membakar, membunuh, memperkosa, menghancurkan tanpa belaskasihan. Penderitaan para penduduk dapat kita bayangkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Di propinsi Lorraine terdapat satu komunitas CM, tepatnya di Toul. Melalui para Romo Vinsensius mengenal situasi gawat yang diderita oleh seluruh masyarakat Lorraine. Seperti biasa Vinsensius tidak bisa diam di hadapan penderitaan manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pertama-tama dia dan komunitasnya berdoa dan melakukan matiraga, untuk memohon belaskasihan Tuhan bagi orang miskin yang menderita di daerah itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Di samping itu Vinsensius mencoba pula memperbaiki situasi pada akarnya. Pada suatu hari dia memberanikan diri menghadap Perdana Menteri Perancis, Kardinal Richelieu, dan memohon kepadanya: “Monsinyur, usahakanlah kedamaian bagi rakyat”. Kardinal yang berkuasa itu menjawab: “Sayalah yang paling mencintai kedamaian. Tetapi damai itu tidak hanya tergantung pada saya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Akhirnya Vinsensius terjun untuk meringankan penderitaan korban-korban perang. Dua belas Romo CM diutus ke Propinsi<span> </span>itu. Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih digerakkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin dana. Dengan dana yang disalurkan secara rutin melalui Romo-Romo CM yang sudah berkarya di daerah itu, berpuluh-puluh ribu jiwa diselamatkan dari kehancuran total.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Menurut laporan jaman itu, dari tahun 1639 sampai tahun 1649 telah dikumpulkan dan disalurkan bantuan sebanyak dua juta lire. Kalau kita membandingkan jumlah ini dengan data-data lain yang kita miliki (misalnya gaji seorang Pastor Paroki selama satu tahun mencapai tiga ratus lire), maka dapat disimpulkan bahwa dua juta lire sama dengan 55 miliar Rupiah masa kini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dalam karya raksasa ini, Vinsensius sibuk menjadi koordinator, para ibu dari Persaudaraan Kasih bergerak untuk mengumpulkan dana dan para Romo siap untuk menyalurkannya kepada orang miskin. Seorang Bruder CM, bernama Mateus Regnard, menjadi penghubung antara Paris dan Propinsi Lorraine. Seluruh dana yang dihimpun di Paris dapat disalurkan ke semua pos pertolongan di Lorraine berkat kecerdikan Bruder Regnard. Dia sudah dikenal oleh preman-preman zaman itu dan diincar oleh mereka; tetapi dengan kelihaiannya dia dapat selalu lolos dari perangkap mereka. Dalam kurung waktu sepuluh tahun dia melakukan perjalanan itu 54 kali. Setiap kali membawa 20 sampai 50 ribu lire.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Sebelum Lorraine pulih kembali dari kehancuran, musibah yang sama dialami oleh beberapa daerah lain, yaitu Picardie, Champagne dan Île de France. Kekejaman perang terulang kembali di suatu wilayah yang lebih luas. Sekali lagi rakyat terbawa ke ambang kehancuran. Dan sekali lagi seluruh “Keluarga Vinsensius” bergerak secara lebih efisien dan lebih efektif untuk menyembuhkan luka-luka masyarakat. Dari tahun 1650 sampai tahun 1654 para Romo dan Bruder CM dalam jumlah yang cukup besar (pernah sampai 18 orang) bersama dengan banyak Puteri Kasih pergi ke daerah-daerah yang menderita untuk menolong orang miskin dan orang sakit. Para ibu dari Persaudaraan Kasih sibuk untuk mengumpulkan dana di Paris. Bruder Parre mengantarkan dana itu dan membagikannya sesuai kebutuhan. Vinsensius dari Saint-Lazare<span> </span>memimpin ‘armada’ cintakasih ini. Di Ibukota Paris sendiri beberapa puluh ribu pengungsi mendapat pertolongan jasmani maupun rohani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Menurut laporan Vinsensius, sekitar 370.000 lire telah dikirim dan dibagikan kepada orang miskin. Jumlah sebesar itu telah dimanfaatkan untuk memberi makan kepada orang sakit yang lapar, untuk menghimpun dan menjamin sekitar 800 anak yatim piatu, untuk mencukupi kebutuhan banyak Pastor Paroki yang miskin dan untuk keperluan lain. Dalam laporan itu belum diperhitungkan pakaian, selimut, peralatan Misa dan kebutuhan lain yang telah dikirim ke sana dalam jumlah yang sangat besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dalam salah satu suratnya tertanggal 21 Juni 1652 Vinsensius menyampaikan ‘berita-berita kecil’<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[12]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a> tentang apa yang dikerjakan di Paris untuk menampung dan menolong para pengungsi.</p>
<p class="MsoNormal">“Inilah karya-karya yang paling menonjol:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:66pt;text-indent:-30pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span> </span></span><!--[endif]-->Setiap hari sekitar 15.000 orang miskin, baik para miskin yang tersembunyi karena malu maupun para pengungsi, menerima makanan yang sudah dimasak.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:66pt;text-indent:-30pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span> </span></span><!--[endif]-->Sekitar 800 gadis yang telah mengungsi kemari, telah dikumpulkan di beberapa rumah khusus. Di situ mereka mendapat keperluan sehari-hari serta pembinaan. Romo sendiri dapat membayangkan nasib mereka andaikata dibiarkan mengembara di kota. Seratus di antara mereka kita tanggung di salah satu rumah di daerah Saint-Denis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:66pt;text-indent:-30pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span> </span></span><!--[endif]-->Tak ketinggalan para Suster yang telah dipaksa meninggalkan biara mereka oleh gerombolan tentara<span> </span>dan lari ke kota Paris. Di antara mereka ada yang berkeliaran di jalan, ada yang ditampung di tempat yang patut dicurigai, ada juga yang kembali kepada keluarganya. Pokoknya mereka semua terseret ke dalam bahaya dan kekacauan. Ada banyak usaha untuk melepaskan mereka dari keadaan yang membahayakan. Untuk itu telah diprakarsai satu usaha yang nampaknya berkenan kepada Tuhan. Mereka semua telah dikumpulkan bersama-sama dalam satu biara, di bawah bimbingan Suster-Suster Santa Maria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Akhirnya semua Pastor Paroki, Pastor Pembantu dan Pastor-Pastor lain yang telah lari ke dalam kota Paris dari Paroki-Paroki mereka di pedesaan, telah dikumpulkan di rumah kita. Setiap hari ada pendatang baru. Mereka menerima makanan dan penginapan serta dibina dalam pengetahuan dan praktek yang perlu bagi hidup mereka.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Demikianlah Tuhan memperkenankan kami ambil bagian pada karya-karya suci yang sedang diusahakan di Paris. Para Suster Puteri Kasih lebih terlibat daripada kami, khususnya dalam pelayanan jasmani bagi orang miskin. Mereka mempersiapkan dan membagikan makanan di tempat Ibu Le Gras untuk 1.300 orang miskin yang malu dan bagi 800 pengungsi di daerah Saint-Denis. Malah dalam Paroki Santo Paulus, empat atau lima Suster Puteri Kasih memberikan makanan kepada 5.000 orang miskin, di samping tugas mereka yang rutin, yaitu merawat 60 atau 80 puluh orang sakit. Di tempat lain para Suster menangani karya-karya yang sama”<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[13]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">S. Vinsensius tidak hanya pandai membagikan dana yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh orang lain. Setiap kali kebutuhan mendesak, dia tidak segan-segan mengambil uang dari kas rumah Saint-Lazare. Karena itu sering kali kas rumah itu kosong. Namun Vinsensius percaya akan Penyelenggaraan Ilahi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pengorbanan yang lebih besar dituntut dari mereka yang langsung berkarya di daerah-daerah yang menderita. Banyak di antara mereka jatuh sakit dan terpaksa meninggalkan medan dalam waktu singkat. Beberapa Romo dan seorang Suster meninggal di tempat kerja. Namun Vinsensius tak pernah mengalami kesulitan untuk mencari Romo atau Suster yang rela mengganti para martir cinta kasih itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Menolong      orang yang paling terlantar</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kemelaratan merupakan tanah yang subur untuk tumbuhnya segala macam dosa. Tidak mengherankan bila pada ‘abad orang miskin’ itu kita jumpai banyak masalah sosial yang bersumber dari kejahatan.</p>
<p class="MsoNormal">Salah satu masalah yang muncul ialah <strong><span style="text-decoration:underline;">anak terbuang</span></strong>. Setiap tahun di kota Paris ratusan anak dibuang oleh ibu yang tidak bertanggung jawab, karena ibu itu terlalu miskin dan tidak mampu menghidupi anaknya, atau karena ibu itu masih gadis dan tidak berani menghadapi ‘penghakiman’ masyarakat tanpa seorang suami yang jelas. Biasanya anak dibuang di muka pintu salah satu gedung Gereja. Mungkin karena wanita yang gagal sebagai ibu itu masih ingat bahwa Gereja juga adalah Ibu. Vinsensius sendiri berkata bahwa setiap tahun anak yang dibuang berjumlah sekitar 365, rata-rata setiap hari satu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Sesungguhnya di Paris sudah tersedia penampungan resmi bagi anak-anak itu. Namanya ‘la couche’(dalam bahasa Perancis berarti ‘tempat<span> </span>untuk berbaring bagi anak-anak’). Vinsensius mengetahui keadaan asrama itu. Ibu-ibu yang tak berperikemanusiaan memperlakukan anak-anak sebagai barang yang mengganggu, sehingga mereka tidak segan menjual anak-anak kepada para pengemis. Kaki dan tangannya nanti akan dipatahkan, dan dengan anak yang sudah cacat itu di pangkuannya, para pengemis dapat menggugah belaskasihan masyarakat sehingga memperoleh banyak derma.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Setelah melihat orang miskin yang menderita, Vinsensius tak pernah mencari alasan untuk mengelak dari tanggung jawabnya. Dia sadar pula bahwa anak-anak itu oleh masyarakat dianggap makhluk terkutuk karena ‘anak haram’. Dia tidak mundur. Dengan caranya sendiri dia sanggup mendobrak mentalitas masyarakat. Untuk karya ini pun dia melibatkan semua organisasi besar yang dipimpinnya: Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih untuk mencari dana, para Suster Puteri Kasih yang akan langsung menanganinya, dan para Romo CM sebagai koordinator.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tahun 1637, setelah mengunjungi ‘la Couche’, Ibu-Ibu dari Persudaraan Hôtel Dieu mengambil keputusan untuk mencoba menampung dua belas anak yang terbuang. Jumlah anak yang diasuh pelan-pelan bertambah. Akhirnya pada tanggal 17 Januari 1640, atas desakan Vinsensius, para Ibu menyediakan diri untuk menampung semua anak terbuang. Proyek besar ini dimulai pada tanggal 30 Maret 1640 dan dipikul bersama oleh putera-puteri Vinsesius untuk seterusnya, di tengah-tengah kesulitan yang dapat kita bayangkan: Kesulitan tempat untuk menampung semua anak, mencari ibu yang mau menyusui bayi, mengarahkan anak-anak yang sudah menjadi remaja kepada suatu pekerjaan yang memungkinkan mereka mandiri, dan terutama kesulitan ekonomi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Semua kesulitan ini sering kali mematahkan semangat kelompok-kelompok yang terlibat. Vinsensius selalu siap untuk melindungi anak-anak dan memberi semangat kepada putera-puterinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kepada anggota CM dia menjelaskan: “Penyelamat kita berkata kepada<span> </span>murid-muridNya: ‘Biarkanlah anak-anak datang kepadaKu’. Apakah kita berani menolak atau meninggalkan anak-anak yang datang kepada kita? Itu berarti menolak Kristus sendiri”<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[14]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kepada Ibu-Ibu dari Persaudaraan Kasih ia berkata: “Sampai sekarang kalian menjadi ibu bagi anaka-ank ini. Sekarang kalian menjadi hakim bagi mereka. Kehidupan atau kematian anak-anak ini ada di tangan kalian. Bila kalian terus memberi perhatian kepada mereka, anak-anak akan hidup. Bila mereka kalian tinggalkan,<span> </span>anak-anak akan mati. Putuskanlah sendiri”<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[15]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal">Kepada para Suster Puteri Kasih ia berkata: “Dalam karya ini kalian menyerupai Bunda Maria, karena sekaligus menjadi perawan dan ibu”<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[16]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Beberapa keterangan dapat memberikan gambaran yang nyata: Dari tahun 1638 sampai tahun 1643 ditampung 1200 anak; pada tahun 1644 (hanya satu tahun!) biaya untuk karya itu mencapai 44.000 lire; pada tahun 1656 biaya hanya 17.221; pada tahun 1657 jumlah anak yang diasuh 395.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Luisa de Marillac paling disibukkan oleh karya ini, karena dia bersama Suster-Susternya langsung menanganinya. Kalau usaha ini bertahan terus Luisalah yang paling berjasa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Masalah sosial lain yang sudah lama menarik perhatian Vinsensius dan putera-puterinya ialah <em><span>pendayung-pendayung galea</span></em> (galea adalah kapal perang). Di Perancis dan negara-negara lain para narapidana dimanfaatkan sebagai pendayung galea. Keadaan mereka sangat tidak manusiawi. Vinsensius memberi komentar ini: “Saya melihat sendiri bahwa mereka diperlakukan seperti binatang”<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[17]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tanggal 8 Februari 1619, atas prakarsa Bapak<span> </span>Gondi, Jenderal Armada Perang Perancis, Vinsensius diangkat sebagai Kapelan Armada Perang. Sejak permulaan Vinsensius mengusahakan perbaikan-perbaikan dalam makanan dan pengobatan bagi para pendayung. Pembinaan rohani juga diperhatikannya, khususnya lewat Misi Umat. Bila sementara tidak<span> </span>dimanfaatkan di kapal, para pendayung tinggal di penjara khusus. Beberapa kali Vinsensius mengusahakan tempat yang lebih pantas sebagai kediaman bagi mereka. Malah pada tahun 1645 di Marseille dapat dibangun sebuah rumah sakit. Saat narapidana yang sakit dipindahkan dari galea ke rumah sakit, rasanya seperti meninggalkan neraka untuk masuk surga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Di Marseille, kota pelabuhan terbesar di Perancis, Vinsensius menempatkan beberapa Romo CM dengan tugas utama pemeliharaan rohani dan jasmani para pendayung galea. Para Romo menjadi penghubung antara narapidana dengan dunia luar, yaitu dengan orang tua, saudara-saudara, isteri, anak, pacar, dan tentu dengan para penderma.</p>
<p class="MsoNormal">Tinggal di tengah-tengah narapidana merupakan pekerjaan yang sulit dan berbahaya. Namun Vinsensius dan Luisa tidak segan-segan melibatkan Puteri Kasih dalam karya ini juga. Rencana ini dapat diwujudkan tahun 1640. Para Suster Puteri Kasih ditugaskan<span> </span>untuk pemeliharaan para pendayung galea dalam sebuah<span> </span>penjara di Paris.</p>
<p class="MsoNormal">Semua ini dapat dilaksanakan berkat dukungan finansial dari Nyonya d’Aiguillon, keponakan Kardinal Richelieu,<span> </span>dan ibu-ibu lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kemiskinan muncul dengn seribu wajah, dan Vinsensius selalu di barisan terdepan untuk menolong. Kelompok lain yang mengalami kasih Vinsensius ialah<em> <span>para budak</span></em> yang diperjual-belikan di Afrika Utara, setelah ditangkap oleh bajak laut di perairan Laut Tengah. Beberapa puluh ribu (mungkin 50.000) orang Kristen Eropa menderita di Afrika Utara sebagai budak. Beberapa anggota CM ditugaskan di Tunis dan di Aljazair untuk membina mereka,<span> </span>dan juga untuk membebaskan mereka bila<span> </span>dapat diusahakan uang tebusan. Bahkan Vinsensius menerima tugas sebagai konsul di Tunis dan di Aljazair bagi beberapa Romo atau Bruder, supaya dengan jabatan ini para budak dapat dilayani dengan lebih baik. Nyonya d’Aiguillon juga dalam karya ini menjadi pendukung utama Vinsensius. Sedangkan para Romo yang berkarya di Marseille menjadi penghubung antara Perancis dan Afrika Utara. Menurut Abelly, pengarang riwayat Vinsensius yang pertama, santo kita berhasil menebus 1.200 budak dengan biaya 1.200.000 lire.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Catatan singkat ini tak dapat mengungkapkan secara lengkap perjuangan dan pengorbanan Vinsensius, para ibu, dan terutama para Misionaris CM yang ditugaskan di Afrika Utara. Beberapa di antara mereka dipenjarakan dan disiksa. Seorang imam dan seorang Bruder dibunuh sebagai martir oleh penguasa Afrika Utara; juga seorang pemuda Maroko yang bertobat menjadi Kristen dibunuh secara kejam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Misi      Universal</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Semua karya Vinsensius dijiwai oleh cinta kepada Tuhan dan kepada Gereja. Bukanlah cinta kepada Gereja Perancis atau Gereja Eropa, melainkan cinta kepada Gereja Katolik yang tersebar di seluruh dunia. Cinta Vinsensius pun menjadi universal seperti Gereja. Oleh karena itu sejak dini Vinsensius berusaha melampaui batas Perancis dan memperluas pelayanannya ke daerah-daerah lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada tahun 1639 Romo Lebreton diutus ke Roma, bukan hanya untuk menangani kepentinga CM di pusat Gereja, tetapi juga untuk mengabdi kepentingan Gereja di tengah-tengah kaum miskin (narapidana, orang-orang terlantar, masyarakat pedesaan). Pada tahun 1645 sebuah rumah CM dibuka di Genova (Italia) dan para putera Vinsensius mendarat di Tunis, seperti telah kita singgung di atas. Dua tahun kemudian para misionaris CM mulai berkarya di Irlandia dan di sini Romo Taddeus Lee, putra Irlandia, menjadi martir CM pertama (tahun 1652) Satu tahun sebelumnya, yaitu 1651, Skotlandia dan Polandia juga dapat mengalami kasih Vinsensius lewat putera-puteranya. Akhirnya pada tahun 1654 karya CM mulai berkembang di Torino (Italia) dan di Aljazair.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Di mana-mana para putera Vinsensius menangani karya yang sama seperti sang pendiri di Perancis: Misi Umat, terutama di daerah pedesaan, yang sampai saat itu agak terlupakan oleh petugas Gereja; pembinaan imam dan calon imam; pertolongan bagi orang-orang yang terlantar. Melalui kegiatan ini putera-putera Vinsensius mendekatkan Gereja pada umat sederhana dan membawa pembaharuan semangat kristiani di semua lapisan masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Di luar Perancis pun para Romo CM berada di garis terdepan bila situasi membahayakan. Misalnya di Polandia yang digoncangkan oleh perang antara Polandia sendiri dengan Swedia, di Genova yang dilanda pes, di tengah-tengah umat katolik Skotlandia dan Irlandia yang dikejar dan dibunuh oleh tentara pemerintah London. Banyak Romo CM menjadi martir cintakasih. Di Genova, misalnya, tujuh imam dan seorang Bruder meninggal karena merawat orang sakit pes.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Usaha Vinsensius di luar Perancis yang paling berani ialah misi ke Madagaskar. Vinsensius menerima pekerjaan itu atas desakan Nuntius (utusan Paus) yang berkedudukan di Paris. Sebetulnya sudah lama Vinsensius mencari kesempatan untuk mengirim misionaris-misionaris CM ke daerah misi. Dia menulis: “Saya mengakui bahwa, dengan kasih dan semangat besar, menurut perasaanku, saya menginginkan perluasan Gereja di daerah-daerah yang penghuni-penghuninya masih kafir”<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[18]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kepada Romo Nacquart, misionaris pertama yang diutusnya ke Madagaskar, Vinsensius menulis: “Serikat kita telah memandang Romo sebagai korban yang paling pantas untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta yang Mahakuasa”<a name="_ftnref19" href="#_ftn19"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[19]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>. Sejarah misi CM di Madagaskar selama Vinsensius masih hidup itu membuktikan bahwa memang karya itu merupakan suatu ‘korban’besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Dari tahun 1648 sampai tahun 1660 Vinsensius mempersiapkan enam kelompok misionaris CM untuk diutus ke pulau Afrika Timur itu. Tiga kelompok pertama sampai di pulau itu, sedangkan tiga kelompok terakhir tak pernah menyentuh Madagaskar karena keganasan Lautan Atlantik. Selama 12 tahun Vinsensius berusaha menegakkan Kerajaan Allah di pulau Madagaskar. Selama waktu yang cukup singkat itu tujuh anggota CM meninggal setelah mencapai tujuan. Seorang meninggal dalam perjalanan dan 13 yang lain berangkat tetapi tak pernah sampai pada tujuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Hanya dua Romo dapat merintis pembangunan Gereja di pulau itu, yaitu Romo Nacquart yang bertahan sekitar satu setengah tahun dan Romo Bourdaise yang lebih beruntung karena dapat berkarya hampir tiga tahun, sampai dipatahkan oleh disentri yang gawat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Satu demi satu semua tenaga yang telah diutus ke Madagaskar menjadi korban keganasan iklim atau korban semangat kerja yang tak dapat mereka kendalikan. Siapa yang tak patah di bawah pukulan dan kegagalan yang begitu dahsyat? Namun Vinsensius tetap teguh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Kepada komunitas CM dia berkata: “Mungkin darah dan daging cenderung meninggalkan Madagaskar, tetapi saya yakin bahwa roh mempunyai niat yang berbeda … Saya yakin bahwa dalam serikat kita tak seorang pun akan mundur kalau diminta mengambil tempat mereka yang telah gugur”<a name="_ftnref20" href="#_ftn20"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[20]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>. Keyakinan Vinsensius itu sesuai dengan kenyataan. Beliau tak pernah mengalami kesulitan pada saat mencari Romo atau Bruder untuk diutus ke Madagaskar.</p>
<p class="MsoNormal">
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Dalam      kancah politik</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Vinsensius sangat dekat dengan rakyat kecil, tetapi sekaligus dekat pula dengan orang besar, karena Vinsensius ingin menjadi jembatan antara masyarakat yang kaya dan masyarakat yang miskin. Empat orang yang mengendalikan Pemerintah Perancis mengajak Vinsensius untuk bekerja sama: Kardinal Richelieu, Kardinal Mazzarino, Raja Louis XIII dan Ratu Anna dari Austria Khususnya pada masa Ratu Anna memegang pucuk Kerajaan dengan Kardinal Mazzarino sebagai Perdana Menteri, Vinsensius mendapat kedudukan yang cukup tinggi dalam ‘kabinet’ Perancis. Sebagai Bapak Pengakuan Ratu, santo kita menjadi anggota ‘Dewan Hati Nurani’. Dewan ini bertugas memberikan saran kepada Ratu dalam segala urusan kenegaraan yang menyangkut hati nuraninya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Vinsensius berperan penting, terutama dalam pengangkatan Uskup-Uskup. Dia yakin bahwa pembaharuan Gereja Perancis, sesuai dengan harapan Konsili Trente, banyak tergantung pada Uskup-Uskup. Vinsensius mencoba memperjuangkan imam-imam yang pantas untuk kedudukan itu. Karenanya Vinsensius harus banyak berkorban, sebab perjuangannya itu tidak seiring dengan pandangan Kardinal Mazzarino, yang lebih cenderung menganggap pengangkatan Uskup sebagai suatu permainan politik. Vinsensius mendapat kesulitan juga dari banyak keluarga terkemuka, yang hanya ingin memperjuangkan kehormatan keluarga tanpa mempedulikan kepentingan Gereja.</p>
<p class="MsoNormal">Vinsensius menjadi anggota Dewan Hati Nurani dari tahun 1643 sampai tahun 1652, Pada masa itu Perancis diguncangkan oleh perang saudara yang diberi nama perang ‘Fronde’ (1648-1649, 1651-1653). Di tengah-tengah pertentngan antara golongan yang bertikai, Vinsensius menjadi tokoh penengah, karena dia dekat dengan Ratu dan Perdana Menteri, dan dekat pula dengan rakyat, parlemen dan keluarga-keluarga bangsawan. Dua kali Vinsensius melakukan tindakan yang bersejarah, pada bulan Januari 1649 dan pada bulan September 1652. Dia mengusulkan kepada Kardinal Mazzarino agar mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri, karena dialah yang dipandang oleh rakyat sebagai biang keladi perang itu. Pertama kali langkah Vinsensius gagal; tetapi pada tahun 1652 berhasil dan menyelamatkan Perancis dari pertumpahan darah yang tak berguna.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>V Senja yang cerah (1653-1660)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Vinsensius dipandang oleh seluruh masyarakat Perancis dan pejabat-pejabat Gereja sebagai tokoh yang penuh wibawa karena karya, kesucian dan kebijaksanaannya. Dari pusat CM di Paris Vinsensius masih mengikuti perkembangan semua karyanya dan masih bertindak sebagai ‘jenderal’, terutama lewat surat-suratnya. Santo kita tidak dapat terjun langsung di lapangan seperti dulu, karena kesehatannya mulai terganggu. Namun pikirannya masih jernih, kemauannya masih keras dan kesuciannya makin kentara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Selama periode ini dia dapat lebih memusatkan perhatian pada pembinaan CM dan Puteri Kasih. Peraturan CM disetujui oleh Uskup Paris, atas nama Paus, pada tahun 1653. Dua tahun kemudian Paus sendiri menyetujui kaul sebagai unsur hakiki CM. Tahun 1658 peraturan CM, yang sudah direvisi dan disetujui kembali oleh Uskup, dicetak dan dibagikan kepada semua anggota. Puteri Kasih juga mendapat persetujuan sebagai Serikat oleh Uskup Paris.</p>
<p class="MsoNormal">Vinsensius masih memberi perhatian kepada Misi Umat, sebagai karya utama CM. Malah pada tahun 1653 dia ikut ambil bagian dalam salah satu Misi di Sevran. Nyonya d’Aiguillon menulis kepada Romo Portail, wakil Pimpinan CM, dan menegurnya karena Romo Vinsensius yang sudah lanjut usia dibiarkan membuang tenaganya: “Saya merasa bahwa hidupnya sangat berharga<span> </span>dan berguna bagi Gereja dan Serikatnya. Tidak masuk akal kalau tenaganya dibuang begitu saja”<a name="_ftnref21" href="#_ftn21"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[21]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>. Vinsensius, sebelum berangkat, sudah memberi penjelasan kepada ibu yang baik itu: “Saya merasa berdosa di hadapan Tuhan apabila saya tidak melakukan apa saja yang dapat saya kerjakan bagi rakyat miskin dari daerah pedesaan”<a name="_ftnref22" href="#_ftn22"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[22]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada senja hidupnya Vinsensius disibukkan secara khusus oleh dua usaha: Pembebasan para budak kristen di Afrika Utara dan rencana pemerintah Perancis untuk mengumpulkan semua pengemis di satu tempat yang diberi nama “l’Hôpital Général” (rumah sakit umum). Usaha yang kedua ini sebetulnya dirintis oleh ibu-ibu dari Persaudaraan Kasih, yang ingin melaksanakan untuk lingkup yang lebih luas dan umum apa yang sudah dikerjakan oleh Vinsensius dengan asrama “Nama Kudus Yesus” bagi orang-orang jompo. Selanjutnya pemerintah mengambil alih gagasan itu. Vinsensius diberitahu mengenai rencana itu, didesak untuk memberi dukungan dan diminta melibatkan diri dan semua organisasinya dalam usaha itu. Malah para Romo CM secara resmi diangkat menjadi Kapelan, tanpa sebelumnya minta persetujuan kepadanya. Ternyata Vinsensius menolak melibatkan dirinya dan CM dalam karya itu. Sikap Vinsensius nampaknya aneh, sebab dia berpedoman: ’orang-orang miskin adalah warisan kita’ dan karenanya dia tak pernah mengundurkan diri di hadapan kebutuhan mereka. Namun “l’Hôptal Général” mendapat penilaian cukup negatif dari santo kita. Dasar usaha itu bukanlah cinta kepada orang miskin dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka, melainkan pandangan bahwa orang miskin merupakan ancaman bagi masyarakat, karena itu harus disingkirkan dan dimasukkan dalam semacam “penjara” yang hanya namanya lebih manis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Usaha kedua yang menyibukkan Vinsensius ialah karya untuk membebaskan para budak di Afrika Utara. Para anggota CM yang berkarya di sana sangat menderita, terutama Bruder Barreau, Konsul di Aljazair, yang dipenjarakan oleh penguasa setempat. Di seluruh Perancis diadakan propaganda besar-besaran guna mengumpulkan dana untuk membebaskan umat Kristen yang dijadikan budak. Namun hasilnya, betapapun menyenangkan, tak seimbang dengan kebutuhan. Karena itu Vinsensius mengambil keputusan untuk mendukung prakarsa seorang bernama Paul, yang merencanakan suatu serangan terhadap Afrika Utara untuk membebaskan para budak. Serangan memang dilakukan, tetapi gagal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Pada masa ini Vinsensius mendapat percobaan-percobaan berat: Kegagalan Misi di Madagaskar dengan banyak misionaris yang gugur, kehancuran Rumah CM di Warsawa, kematian tujuh imam yang berkarya di Genova. Justeru sikapnya terhadap percobaan-percobaan ini menunjukkan seluruh kesuciannya, seperti dapat dilihat dari contoh berikut.</p>
<p class="MsoNormal">Komunitas Saint-Lazare mempunyai beberapa tanah bengkok. Salah satu yang paling luas dan paling produktif ialah Orsigny. Beban yang harus dipikul CM sungguh sangat berat, maka tanah itu sangat penting bagi kelangsungan hidup komunitas dan karya-karyanya. Ternyata pada tahun 1658 pengadilan memutuskan bahwa CM tidak berhak atas tanah Orsigny. Santo Vinsensius sangat terpukul. Pada waktu itu dia di luar Saint-Lazare dan menulis surat berikut ini kepada komunitasnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">“Apa saja yang dilakukan Tuhan pasti itulah yang terbaik. Kehilangan tanah tersebut akan menguntungkan kita, karena pengalaman ini pun berasal dari Allah. Untuk orang yang saleh segalanya akan membawa kebaikan. Saya yakin bahwa segala kemalangan akan menjadi sukacita dan berkat bila diterima dari tangan Tuhan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kejadian ini, yaitu karena kita kehilangan kekayaan itu, dan kita harus bersyukur pula karena ternyata, berkat rahmat Tuhan, kita siap untuk menerima malapetaka itu demi cinta kepada Tuhan. Kerugian yang kita alami memang besar, tetapi kebijaksanaanNya yang patut kita sembah itu mampu mengubah malapetaka menjadi keuntungan besar bagi kita”<a name="_ftnref23" href="#_ftn23"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[23]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Sejak tahun 1656 kesehatan Vinsensius sangat menurun, tetapi Vinsensius sudah siap menghadap Bapa. Dia sendiri mengakui: “Sejak 18 tahun yang lalu, setiap malam sebelum tidur saya mempersiapkan diri untuk menerima kematian malam itu juga”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">Beberapa temannya mendahului dia. Jean-Jacques Olier, murid Vinsensius dan pembina calon imam seperti gurunya, wafat pada tahun 1657; Antoine Portail, pendamping Vinsensius sejak di Clichy, menyusul pada tanggal 14 Februari 1660; Luisa de Marillac wafat tanggal 15 Maret 1660.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kepergian sahabat-sahabat semakin mempersiapkan Vinsensius untuk melepaskan segala ikatan dunia, sehingga pada akhir September 1660, ketika dia menghadapi ajalnya, tampak begitu damai dan pasrah kepada kehendak Bapa. Dan pada pagi hari tanggal 27 September 1660, didampingi oleh seluruh komunitas CM yang ada di Saint-Lazare, menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan damai.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>Kata Penutup</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>SPIRITUALITAS SANTO VINSENSIUS</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;">“Inilah kunci utama hidup rohani, menyerahkan kepadaNya segala sesuatu yang kita cintai sambil menyerahkan diri kepada kehendakNya”.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Bagi siapa saja kehidupan rohani berarti usaha untuk mencintai Allah. Cinta kepada Allah itu dalam pengertian S. Vinsensius mendapat warna khas: “Saudara-saudaraku, marilah mencintai Allah, sekali lagi marilah mencintai Allah, tetapi dengan mencucurkan keringat dan dengan menyingsingkan lengan baju”<a name="_ftnref24" href="#_ftn24"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[24]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.Santo Vinsensius berkata bahwa ada dua macam cinta kepada Allah, afektif dan efektif, dan keduanya diperlukan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Maka menurut Santo Vinsensius cinta kepada Allah dengan sendirinya bermuara dalam karya Allah, yaitu dalam usaha melaksanakan kehendak Allah. Oleh karena itu bagi Vinsensius doa dan karya merupakan satu kesatuan: doa dilanjukan dalam karya, karya dibawa dalam doa dan karenanya menjadi subur. Vinsensius tidak segan-segan menganjurkan kepada Puteri Kasih: “Bila Suster terpaksa meninggalkan doa untuk melayani orang miskin, jangan cemas, karena itu berarti meninggalkan Tuhan untuk berjumpa lagi dengan Tuhan dalam diri orang miskin”.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Santo Vinsensius bukanlah seorang santo yang menonjol karena pengalaman rohani istimewa, seperti kontemplasi, penglihatan, matiraga luar biasa, mukjizat. Spiritualitasnya menonjol karena bagi dia acara-acara rohani maupun karya sama-sama merupakan doa. Doa di kapel sangat penting: “Berilah aku seorang pendoa dan dia akan mampu melakukan apa saja”. Karya juga penting dan bernilai sebagai doa, karena merupakan perwujudan kehendak Allah. Lebih tegas lagi: dalam doa manusia mencari kehendak Allah yang nantinya akan dilaksanakan dalam karya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kalau kita mempelajari karya maupun tulisan Vinsensius, nampaklah suatu kekhawatiran: jangan-jangan karya yang direncanakan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dia mempunyai prinsip: “Mengikuti Penyelenggaraan Ilahi dan tidak pernah mendahuluiNya”, yaitu menunggu tanda-tanda yang jelas bahwa sesuatu dikehendaki oleh Tuhan. Dia yakin bahwa kalau Tuhan menghendaki sesuatu pasti Dia akan menunjukkan kehendakNya dengan jelas.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Pengalaman membuktikan kepadanya bahwa Tuhan pasti menghendaki Vinsensius membaktikan seluruh hisupnya bagi orang miskin. Setelah peristiwa Folleville, Châtillan-les-Dombes dan peristiwa-peristiwa lain, dia sedikit pun tidak ragu-ragu. Karena itu untuk dirinya dan CM dipilihnya semboyan: “Evangelizare pauperibus misit me” (Tuhan telah mengutus aku untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin); sedangkan untuk para Suster Puteri Kasih dia memilih motto: “Caritas Christi urget nos” (Cinta kasih Kristus mendesak kita).</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Karena para imam CM dan para Suster Puteri Kasih bertugas untuk berkarya di tengah-tengah orang kecil, maka Vinsensius memilih bagi mereka keutamaan-keutamaan yang tepat. Bagi para imam CM: Kesederhanaan, Kerendahan hati, Kelemah-lembutan, Matiraga, Semangat merasul. Bagi para Suster PK: Kesederhanaan, Kerendahan hati, Kasih.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Berdasarkan kesadaran atas panggilan hidupnya itu, maka dia tak pernah mundur di hadapan masalah yang menyangkut orang kecil. Dia tak mungkin berkata: “Saya terlalu sibuk, itu bukan urusan saya, biar ditangani orang lain”. Karena itu kita melihat bahwa semua masalah sosial yang muncul ke permukaan atau berhasil ditangkap oleh kepekaannya, dihadapinya dengan penuh tanggung jawab.<span> </span>Penanganan masalah itu bukanlah untuk sekedar menunjukkan kehendak baik. Selalu diusahakan penanganan yang tuntas, sesuai dengan kemampuan maksimal. Banyak contohnya: Folleville, Châtillon, Macon, korban perang, anak-anak terbuang, budak dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Karena semua ini, Vinsensius menjadi kreatif, bahkan revolusioner. Dia membentuk organisasi yang serba baru, seperti Serikat Puteri Kasih, komunitas suster pertama yang berani meninggalkan biara dan berkarya di tengah-tengah masyarakat, di mana saja diperlukan, dalam kancah perang, di tengah narapidana, di tengah pengungsi yang penuh masalah. Kepada suster-susternya Vinsensius berkata:<span> </span>“Biaramu ialah rumah orang-orang sakit, kamar biaramu ialah kamar-kamar yang kamu sewa, kapelmu ialah Gereja Paroki, lorong biaramu ialah jalan-jalan kota atau lorong-lorong rumah sakit, klausuramu ialah ketaatan, kisi-kisimu ialah rasa takut akan Tuhan, kerudungmu ialah<span> </span>sikap sopan”<a name="_ftnref25" href="#_ftn25"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[25]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Melalui Serikat Suster yang serba baru, melalui Kongregasi imam yang benar-benar terjun di tengah-tengah orang-orang kecil daerah pedesaan, melalui gerakan awam yang tidak hanya mengutamakan kegiatan tetapi mencari ispirasi dalam spiritualitas, melalui pembinaan para imam dan calon imam, Vinsensius membangun Gereja modern<a name="_ftnref26" href="#_ftn26"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;">[26]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a>, Gereja yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan siap melayani kebutuhan dan tantangan masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal">Tulisan: Romo Silvano Ponticelli, CM</p>
<p class="MsoNormal">(Dikutip dari Buku Sahabat-Sahabat Tuhan dan Orang Miskin, SERI VINSENSIANA No. 1).</p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV III, 132-133.</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV 1, 3.</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Mata uang Perancis pada zaman itu.</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV I, 1-17.</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV I, 18-19.</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV XI, 402).</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat SV XI, 337</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat SV XI, 32-34</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV XIII, 423. Lihat Abelly I, h. 46.</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> A. Feillet, <em>La misère au temps de la Fronde et Saint Vincent de Paul, </em>hal. 212-213.</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV V, 241.</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV IV, 405</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV IV, 406-407</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Abelly I, 127-128</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV XIII, 797-801</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV IX, 133</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV X, 125</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV III, 35</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV III,279</p>
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV XI, 420,422</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV IV, 587</p>
</div>
<div id="ftn22">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV IV, 586</p>
</div>
<div id="ftn23">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="#_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV VII, 251-252</p>
</div>
<div id="ftn24">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="#_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> SV XI, 40</p>
</div>
<div id="ftn25">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="#_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Peraturan Umum Puteri Kasih, I,2</p>
</div>
<div id="ftn26">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="#_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat: Giuseppe Giornelli, CM: <em>S. Vincenzo de’ Paoli, un costruttore della Chiesa moderna.</em></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=16&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/santo-vinsensius-bapak-orang-miskin-biografi-singkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas Betania (Yoh. 12: 1-8): Spiritualitas Menjadi Sahabat</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-betania-yoh-12-1-8-spiritualitas-sahabat/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-betania-yoh-12-1-8-spiritualitas-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 06:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Armada Riyanto, CM Pelukisan Teks Yohanes: Yesus di antara para sahabat. Saya memilih teks Yohanes, karena ada laporan yang kurang lebih jelas mengenai di rumah siapa Yesus singgah ketika di Betania. Yesus singgah di rumah Lazarus, Marta, Maria – yang kita ketahui dari Injil yang sama (11:1-44), mereka semua adalah sahabat-sahabat Yesus atau orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=15&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Armada Riyanto, CM</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Pelukisan Teks Yohanes: Yesus di antara para sahabat</span></em><span>. Saya memilih teks Yohanes, karena ada laporan yang kurang lebih jelas mengenai di rumah siapa Yesus singgah ketika di Betania. Yesus singgah di rumah Lazarus, Marta, Maria – yang kita ketahui dari Injil yang sama (11:1-44), mereka semua adalah <em>sahabat-sahabat </em>Yesus atau <em>orang-orang yang dikasihi oleh Yesus </em>(11:5). Teks-teks lain (dari Matius dan Markus) merekam Yesus berada di rumah Simon si kusta</span><span id="more-15"></span><span>. Dan, kita tidak tahu siapa dia, meskipun pastilah juga merupakan salah satu sahabat Yesus. Rekaman Injil Yohanes memberi keuntungan kepada kita paling sedikit kita <em>cukup mengenal </em>siapa tokoh-tokoh yang terlibat. Lazarus adalah dia yang dibangkitkan oleh Yesus sebelum waktunya. Marta adalah seorang wanita yang sangat peka dengan <em>kebutuhan </em>Yesus dan melayaninya dengan sangat giat. Maria adalah <em>dia yang pernah menangis di kaki Yesus </em>dan <em>dia yang mendengarkan Yesus – </em>pada waktu Yesus pernah mampir di rumah ini. Pendek kata kisah Yohanes mampir di Betania ini memberikan kepada kita <em>setting</em> <em>suasana </em>bahwa peristiwanya akrab; Yesus berada di antara para sahabat dekat.<span> </span></span></p>
<h1><span>Model-model komunikasi para sahabat </span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> <span> </span><em>Komunikasi para sahabat Betania. </em>Kisah Injil Yohanes ringkas dan jelas. Kisah diawali dengan penjelasan <em>saat </em>kapan Yesus berada di Betania. “<em>Enam hari sebelum Paskah </em>&#8230;” Yesus mampir lalu di sana diadakan perjamuan. Jadi perjamuan <em>dikhususkan </em>untuk Dia yang sebentar lagi memasuki saat paling menggetarkan dalam hidupnya, salib. Kira-kira tiga atau empat hari menjelang dia gemetaran di taman Getsmani.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Marta seperti biasa repot melayani Yesus. Sementara itu Maria <em>mengambil minyak narwastu yang mahal harganya </em>(pada Injil Matius dikatakan “minyak dalam buli-buli pualam”, sementara Lukas melukiskan “dalam buli-buli pualam&#8230; dan setelah dipecahkannya leher buli-buli pualamnya&#8230;”; d.k.l. minyak itu memang mahal dan berharga, paling sedikit kita tahu dari tempatnya buli-buli pualam!). Lalu, dia <em>meminyaki </em>kaki Yesus dan <em>menyekanya</em> <em>dengan rambutnya</em>. Menarik untuk disimak bahwa – berbeda dengan peristiwa yang direkam Lukas 7: 31-50 – Maria <em>tidak </em>membasahi dahulu kaki Yesus (dengan air matanya)! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span><span> </span></span><em><span>Komunikasi Yudas. </span></em><span>Peristiwa selanjutnya, yang juga dapat kita sebut sebagai “babak” kedua dari kisah Yesus ini ialah reaksi Yudas. <em>Mengapa minyak yang mahal harganya itu tidak dijual saja dan uangnya diberikan orang miskin</em>. Sebuah reaksi yang tidak terlalu jelek sebenarnya. Malahan, kalau kita melihat aneka ajaran Yesus di masa lalu (misalnya ketika seorang pemuda kaya berlari-lari datang kepadanya dan bertanya apakah yang harus dia lakukan untuk memperoleh hidup kekal, dan Yesus menganjurkan untuk menjual seluruh hartanya dan memberikannya kepada orang miskin), reaksi Yudas yah &#8230; paling tidak <em>kloplah </em>dengan <em>ajaran sosial Yesus Kristus </em>waktu itu. Reaksi Yudas kiranya juga tidak terlalu menyimpang dengan <em>ajaran sosial Gereja</em>, “option for the poor.” Malahan reaksi Yudas secara spontan seakan melukiskan dirinya <em>bak </em>seorang anggota SSV, pencinta orang miskin. Atau lagi, <em>bak </em>seorang relawan pemberi bantuan para pengungsi Sampit di Sampang! Apa yang keliru dari “option for the poor”-nya Yudas???</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Yesus menanggapi reaksi Yudas secara dingin, demikian: “Biarlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu. <em><span style="color:blue;">Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu</span></em>!” Sebuah reaksi yang tidak mudah kita pahami begitu saja. Di sini, Yesus sedang berkata-kata apa sesungguhnya? Sepintas, tampaknya Yesus sedang berkata bahwa pelayanan kepada orang miskin itu <em>kurang penting</em>, benarkah? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Kita kesampingkan untuk sementara penilaian dari sang penulis Injil bahwa Yudas itu “pencuri dari kas yang dia pegang” (ay. 6). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Lebih baik mengerti kata-kata Yesus. Ada dua “hal” yang sedang disebut Yesus berkenaan dengan pengurapannya dengan minyak mahal harganya ini: (1) untuk <em>penguburan-Nya</em> [yang dikedepankan Yesus] dan (2) aktivitas melayani orang miskin [yang diunggulkan Yudas]. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Tindakan Maria mengurapi kakiNya, Yesus bela. Alasannya: untuk <em>penguburan</em>-Nya. Maksudnya, tindakan itu <em>mengantisipasi </em>penghormatan kepada Dia saat penguburanNya nanti. Tindakan semacam ini jelas sekali <em>sangat </em>penting, bernilai, berharga – bahkan menampilkan suatu <em>penghargaan </em>yang tinggi sekali bagi Yesus. Tindakan itu memiliki nilai personal yang total dan tuntas maknanya (secara absolut bagi seseorang yang akan sendirian dalam kematiannya). Ingat, kematian Yesus adalah <em>puncak </em>dari karya penebusan-Nya. Kematiannya adalah <em>paskah-Nya</em>. Tubuh Kristus sebentar lagi akan disesah, disapu, dihajar, diludahi, disalibkan, dikuburkan, disendirikan, dikucilkan. Segala momen penderitaan dan kematiannya melukiskan perlakuan pengucilan, penyendirian, penolakan, pembuangan eksistensi Yesus! Biarlah pengurapan minyak ini menjadi <em>tanda </em>yang konkrit. Tanda konkrit dari penghargaan paling bermakna kepada pribadi yang akan menghadapi pengucilan, kesendirian. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa pengurapan kaki ini <em>bukan </em>pemborosan uang sia-sia. Pengurapan kaki dengan minyak mahal itu punya makna mutlak personal bagi Yesus. Di sini, sesungguhnya mulai tampak kurang lebih jelas Yesus sebagai Tuhan yang menderita, yang sengsara, yang mati. Sendirian. Kesepian. Dia tidak butuh idealisme pandangan (pelayanan orang miskin, pembelaan macam-macam yang kerap berupa obsesi pribadi untuk karir dan aneka kepentingan diri sendiri yang berbelit-belit). Dia butuh teman. Teman yang bisa mengusir kegalauanNya, kesendirianNya, kesepianNya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Yudas ditegur (maksudnya, reaksi idealistis Yudas ditanggapi dingin oleh Yesus), karena tidak <em>mengerti </em>semua ini. Mengapa tidak mengerti? Karena yang ada dalam pikiran Yudas <em>bukan </em>Yesus. Artinya, yang ada dalam pikiran Yudas bukan kesadaran sebagai <em>sahabat </em>Yesus. Yudas, di sini, langsung menampilkan diri sebagai orang yang bukan hanya tidak mengerti Yesus melainkan juga terutama tidak <em>menjadi sahabat </em>bagi Yesus. Apakah Yudas lantas sahabat orang miskin? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Penulis Injil langsung secara telak melukiskan bahwa Yudas itu “pencuri.” Kalau benar demikian, sebagai “pencuri” tidak mungkin dia bertindak sekaligus sebagai seorang sahabat. Realitas “pencuri” adalah realitas pribadi yang jelas memiliki kompleks egosentristis. Pencuri memikirkan diri sendiri. Sementara seorang sahabat selalu memikirkan orang lain. Yudas bukan seorang sahabat (apalagi sahabat bagi orang miskin) karena dia adalah seorang pencuri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Yesus tidak berkata bahwa Yudas itu “pencuri.” Dia hanya berkata bahwa <em><span style="color:blue;">Aku tidak akan selalu ada padamu. </span></em><span style="color:blue;"><span> </span></span>Perkataan Yesus memiliki makna sangat mendalam. Apa artinya jika Yesus tidak selalu ada pada Yudas? Artinya, tidak mungkin dibayangkan ada aktivitas “persahabatan” dengan siapa pun. Termasuk juga di dalamnya aktivitas persahabatan (baca: pelayanan) orang miskin. Jika cinta itu berasal dari Tuhan, sementara Tuhan itu tidak ada di dalam dirinya, maka sukar dibayangkan ada aktivitas cinta. Dengan demikian, jelas, Yudas tidak mencintai orang miskin (karena dia tidak mencintai Yesus). Tidak mungkin, membenci Yesus di satu pihak dan mencintai orang miskin di lain pihak. Tidak mungkin, karena ini berarti mengidentifikasi Yesus seperti kaum borjuis yang dibenci kaum komunis karena lawan kaum proletariat (dan identifikasi semauanya itu tidak mungkin). Kalau Yudas tidak mencintai orang miskin (karena tidak mencintai Yesus), dia mencintai siapa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Yudas mencintai dirinya sendiri (mendengarkan, mementingkan, mengunggulkan dirinya sendiri)! Selama ini, seandainya <em>toh</em> ada pelayanan sana-sini kepada orang miskin yang dilakukannya, semuanya dijalankan hanyalah untuk mencari<span> </span><em>diri sendiri </em>saja, dan bukan <em>karena </em>terdesak oleh kasih kepada Tuhan. Yudas, dengan demikian, menempatkan dirinya jauh dari disposisi sebagai seorang sahabat. Padahal, saat ini, yang diperlukan oleh Kristus hanyalah ini: seorang sahabat. Seorang sahabat bukan seorang yang disibukkan oleh aneka idealisme pribadi yang berkecamuk tak karuan. Seorang sahabat itu seorang yang menyambut, menemani, mendengarkan, menyeka, mengurapi kaki, menyertainya sampai mati. Sayang! Sungguh sayang! Yudas yang begitu lama telah bersama-sama dengan Yesus – dan dari sendirinya disposisi sebagai seorang sahabat bagi Yesus harus sudah diandaikan tanpa kesulitan – telah mengucilkan diri sendiri jauh dari pribadi Yesus. Yudas memilih mengucilkan diri dari persahabatan dengan Tuhan. Oh, sungguh sayang! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Di lain pihak tindakan pengurapan kaki Yesus dengan minyak yang mahal sekali harganya itu, dari sisi si pelaku utama, Maria, tindakan semacam ini jelas mengatakan <em>kasih </em>yang sangat mendalam kepada Yesus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Jadi, Yudas ditegur jelas sekali <em>bukan </em>karena dia mencintai orang miskin lebih daripada kepada Yesus, melainkan karena <em>hidup</em>-nya tidak dipondasikan di atas kasih kepada Tuhan – juga bahkan tidak <em>akan </em>dipondasikannya. Yudas mempondasikan hidupnya di atas kerinduan-kerinduan / kepentingan / angan-angan / cita-cita bagi dirinya sendiri. Sebuah cita-cita pengucilan diri sendiri! Pengucilan diri sendiri inilah yang <em>memblokir </em>Yudas untuk mengerti mengenai <em>penguburan </em>Yesus, mengenai <em>Paskah </em>Kristus, mengenai Yesus yang <em>sengsara</em>, yang sangat <em>merindukan seorang sahabat</em>. Yudas dengan demikian <em>buta </em>atas peristiwa puncak keselamatan Kristus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span>Spiritualitas Betania</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(1)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span>Dengan demikian, dari reaksi Yudas dan kritik Yesus kepadanya, kita dapat mengambil satu dua komponen <em>spiritualitas </em>Betania. Di Betania, Yesus berbicara mengenai skema karya penebusanNya yang akan <em>segera sampai pada PUNCAKNYA</em> pada kematian-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(2)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span>Spiritualitas Betania adalah spiritualitas yang <em>mempondasikan </em>hidup kita kepada Yesus, dan bukan kepada kehebatan / sekedar keaktifan kerja ini atau itu. Pondasi hidup dan karya kita: Yesus sendiri. Hati-hati jangan sampai sekedar untuk <em>mencari diri sendiri</em>. Pencarian diri sendiri dalam karya dan hidup (komunitas maupun hidup doa pribadi) akan <em>memblokir </em>keterlibatan kita pada karya penyelamatan Kristus yang berpuncak dalam kematian-Nya. Ketika Yudas membelakangkan <em>Kristus </em>dan mengedepankan diri sendiri, Yudas mandeg. Artinya, ia tidak terlibat lagi – tidak terlibat <em>menemani </em>Yesus sampai pada salib. Tidak <em>menjadi sahabat. </em>Hal ini <em>kontras </em>dengan Maria (yang mengurapi kaki Yesus), yang bahkan dalam tradisi termasuk salah seorang yang <em>menemani </em>Kristus hingga di salib. Sebuah keterlibatan yang mengesankan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(3)<span> </span></span></span><!--[endif]--><span>Jika kita menyimak komunitas kecil, Lazarus, Marta, Maria, kita diingatkan akan peristiwa <em>keseharian</em> yang mencengangkan. Yesus mampir di rumah para sahabatnya yang mencintaiNya. Dia nampak kerasan. Kita tahu bahwa dalam Injil ada sebutan-sebutan “rasul,” “murid,” dan seterusnya. Kita sekarang berkenalan dengan terminus baru, “sahabat” bagi Yesus. Saya merefleksikan bahwa spiritualitas Betania adalah <strong><em><span style="color:red;">spiritualitas menjadi sahabat-sahabat Yesus</span></em><span style="color:red;">.</span> </strong>Apakah artinya menjadi “sahabat” bagi Yesus? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span>- Menjadi sahabat berarti <em>terlibat</em>. Komunitas Betania adalah komunitas yang <em>terlibat </em>dalam hidup dan “perasaan” Yesus. Terlibat dalam hidup Yesus artinya <em>ambil bagian </em>dalam rencana dan peristiwa hidup Yesus. Marta melayani; Lazarus menemani makan; Maria mengurapi kakiNya. Aktivitas-aktivitas ini adalah <em>keterlibatan</em>. Apa yang unik (maksudnya, apa yang membuat aktivitas ini <em>toh </em>sama, menyatu, tunggal)? Yesus sendiri!. Dengan demikian keterlibatan komunitas pada Kristus <em>hanya </em>mungkin, apabila berpusat dan hanya untuk <em>Yesus</em>, bukan untuk diri sendiri atau karena <em>iri</em>, <em>benci</em>, <em>dengki</em>, dan seterusnya kepada orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span>- Menjadi sahabat berarti <em>menjadi </em>teman. <em>Menemani</em>. Apa yang bisa kita lakukan saat ini kepada Yesus? Tidak ada yang terbaik kecuali <em>menemaniNya.</em> Apa maksudnya? Datang ke Sakramen Mahakudus, untuk merasakan getaran-getaran kesendirian yang dirasakan oleh Yesus, ketakutan-ketakutan yang menyesakkan dari Yesus, kesusahanNya karena ketidaksetiaan para muridnya dan karena penolakan orang-orang sebangsaNya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span>- Bagaimana menjadi teman bagi Yesus? <em>Doa</em>. Saya ingin mengutip Santa Teresia dari Avilla, bahwa saat ini (saat Yesus galau, gundah dan susah dalam ketakutan dan kesendirianNya di taman Zaitun), Dia sungguh membutuhkan seorang sahabat. “Apakah kamu tidak sanggup berjaga dalam doa bersamaKu satu jam saja”, permintaan yang hendaknya terngiang-ngiang di dalam telinga kita setiap hari, saat ini. Sebuah permintaan agar kita mau menjadi sahabat bagi diriNya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span>- Spiritualitas Betania – yang demikian ini – jika kita <em>aktualisasikan </em>saat ini jelas memaksudkan perubahan-perubahan yang kongkrit dalam komunitas. Seluruh anggota Komunitas diminta menempatkan Yesus sebagai <em>pusat / pondasi</em>, dan kita semua adalah <em>sahabat-sahabat</em>-Nya yang siap menyambut “Kristus” yang hadir di hadapan kita dalam diri orang-orang yang kita layani, kita bantu, kita bina. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span>- Spiritualitas Betania – dengan demikian – adalah spiritualitas yang membuat <em>Yesus </em>kerasan dan merasa ditemani di rumah kita, di dalam komunitas kita, di dalam hidup kita, di dalam hati kita. Khususnya Yesus yang sedang <em>memasuki </em>Yerusalem, akhir dari perjalanan karya penebusan-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:0.5in;"><em><span>Selamat menjadi sahabat Yesus. </span></em></p>
<p><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><em><span>Armada Riyanto CM<span> </span></span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=15&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/spiritualitas-betania-yoh-12-1-8-spiritualitas-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Pokok Spiritualitas Vinsensius (Dialog)</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/beberapa-pokok-spiritualitas-vinsensius-sebuah-dialog/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/beberapa-pokok-spiritualitas-vinsensius-sebuah-dialog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 05:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Kelompok Studi Vinsensian Puteri Kasih ♥ Spiritualitas Vinsensius adalah spiritualitas yang mengarah kepada suatu tindakan (aksi), suatu spiritualitas yang membuka mata kita untuk melihat dengan tajam di sekitar kita, di umat dan masyarakat sekeliling kita. Kita menjadi terbuka dengan apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Apa yang dilihat dan apa yang dibuat? ♥ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=14&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oleh: Kelompok Studi Vinsensian Puteri Kasih</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> ♥ </span><span>Spiritualitas Vinsensius adalah spiritualitas yang mengarah kepada suatu<strong> <span style="color:red;">tindakan (aksi),</span></strong> suatu spiritualitas yang membuka mata kita untuk melihat dengan tajam di sekitar kita, di umat dan masyarakat sekeliling kita. Kita menjadi terbuka dengan apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari.</span><span id="more-14"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><strong>Apa yang dilihat dan apa yang dibuat?</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span> ♥ Pengikut-pengikut Vinsensius sudah terlatih untuk melihat dan memperhatikan kaum miskin, kecil dan terlantar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><strong><span> Mengapa kaum miskin, kecil dan terlantar menarik perhatian seorang Vinsensian?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><span> ♥ Karena seorang Vinsensian sudah mengalami bahwa Kristus hadir dalam diri mereka, maka bagi Vinsensian Kristus itu sangat konkrit. Mereka dapat memegang-Nya, memeluk-Nya dan mengulurkan tangan kepada-Nya untuk membantu-Nya dan menunjukkan cinta kepada-Nya dalam hidup sehari-hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span> Kata Vinsensius :</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span> “Kamu harus yakin bahwa tidak ada rugi bagi kamu, bila kamu harus meninggalkan acara doamu dan perayaan ekaristi untuk mengunjungi orang-orang miskin, karena kamu mengunjungi Allah bila kamu mengunjungi dan melayani orang miskin. Kamu harus melihat Allah dalam diri orang miskin</span><span>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><em><span> </span></em><span>Maka dapat terjadi bahwa seorang Vinsensian harus <em>“meninggalkan Allah untuk menjumpai Allah”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><span><strong> Siapa yang miskin, kecil dan terlantar?</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span> ♥ Menurut Vinsensius kita dapat mengalami Kristus dalam diri orang yang menderita, miskin, kecil dan terlantar bila kita berkontak antar pribadi dengan mereka, berkontak dari hati ke hati. Untuk itu hendaknya kita menghindari sikap melayani orang dari atas ke bawah. Pelayanan hendaknya kita lakukan dalam suasana relasi dengan saudara-saudari kita. Bahkan Vinsensius mengharapkan kita memperlakukan dan menganggap kaum miskin sebagai tuan dan majikan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> Orang miskin Majikan dan tuan?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> ♥ Vinsensius membimbing kita untuk selalu memperhatikan hati orang yang kita layani. Kita diajak untuk memandang orang miskin itu seperti ia dilihat oleh Allah: Siapakah orang ini sebenarnya? siapa namanya? apa yang bisa dibuat sekarang untuk menolong dia? Maka pelayanan kit ditentukan oleh kebutuhan si miskin. Kita hendaknya memperhatikan hatinya dan kebutuhannya yang terdalam. Bukankah dia tuan dan majikan kita? Maka setiap kali kita bertemu orang miskin yang menengadah kepada kita dan kita melihat matanya, kita harus berbuat sesuatu bagi dirinya entah bagaimana, karena saat itu dia menjadi majikan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Vinsensius mengatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><em><span>“Ingatlah bahwa tugasmu yang utama, yang diminta Tuhan dari kamu adalah melayani orang miskin. Merekalah tuan-tuan kita; merekalah majikan kita. Oleh karena itu kamu harus menghadapi mereka dengan ramah dan penuh perhatian.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> “Suster- Susterku<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>, bersikaplah halus dan lembut dalam pergaulanmu dengan orang miskin. Kalian tahu bahwa merekalah tuan dan majikan kita. Kita harus mencintai mereka dengan manis dan halus serta menghormati mereka.Tidak cukup bila sikap yang baik ini kamu yakini secara batin; cinta kasih dan kehalusan itu harus nampak secara konkret.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoBodyText"><span><strong> Akan tetapi, bagaimana kita dapat melihat Allah dalam diri orang yang menderita?</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><span> ♥ “Melihat” atau “mengalami” Allah adalah rahmat, yang Allah berikan kepada kita. Akan tetapi kalau kita tidak berbuat sesuatu untuk “melihat” atau “mengalami” Allah, kita tidak akan melihat atau mengalami apa-apa.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span> Beberapa nasehat Vinsensius</span><span> :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"> <span>v<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span>Berkontak langsung dengan orang miskin sebagai saudara dan saudari: mengenal nama mereka, cerita tentang hidup mereka, penderitaan mereka, keadaan mereka. Dengan demikian kita menjadi bagian dari hidup mereka, yang sering tidak memberi jalan keluar bagi penderitaan mereka, namun hanya dapat turut mendengar dan menderita bersama mereka.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span>Merenungkan dan membawa mereka kedalam doa dan meditasi kita. Kita dapat bertanya kepada Tuhan : bagaimana Engkau hadir dalam orang ini ? Bagaimana Engkau melihat dia ?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span> </span></span></span><!--[endif]--><em><span>Berpegang pada beberapa pokok ajaran injil, misalnya : Mat 25:40 ; Mat 19:21; Mat 14:14.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;"><span><strong> Apakah seorang Vinsensian tidak dengan mudah akan “tenggelam” dalam tugas pelayanannya dan akan</strong> <strong>cepat kehabisan “energi” dan mudah bosan?</strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> ♥ Bisa saja terjadi demikian. Akan tetapi bila seorang Vinsensian itu setiap hari berdoa dan merenungkan karya pelayanannya dan kehadiran serta keterlibatan Allah di dalamnya, dia akan mengalami bahwa hidupnya sangat diperkaya, ia akan semakin peka pada kehadiran Allah dalam diri orang yang miskin dan menderita. Bila demikian, ia akan sering mengalami bertemu Allah secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Dia semakin memiliki kesempatan untuk melayani Kristus, membangkitkan Kristus dalam diri orang yang miskin dan menderita. Seorang Vinsensian akan menerima ajaran Kristus dan injil-Nya dari orang miskin.Pengalaman-pengalaman ini akan mengubah hidup seorang Vinsensian. Dia akan memiliki belas kasih secara mendalam. Apabila hal ini terjadi, seorang Vinsensian akan semakin menampakkan Kristus bagi orang-orang yang miskin dan menderita, dia semakin menjadi “kristus penyelamat” bagi sesama. Dengan demikian hidup seorang Vinsensian menjadi lebih bermakna, bergembira dan bahagia secara mendalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span><strong> Bagaimana melayani orang miskin dengan baik sebagaimana mencintai Kristus?</strong> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> ♥ Menurut Vinsensius, cinta yang paling sempurna adalah cinta yang afektif dan efektif. Cinta yang afektif membuat seseorang merasa terharu dan penuh perasaan terhadap orang yang dicintai. Cinta yang efektif membuat orang melayani dan mencintai secara profesional agar pelayanannya berhasil. Cinta yang afektif dan efektif harus saling melengkapi. Cinta yang hanya afektif bukanlah cinta sebab hanya perasaan sentimental belaka. Cinta yang hanya efektif juga bukan cinta, karena orang yang dicintai dan dilayani tidak dihargai sebagai manusia yang memiliki hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Vinsensius mengatakan :</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span> “Kamu harus melupakan kepentingan dirimu sendiri dan memberikan diri dengan keterlibatanmu yang konkret, karena cinta kasih baru otentik bila cinta itu bersifat afektif dan efektif.”</span></p>
<p style="text-align:right;"><span> Kelompok Studi Vinsensian </span></p>
<p style="text-align:right;">Suster-Suster PK (Sr. Anna PK)</p>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Vinsensius mengatakan hal ini dalam suatu konferensinya kepada Puteri Kasih</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=14&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/05/beberapa-pokok-spiritualitas-vinsensius-sebuah-dialog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kronologi Hidup St. Vinsensius dan Konteks Historis</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/04/chronological-table-of-events-from-biography-of-st-vincent-de-paul-of-jose-maria-roman-cm/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/04/chronological-table-of-events-from-biography-of-st-vincent-de-paul-of-jose-maria-roman-cm/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 01:48:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[studia vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/04/chronological-table-of-events-from-biography-of-st-vincent-de-paul-of-jose-maria-roman-cm/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Jose Maria Roman, CM Kronologi Hidup St. Vinsensius de Paul ini dikutip dari buku &#8220;Biography of St. Vincent de Paul&#8221;, tulisan sejarawan vinsensian dari Spanyol, Romo Jose Maria Roman CM. Kronologi ini secara ringkas namun jelas memberikan terang mengenai perjalanan Santo Vinsensius dengan konteks hidupnya, konteks sosial politik, konteks hidup Gereja dan konteks kultural. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=11&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Jose Maria Roman, CM</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://vinsensius.files.wordpress.com/2008/04/oase3.thumbnail.jpg?w=97&#038;h=118" alt="oase3.jpg" width="97" height="118" align="left" /><span style="font-size:10pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><span style="font-size:10pt;">Kronologi Hidup St. Vinsensius de Paul ini dikutip dari buku &#8220;Biography of St. Vincent de Paul&#8221;, tulisan sejarawan vinsensian dari Spanyol, Romo Jose Maria Roman CM. Kronologi ini secara ringkas namun jelas memberikan terang mengenai perjalanan Santo Vinsensius dengan konteks hidupnya, konteks sosial politik, konteks hidup Gereja dan konteks kultural. Sangat menarik </span><span id="more-11"></span><span style="font-size:10pt;">untuk disimak. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">CHRONOLOGICAL TABLE OF EVENTS </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;">(From <em>Biography of St. Vincent de Paul </em>of Jose Maria Roman CM)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;margin-left:12pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:windowtext;border-style:double solid solid double;border-width:1.5pt 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:double solid solid none;border-width:1.5pt 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">LIFE OF ST. VINCENT</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:double solid solid none;border-width:1.5pt 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">POLITICAL AND SOCIAL HYSTORY</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:double solid solid none;border-width:1.5pt 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">CHURCH HISTORY</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:double double solid none;border-width:1.5pt 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">CULTURAL EVENTS</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1581</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of St. Vincent in Pouy</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of St. Cyran</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1582</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of St. Teresa<span> </span>of Jesus</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Gregorian reform of the calendar</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1585</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Gregory XIII.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Election of<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Sixtus V</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1589</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Assassination of Henry III of France.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1590</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Sixtus V. Election and death of Urban VII. Election of   Gregory XIV.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1591</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Louise de Marillac.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of St. John of the Cross. Death of Gregory XIV. Election and   death of Innocent IX.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1592</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Election of Clement VIII</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1593</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Abjuration of Henry IV</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Montaigne</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1594</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Coronation of Henry IV and his entry into Paris</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Expulsion of Jesuits from France</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1595</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent begins his first studies at Dax. Tutor in the Comet   household</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Papal absolution for Henry IV</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Re-issue of Montaigne&#8217;s Essays</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1596 </span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent receives the tonsure and minor orders at Bidache</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Descartes</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1597</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">He begins his theological studies at Zaragoza and Toulouse (till   1604). Tutor at Buzet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Henry IV recaptures Amiens</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of St. John Francis Régis (+ 1640)</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1598</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of St. Vincent&#8217;s father, John de Paul. Vincent receives   subdiaconate and diaconate at Tarbes.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Edit of Nantes. Peace of Vervins. Death of Philip II of Spain.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Fr. Luis de Granada. Birht of Charles de Condren and J.B.   Saint Jure.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1599</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Annulment of the marriage between Henry IV and Marguerite de Valois.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Blessed Mary of the Incarnation.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication of <em>&#8220;Guzmán de   Alfarache&#8221; </em>by Mateo Alemán.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1600</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent is ordained to the priesthood at Château L&#8217;Évêque: first   Mass at Buzet. Appointed parish priest of Tilh.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Marriage of Henry IV and Marie de Medici.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Velázquez. <em>&#8220;El   Guzmán&#8221; </em>is translated into French.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1601</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent&#8217;s first journey to Rome. He is moved to tears.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of St. John Eudes.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1603</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Elizabeth I of England. </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Return of the Jesuits to France.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1604</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent obtains his Batchelor of Theology degree at Toulouse.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Institution of &#8220;La Paulette&#8221;.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1605</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent travels to Bordeaux, Castres, Toulouse and Marseilles. He   is captured by Barbary pirates and taken to Tunis. </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Clement VIII. Election of Leo XI and Paul V.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication of 1st part of <em>&#8220;Don   Quijote&#8221;.</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1606</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent a slave in Tunis.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Julien Maunoir</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Corneille</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1607</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Freed from slavery. Stays at Avignon. 2nd journey to Rome. First   letter about his captivity.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication of <em>&#8220;L&#8217;Astrée&#8221;<span> </span></em>by Honoré d&#8217;Urfé.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1608</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">2nd letter from captivity. St. Vincent moves from Rome to Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of C. Authier de Sisgau and J.J. Olier</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication <em>&#8220;La Vie   Dévote&#8221;.</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1609</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The judge from Sore accuses Vincent of theft. St. Vincent makes the   acquaintance of Bérulle.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">B. de Canfield publishes <em>&#8220;The   Rule of Perfection&#8221;.</em> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1610</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Letter to his mother. He is appointed chaplain to Marguerite de Valois   and abbot of St. Leonard de Chaumes. His journey to La Rochelle.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Assassination of Henry IV. Marie de Medici appointed regent.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Francis de Sales founds the Visitation order.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1611</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent stays at the house of Bérulle. He visits the Charity   Hospital. He makes the acquaintance of a theologian tempted against the   faith.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Concini, Councillor of Marie de Medici.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of B. de Canfield. Bérulle founds the Oratorians.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1612</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">He is appointed parish priest of Clichy. Probable date of temptation   against the faith (it lasted 3 or 4 years).</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Condemnation of Richer. Paul V approves the Ursulines</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Arnauld.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1613</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">He enters the de Gondi household as tutor to the children.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of J.F. Paul de Gondi.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1614</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Louis XIII comes of age. The Estates General.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;">&#8220;Ejercicio de   Perfección&#8221; </span></em><span style="font-size:10pt;">by Fr. Alonso Rodríguez</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1615</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Appointed canon and treasurer of Écouis. He contracts an illness that   affects his legs.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Marriage of Louis XIII and Anne of Austria. Philip IV marries Isabelle   de Bourbon.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The Assembly of the Clergy promulgates in France the decrees of Trent. </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1616</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Resigns the post of abbot of St. Leonard de Chaumes. Asks permission   to absolve reserved sins. Sermon about the catechism and communion.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Richelieu enters the government for the first time.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;">&#8220;Traité de l&#8217;amour de   Dieu&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;"> by St. Francis de Sales.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Cervantes</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1617</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Confession of the peasant at Gannes and the sermon at Folléville. He   leaves the Gondis. Parish priest of Chatillon. Foundation and rules of 1st   Charity Confraternity. He returns to the Gondi household.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Assassination of Concini. Louis XIII begins to reign in his own right.   Luynes is his favourite.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Approbation granted to the Clerks Regular of Christian Schools of St.   Joseph of Calasanctins. </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1618</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Preaches mission at Villepreux, Joigny and Montmirail. Becomes   friendly with St. Francis de Sales in Paris.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Start of the Thirty Years War.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Francis de Sales travels to Paris. Death of Mme. Acarie.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1619</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Appointed Chaplain to the Galleys.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Ferdinand II, Emperor.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1620</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mission and Charity Confraternities throughout the de Gondi estates.   Conversion of two heretics at Montmirail. Another heretic voices his   objections.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1621</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mission at Marchais. Conversion of the 3rd heretic at Montmirail. St.   Vincent affiliated to the Minims. The Charity at Mâcon. He makes his retreat   at Soissons.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Paul V. Election of Gregory XV. </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;">&#8220;Ejercicio de   Perfección&#8221; </span></em><span style="font-size:10pt;">is tranlated into French.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1622</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent named Superior of the Visitation nuns in Paris. He travels   to Marseilles.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Birth of Molière.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1623</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mission to galley slaves in Bordeaux. Journey to Pouy. He is tempted   to help his family. Obtains his degree in canon law.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">War of La Valtelina between France and Spain.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Gregory XV. Election of Urban VIII. Edict against the   illuminists<span> </span>of Seville.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Bérulle publishes<span> </span><em>&#8220;Discours de l&#8217;état et de la grandeur   de Jésus</em>&#8221; </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1624</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">He makes a retreat at Valprofonde and Soissons. He is named Prior of   Grossesauve and Principal of the Bons Enfants. Pastoral visitation of Clichy   by Mons. de Gondi. He makes the acquaintance of Saint Cyran and of Louise de   Marillac.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Richelieu is Prime Minister. Franco &#8211; Dutch alliance.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1625</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the Congregation of the Mission. Death of Mde. de Gondi.   St. Vincent travels to Provence to tell her husband. Death of Antoine Le   Gras, husband of Louise.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Cardinal Barberini legate during the conflict of La Valtelina.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mère Angélique tranfers her abbey to Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1626</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The archbishop of Paris grants approval to C.M. The Bons Enfants   joined to it. The 1st missionaries sign the deed of aggregation. St. Vincent   bequeaths his possessions.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Peace of La Rochelle with the Protestants. Peace of Monzón with Spain.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Jansen has the Oratorians founded in the Low Countries.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Malherbe and Francis Bacon.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1627</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The Sacred Congregation of Propaganda approves Vincent de Paul&#8217;s   Mission. The first lay brother enters the community.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Conflict between France and England. Franco-Spanish alliance.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Bérulle, Cardinal. Foundation of the Company of the Blessed Sacrament.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Philippe de Champaigne paints Jansen&#8217;s portrait. Birth of Bossuet.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1628</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent gives testimony during the beatification process of   Francis de Sales and gives the first retreat to ordinands at Beauvais.   Propaganda refuses to approve C.M. Opposition from Bérulle.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Fall of La Rochelle. Succession of Mantua. Spain opposed to French   candidate, Charles de Gonzague.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1629</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Vows are introduced into the C.M. Foundation of the Charity at   Beauvais. Louise de Marillac visits the charities.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Louis XIII gives aid to Charles de Gonzague. Hostility of Richelieu   and Bérulle. Peace of Alais.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Cardinal Bérulle. He is succeeded by Fr. Condren.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1630</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent makes a will to bequeath his goods. He is visited in Paris   by his nephew. Louise de Marillac visits the charities of Beauvais.   Opposition to the C. M. from the clergy of Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">France captures Pignerol. Day of the Dupes. Downfall of the Devout   Party.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1631</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The Archbishop of Paris confides the work of retreats for ordinands to   St. Vincent. Fr. du Coudray arrives in Rome to negotiate the approbation of   the C.M.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Marie de Medici flees to the Low Countries</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Start of publication of <em>&#8220;La   Gazette de France.&#8221;</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1632</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent takes possession of Saint Lazare. Lawsuit with the canons   of St. Victor. Death of Marguerite Naseau.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Michel de Marillac and execution of Louis. Battle of Lützen.   Secret marriage of Gaston d&#8217;Orleans.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Galileo: <em>&#8220;Dialogo sopra i   due massimi sistemi.&#8221;</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1633</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Bull <em>&#8220;Salvatoris   Nostri&#8221; </em>giving approval to the C.M. Foundation of the Tuesday   Conferences and of the Daughters of Charity.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Invasion of Lorraine by Louis XIII.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Priestly ordination of J.J. Olier. Saint Cyran in Port Royal.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Holy Office condemns Galileo.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1634</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the Ladies of Charity of the Hôtel-Dieu. Louise de   Marillac renews her vows of widowhood and service of the poor.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Battle of Nordlingen. Victory for the Cardinal-Infante.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Saint Jure publishes <em>&#8220;De la   connaissance et l&#8217;amour de Dieu.&#8221;</em></span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1635</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the house at Toul.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pierre Séguier, Chancellor. France declares war on Spain.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the Académie Française.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1636</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Saint Lazare military recruitment centre. Chaplains are sent to the   army. St. Vincent visits the King at Senlis. Bons Enfants, Tridentine   seminary.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Taking of Corbie. Spanish threat to Paris. Rising of the   &#8220;croquants.&#8221;</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">First performance of <em>&#8220;Le   Cid&#8221; </em>by Corneille.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1637</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Establishment of the internal seminary of C.M. Foundation of the house   Notre Dame de la Rose. St. Vincent reproaches Saint Cyran.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mlle. La Fayette joins the Visitation order. Downfall of P. Caussin.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Descartes: <em>&#8220;Discours de la   Méthode&#8221;</em>.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1638</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The Tuesday Conference priests give a mission to Saint   Germain-des-Prés and to the Court. Beginning of the work for foundlings.   Foundation of the houses at Richelieu, Troyes and Luçon.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Fr. Joseph de Tremblay. Birth of Louis XIV. Saint Cyran   imprisoned. Death of Jansen.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of M. Duval, spiritual director of St. Vincent. The first   recluses at Port Royal.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Poussin: <em>&#8220;The Arcadian   Shepherds</em>&#8220;.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1639</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Beginning of aid for Lorraine. Mission to the refugees. St. Vincent   gives evidence at the trial of Saint Cyran. Foundation of the house at Alet   and the hospital of Angers. Aid to the galley slaves. P. Lebreton in Rome.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Uprising of the &#8220;Va-nu-pieds&#8221; in Normandy.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication of <em>&#8220;L&#8217;Esprit de   Saint François de Sales&#8221; </em>by Camus.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1640</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent pleads with Richelieu for peace. Aid for Lorraine   continued. St. Vincent unsure about the vows.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Rebellion of Catalonia and Portugal.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Publication of <em>&#8220;Augustinus&#8221; </em>by Jansen.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pascal: <em>&#8220;Les Sections   Coniques</em>&#8220;.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1641</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the house at Annecy. St. Vincent has a vision of the   three globes. Foundation of the house at Crécy. &#8220;Ordinance of the   Vows&#8221; in C.M. approved by the archbishop. Authorisation to found houses   in Rome.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The French in Catalonia. Cromwell in power. Mazarin, Cardinal. Death   of Cardinal-Infante.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">First condemnation of <em>&#8220;Augustinus&#8221;.</em> Death of J.F. de Chantal and P. Condren.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Descartes: <em>&#8220;Méditations&#8221;.</em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1642</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Establishment of seminaries at Annecy and the Bons Enfants. 1st   collective taking of vows and first general assembly of C.M. St. Vincent&#8217;s   resignation not accepted by the assembly.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Plotting and execution of Cinq-Mars. Death of Richélieu. Mitigation of   Saint Cyran&#8217;s imprisonment.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Olier founds the seminary and community of Saint Sulpice. Habert   preaches against Jansen.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Corneille: <em>&#8220;Le   Menteur.&#8221;.</em> Death of Galileo.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1643</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent helps Louis XIII to die well. Appointed member of the   Council of Conscience. Mission in the galleys at Marseilles. Foundation of   houses at Cahors, Marseilles and Sedan.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Louis XIII. Anne of Austria, regent. Mazarin Chief Minister.   Saint Cyran is released.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Saint Cyran. Arnauld: <em>&#8220;De   la Fréquente Communion.&#8221; </em>St. John Eudes founds the Congregation of   Jesus and Mary (Eudists).</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1644</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">A. Dufour offers his life for that of St. Vincent who is gravely ill.   Foundation of the houses at Saintes and Montmirail. Project for a foundation   in Barcelona.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Urban VIII. Election of Innocent X.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1645</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of houses at Saint-Méen, Le Mans and Genoa. Missionaries   arrive in Tunis.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1646</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Arrival of missionaries in Algeria and Ireland. The coadjutor of Paris   gives approval to the Daughters of Charity.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1647</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Project for a mission in Persia. John Le Vacher arrives in Tunis.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Condemnation of the Doctrine of &#8220;the two heads.&#8221;</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1648</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the houses at Tréguier and Agen. Missionaries arrive in   Madagascar. Letters of St. Vincent about frequent communion and Jansenism.   Meeting at Saint Lazare to prepare the propositions.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Arrest of Broussel. The Parlement Fronde breaks out. Battle of Lens.   Peace of Westphalia.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Innocent X condemns the Treaties of Westphalia.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Philippe de Champaigne paints Mère Angélique&#8217;s portrait.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1649</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent goes to Saint Germain to ask for Mazarin&#8217;s dismissal. He   visits the houses of W. France. Falls ill at Richelieu. Begins to use the   carriage. Discourse to the Ladies about the Foundlings. Aid given to Paris   and surrounding districts.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Paris rebels against Mazarin. The Court at Saint Germain. Concorde de   Rueil. Execution of Charles I of England.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Cornet submits the Jansenist propositions to the Sorbonne.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1650 </span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the house at Périgueux. Marriage of Michel Le Gras.   Start of relief given to Picardy and Champagne. <em>&#8220;Les Relations&#8221; </em>appear.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The Spaniards lay siege to Guise. Arrest of Condé.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Descartes.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1651</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Increased aid for Picardy and Champagne. Mission to Limerick. Death of   Thaddeus Lee, protomartyr of C.M. 2nd general assembly of C.M. Missionaries   arrive in Poland and Scotland. St. Vincent collects signatures against   Jansenism.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Condé is released. The Fronde of the Princes breaks out. Louis XIV   comes of age.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the Foreign Mission of Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1652</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Period of most intensive aid to Paris and surrounding districts. St.   Vincent mediates in the Fronde. Interviews with the Queen and the Princes.   Letters to the Pope and to Mazarin. Leaves the Council of Conscience.   Foundation of house at Montauban.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Campaigns of the Fronda. Paris surrenders and the monarchs return.   Cardinal de Retz a prisoner at Vincennes.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Bossuet is ordained a priest at the church of Saint Lazare.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1653</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent gives support to the anti-Jansenist delegation in Rome.   The Archbishop of Paris approves the Rules and Constitutions of C.M.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Return of Mazarin. End of the Fronde.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The five Jansenist propositions are condemned in the bull <em>&#8220;Cum occasione.</em>&#8220;</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1654</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the houses at Agde and Turin and establishment of Nom de   Jésus hospital. Martyrdom of Pedro Borguny in Algiers. Aid to Picardy   continued.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Flight of Cardinal de Retz.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of J.F. de Gondi, Archbishop of Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1655</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Approval for the vows of C.M. in the brief <em>&#8220;Ex commissa nobis&#8221;. </em>Cardinal de Retz approves the   Daughters of Charity election of its officers. French missionaries expelled   from Rome for giving hospitality to de Retz.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Cardinal de Retz in Rome.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of Innocent X. Election of Alexander VII. Dispersion of the   recluses of Port Royal. Death of A. Bourdoise.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1656</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The missionaries renew their vows in conformity with the brief <em>&#8220;Ex commissa nobis&#8221;. </em>Plague   in Rome.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Further condemnation of Jansenism.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">The first <em>&#8220;Provinciales&#8221; </em>by Pascal.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1657</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent at the death of Olier and the election of his successor.   Plague in Genoa. Death of the missionaries. Royal approval for the Daughters   of Charity. Project for a foundation in Toledo. St. Vincent refuses the work   of directing the General Hospital.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Foundation of the General Hospital in Paris.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Death of J.J. Olier.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1658</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Mission at Metz. St. Vincent distributes the Rules to the Missionaries   and begins his explanation of them. Foundation of the house at Meaux. Loss of   the farm at Orsigny. Daughters of Charity in the hospital of Calais. Brother   Barreau is in prison in Algeria.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Battle of the Dunes. Death of Cromwell.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid double;border-width:medium 1pt 1pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1659</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent is ill and unable to leave Saint Lazare. He takes his   leave of de Gondi. Proposes Alméras as his successor. Foundation of the   houses of Montpellier and Narbonne. Brief <em>&#8220;Alias   Nos&#8221; </em>on the vow of poverty in the C.M.</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Peace of the Pyrenees between Spain and France.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Condemnation of <em>&#8220;L&#8217;Apologie   des casuistes&#8221;. </em>Death of Alain de Solminihac.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none double solid none;border-width:medium 1.5pt 1pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:33.95pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid double double;border-width:medium 1pt 1.5pt 1.5pt;padding:0 6pt;" width="45" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">1660</span></p>
</td>
<td style="width:136.45pt;border-style:none solid double none;border-width:medium 1pt 1.5pt medium;padding:0 6pt;" width="182" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">St. Vincent confined to his room. Death of P. Portail, Louise de   Marillac and the abbot of Chandenier. Project for a foundation in Plasencia   (Spain). Death of Mr. Vincent (27th Sept.).</span></p>
</td>
<td style="width:90.85pt;border-style:none solid double none;border-width:medium 1pt 1.5pt medium;padding:0 6pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Marriage of Louis XIV to Mª Teresa of Austria. They both enter Paris.   Peace of Oliva, between Sweden and Poland.</span></p>
</td>
<td style="width:83.05pt;border-style:none solid double none;border-width:medium 1pt 1.5pt medium;padding:0 6pt;" width="111" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=11&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/04/chronological-table-of-events-from-biography-of-st-vincent-de-paul-of-jose-maria-roman-cm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vinsensius.files.wordpress.com/2008/04/oase3.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">oase3.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oase Vinsensiana</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/9/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 13:42:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/9/</guid>
		<description><![CDATA[OaseVinsensiana adalah hamparan kesejukan spiritualitas Santo Vinsensius. Oase Vinsensiana adalah tempat teduh di tengah padang terik kehidupan sehari-hari yang melelahkan. Oase Vinsensiana adalah perhentian sejenak dari kepenatan peziarahan batin dalam mengabdi Tuhan dan orang miskin.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=9&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><img src="http://vinsensius.files.wordpress.com/2008/04/oase1.thumbnail.jpg?w=590" alt="oase1.jpg" align="left" /></p>
<div>
<blockquote>
<blockquote>
<blockquote>
<blockquote>
<p align="left"><em> OaseVinsensiana</em> adalah hamparan kesejukan spiritualitas Santo Vinsensius.</p>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
</div>
<blockquote>
<blockquote>
<blockquote>
<blockquote>
<p align="left"><em> Oase Vinsensiana</em> adalah tempat teduh di tengah padang terik kehidupan sehari-hari yang melelahkan.</p>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
<blockquote><p><em>Oase Vinsensiana</em> adalah perhentian sejenak dari kepenatan peziarahan batin dalam mengabdi Tuhan dan orang miskin.</p></blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=9&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vinsensius.files.wordpress.com/2008/04/oase1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">oase1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello Vinsensian!</title>
		<link>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/hello-world/</link>
		<comments>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 09:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>seminaricm</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase vinsensiana]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Salam vinsensian. Semoga hari ini menjadi hari baru yang penuh semangat.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=1&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam vinsensian. Semoga hari ini menjadi hari baru yang penuh semangat.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vinsensius.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vinsensius.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vinsensius.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vinsensius.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vinsensius.wordpress.com&amp;blog=3364398&amp;post=1&amp;subd=vinsensius&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vinsensius.wordpress.com/2008/04/03/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7c3dd46fff1ace51cc8dabd78ad9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">seminaricm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
