air sejuk spiritualitas santo vinsensius

DARI “MISI” KE “KONGREGASI MISI”

Oleh: Luigi Mezzadri, CM§

Sejak tahun 1662, Vinsensius diakui sebagai pembimbing rohani yang baik. Fransiskus de Sales mengangkatnya menjadi pemimpin biara Visitasi di Paris, salah satu pusat penting dalam pembaruan agama Katolik di Perancis.

Tahun 1623, Vinsensius memperoleh gelar lisensiat untuk Hukum Kanonik. Untuk memperoleh gelar-gelar seperti ini tidak perlu mengikuti kulah-kuliah dan menempuh ujian. Sering kali cukup jika orang membuat suatu karangan yang mengembangkan suatu pokok berhubungan dengan bahan yang ditentukan. Gelar merupakan suatu pengakuan bahwa orang yang bersangkutan mempunyai keahlian, kompetensi dalam bidangnya.

Sekarang Vinsensius masih memiliki kekurangan dalam dua hal yaitu: Teman-teman dan apa yang perlu untuk menarik mereka. Ia mengakui hal ini dalam sepucuk surat kepada Bernard Codaing di Roma:

Roh Allah selalu berjalan dengan lembut dan rendah hati. Apakah Anda masih ingat bahwa Anda dan saya dipengaruhi oleh macam-macam dorongan kuat dari nafsu alamiah kita. Pernah saya berkata kepada Anda bahwa ketika saya baru mulai memikirkan rencana mendirikan Kongregasi Misi, hatiku terus-menerus sibuk dengan pikiran itu. Karenanya saya curiga kalau-kalau rencana itu berasal dari nafsu atau dari roh jahat”.[1]

Kemudian ia mengadakan suatu retret di Soissons (1621); dan retret ini membantu dia untuk mengubah suasana hatinya dan untuk lebih mengontrol dirinya.

Ide tantang misi di daerah pedesaan tetap ada dalam pikirannya. Mission populaire (misi umat/rakyat) adalah salah satu metode khas dari reformasi Katolik untuk penjiwaan kembali dan pembaruan keagamaan. Misi-misi ini dikembangkan dalam bentuk kotbah dari satu tempat ke tempat lain, terutama dalam Serikat Yesus dan Ordo Kapusin. Tahun 1578, St. Karolus Boromeus mendirikan Serikat Oblat dari St. Ambrosius dengan tujuan untuk menyebarluaskan instruksi katekis dengan berpindah dari paroki ke paroki. Kongregasi pengajaran Kristiani atau Doctrinaires, dari Cesar de Bus, juga mempunyai tujuan untuk mengajar katekismus secara sistematis dalam bentuk dialog. “Mereka bukannya berkotbah, melainkan berdiskusi dengan orang-orang bidaah”, demikian bunyi kecaman terhadap mereka.

Pada awal Abad Keemasan, Perancis dapat dianggap sebagai suatu pays de mission, tanah misi. Hal ini lebih mengesankan lagi kalau kita memikirkan kontras yang ada antara keadaan ini dengan rencana reformasi Katolik untuk menciptakan kembali suatu suasana penuh semangat supaya iman dapat meresapi segalanya.

Reformasi itu memakai tiga senjata: Kekuasaan, ketakutan, dan pastoral. Di Perancis, Edikt dari Nantes telah melemahkan kekuasaan itu, sekurang-kurangnya sampai edikt itu masih berlaku. Orang sering kali mempergunakan ketakutan dalam kotbah-kotbah dengan menggambarkan hukuman-hukuman, dan bukan menegaskan cinta kasih. Pastoral dilaksanakan melalui sinode-sinode, seminar-seminar, kunjungan pastoral dan misi-misi.

Pada saat Vinsensius mulai, dia tidak perlu menemukan sesuatu yang baru. Cukup untuk merangsang energi-energi yang sudah ada dan mengerjakannya. Di Perancis para Yesuit melewati suatu masa sulit dan telah memilih karya dalam bentuk kolese-kolese. Namun mereka telah mendirikan pusat-pusat, dari mana aksi penginjilan dapat dikembangkan seperti di Poitou (1570), di Bérñ (1606). Dalam karya misi di daerah Chablais (1594), Fransiskus de Sales telah dibantu oleh para imam Kapusin. Mereka lebih dahulu sudah melakukkan misi di daerah Poitou (1618) dan di Angoumois Aunis-Saintonge (1602-1621). Tahun 1624 mereka mengadakan suatu misi di kapal-kapal yang digerakan pendayung (galères). Pada permulaan abad ke-17 juga masih ada para Barnabit yang mengadakan misi di Bearn (1608) dan para Recollet di Saintonge (1610).

Sejak beberapa waktu, Madame de Gondi merencanakan memasukan dalam surat wasiatnya suatu ketentuan mengenai misi yang harus dilakukan setiap lima tahun di tanah miliknya. Tetapi, baik para Yesuit maupun Berulle dan Bourdoise menolak melakukannya. Nyonya de Gondi kemudian menawarkanya kepada Vinsensius yang sudah biasa melakukan misi, dengan bantuan beberapa imam secara insidental.

Tetapi apakah hal ini menjadi kehendak Allah? Apakah dia mampu melaksanakan karya ini? Vinsensius ketakutan. Ia takut akan wanita, yang menurut pandangan Ambroise Paré, baru mendapat jiwa dari Allah pada hari kelima puluh. Dalam suasana hati yang demikian, dia mengadakan suatu retret di Biara Valprofonde (Chartreuse de Valprofonde) di daerah Yonne. Ia bertemnu dengan seorang rahib yang, dalam kesendiriannya, telah memperoleh kebijaksanaan dan realisme mendalam. Rahib ini memberi suatu contoh: Waktu mempermandikan wanita dengan cara immersio (pemasukan dalam air, seperti dulu menjadi biasa) maka seorang uskup Gereja kuno mengalami godaan. Ia memohon kepada Allah untuk membebaskan dirinya dari godaan itu. Karena dia merasa tidak didengarkan Allah, dia mengundurkan diri ke padang gurun. Di sana Allah memperlihatkan kepadanya tiga mahkota yang nilainya tidak sama dan berkata kepada dia bahwa dia berhak atas yang paling tidak bernilai, sebab ia kurang percaya akan Allah. Perumpamaan ini menurut pengakuan Vinsensius “menghilangkan godaan serupa[2] yang dialaminya saat akan melaksanakan karya ini. Dan untuk menyemangati salah seorang rekannya, Vinsensius mengatakan bahwa orang pada permulaan merasa sangat takut bila menghadapi pelayanan pastoral. Ia tetap merasakan pertentangan batiniah. Karangan-karangan mengenai riwayat orang kudus mengembangkan pandangan bahwa Tuhan memberi ilham langsung bila menghendaki pendirian suatu komunitas baru. Ada cerita bahwa St. Pacomius, tokoh yang mengorganisasikan hidup komunitas para rahib di Mesir, pernah mendengar suatu suara, sedangkan Jean de Matha, pendiri Ordo Trinitaires, mendapat penglihatan tentang dua budak yang terantai. Kepada St. Petrus Nolascus, St. Perawan Maria menampakan diri untuk memerintahkannya mendirikan Ordo Mercedari. Dan, suatu perarakan yang terdiri dari rahib-rahib berpakaian putih, malaikat-malaikat dan perawan muda menentukan didirikannya Ordo Premonstratens dan Ordo Ursulin.

Pada Vinsensius tidak terjadi hal serupa; tidak ada penglihatan, tidak ada ajakan dalam hati; hanya ada suatu himbauan, perlu memberi pembinaan rohani, memenuhi kebutuhan rohani di paroki-paroki dari daerah pedesaan, serta memenuhi kelaparan akan Sabda Allah. Ia mencari nasihat dari Duval. Ahli teologi yang bijaksana ini – menurut suatu teks yang diterbitkan oleh José María Ibáñes – mengutip satu teks dari Vulgata (terjemahan Kitab Suci dalam bahasa Latin): “Seorang abdi yang mengetahui kehendak tuannya dan tidak bertindak sesuai dengan kehendak itu, akan menerima banyak pukulan” (Luk 12:47). Jadi, suatu situasi sudah merupakan suatu panggilan dan tidak perlu dikonfirmasikan lagi. Berdasarkan ini, Vinsensius yakin bahwa lembaga-lembaga yang didirikannya berasal dari Allah meskipun ia tidak mendapat ilham langsung dari Allah. Karena itu dia sering mengatakan: “Siapa yang berani berkata bahwa karya misi kita bersumber pada manusia saja”?[3] Langkah pertama adalah pengangkatannya sebagai superior kolese Bons-Enfants, suatu gedung asrama yang sudah bobrok untuk palajar-pelajar. Kemudian melalui akte notaris, keluarga de Gondi dan Vinsensius menandatangani suatu kontrak. Philippe Emmanuel de Gondi dan isterinya mengikat diri untuk memberikan kepada Vinsensius uang sebesar empat puluh lima ribu lire, yang bunganya harus mencukupi biaya hidup enam imam yang mengikat diri untuk mengadakan misi di daerah milik keluarga de Gondi. Tetapi ketentuan seperti ini bertentangan dengan hakikat kelompok imam CM yang sedang dibentuk, sebab mereka dimaksudkan untuk hidup bersama, dalam komunitas, dengan seorang pemimpin yang terpilih, dengan memberi misi secara gratis, hanya di pedalaman atau di kota yang tidak memiliki uskup. Lama-kelamaan, kehadiran superior komunitas akan dapat mempunyai akibat negatif. Tetapi Marguerite de Gondi segera dipanggil Tuhan. Seakan-akan “Sang Pendiri” mengundurkan diri dengan lembut saat Kongregasi Misi memulai karya-karyanya dengan gencar. Karena Philippe Emmanuel memberi kebebasan secara penuh kepada Vinsensius, Vinsensius mulai menduduki kolese des Bons-Enfants itu pada akhir musim gugur 1625. Ia berada bersama dengan Antoine Portail, murid setia sejak di Clichy, dan seorang imam lain yang menerima lima puluh ecus setiap tahun, yaitu separuh dari honororium seorang pastor paroki.

Aktivitas-aktivitas misi awali dilakukan dengan banyak improvisasi. “Kami pergi bertiga dan bermisi dari desa ke desa. Waktu berangkat kami meninggalkan kunci rumah pada seorang tetangga, atau kami meminta mereka menginap di rumah kami pada waktu malam”.[4] Isi kotbah waktu itu masih sangat sederhana, hanya satu kotbah tentang hormat akan Allah, dan kotbah ini diulang-ulang, diperpanjang dan dibawakan dengan berbagai cara.

Meskipun usaha ini sangat berani, namun inisiatif Vinsensius tidak memberi jaminan cukup, sebab terlalu terbatas pada tempat tertentu. Kontrak pendirian itu mengikatnya pada daerah milik de Gondi. Hidup bersama menelanjangi kepribadian masing-masing anggota tanpa ampun. Hidup di perjalanan pun masih sangat melelahkan. Jalan-jalan sangat buruk. Biasanya jalan-jalan hanya dipelihara hanya sampai dua atau tiga mil dari kota. Selebihnya merupakan jalan tanah yang diperkeras, tanpa selokan-selokan, tanpa jembatan. Dalam musim gugur jalan-jalan tidak dapat dilalui. Bahkan, kuda pun hampir tidak dapat maju di jalan-jalan seperti itu. Losmen-losmen kurang menarik. Pada permulaan abad ke-17 losmen-losmen tidak dianggap berbahaya. Tetapi, losmen-losmen itu tidak memberi banyak hal yang menyenangkan. Paling sering hanya ada satu ruang dengan pemanasan pada musim dingin. Dalam ruang ini orang dapat memesan anggur dan bir. Jika hendak makan, orang dapat pesan sedikit roti dan dadar. Waktu malam ruang ini diubah menjadi kamar tidur. Tempat tidur dipasang lalu orang dapat berbaring, atau langsung berbaring di atas jerami dekat perapian. Orang dapat juga tidur di tempat penyimpanan jerami milik rumah-rumah petani yang berdekatan.

Tetapi itu hanya persiapan untuk pekerjaan yang sesungguhya, yaitu kegiatan pastoral selama misi berlangsung. Pekerjaan yang paling berat bukanlah berkotbah melainkan melayani pengakuan dosa. Namun pengakuan dosa merupakan pokok utama dari misi, karena misi harus dimahkotai dengan pengakuan semua dosa yang telah dilakukan selama hidup sampai saat ini. Dalam laporan-laporan tentang misi kita dapat membaca bagaimana umat antre mengaku dosa sampai malam.

Meskipun ada banyak hal yang memberatkan, cara hidup Vinsensius ini menarik. Dalam waktu singkat ia menemukan teman-teman. Ada imam-imam yang berjalan dari propinsi ke propinsi untuk memberi benefisi. Vinsensius pernah menjadi seorang imam yang demikian. Orang menyebut cara hidup ini “vicarier”. Para imam CM pertama sama-sekali bukanlah pencari benefisi yang frustrasi: Portail pernah belajar di Sorbonne; François du Coudray mengetahui cukup baik bahasa Ibrani untuk menerjemahkan Kitab Suci dari teks asli ke bahasa Perancis; Jean de la Salle, “seorang imam CM agung” dianggap oleh uskup dari Beauvais sebagai seorang yang sangat pandai. Demikianlah orang-orang pertama bergabung dengan Vinsensius untuk memperkuat serikat imam CM tersebut pada tanggal 4 September 1626.[5]

Tahun-tahun berikut pertumbuhannya perlahan dan pekerjaannya semakin banyak. Sampai tahun 1631 para imam CM hanya berjumlah tujuh orang saja tetapi mereka mengadakan tidak kurang dari seratus empat puluh misi. Dalam tahun inilah jumlah mereka berlipat ganda. Para imam CM baru adalah orang-orang bermotivasi tinggi. Asal sosial dari para anggota serikat mencerminkan asal sosial imam dalam tahun-tahun 1600-an. Mereka bukan orang miskin, melainkan berasal dari golongan menengah atas.

Di Paris, kelompok imam CM ini mempunyai nama baik. Tahun 1628, dua tahun setelah kontrak pendirian disetujui, Uskup Agung Gondi memberi ijin untuk bergerak dengan leluasa dalam keuskupannya. Persetujuan ini tidak seperti semacam persetujuan percobaan yang sekarang diberikan uskup kepada komunitas yang sedang mencari bentuk: Pada jaman dulu, hal seperti itu tidak mungkin. Parlemen juga merestui dokumen raja yang mengakui kongregsi baru itu sebagi badan hukum. Namun dapat timbul kekawatiran, jangan-jangan romo-romo CM ini akan bertingkah laku seperti para religius pada jaman itu yang – karena previlese mereka – mereka menuntut kebebasan untuk berkotbah di mana-mana, dengan bahaya menyaingi kegiatan paroki. Yang jelas dengan demikian para religius itu dapat menghimpun banyak dana. Para teolog dari aliran Gallikan tidak rela membiarkan satu ordo baru berdiri, karena setiap ordo dengan hak-hak istimewahnya akan semakin melemahkan kekuasaan para uskup, sementara kekuasaan Takhta Suci di Roma akan semakin leluasa.

Vinsensius menghadap Takhta Suci di Roma. Tahun 1622, Paus Urbanus VIII baru saja mendirikan suatu kongregsi baru, yaitu Propaganda Fide, yang mempunyai kuasa sangat luas, baik di daerah-daerah yang belum mengenal Injil maupun di daerah-daerah yang banyak dipengaruhi bidaah. Tahun 1625, kongregasi ini telah memulai suatu kerja sama yang baik dengan para imam Kapusin yang melakukan misi di daerah Cevennes dan Dauphine. Vinsensius dinasihati untuk menghadap Roma. Mungkin nasihat ini berasal dari Saint-Cyran yang pasti membantunya menulis surat-surat rekomendasi kepada beberapa kardinal, dan menterjemahkan peraturan-peraturan Kongregasi Misi dalam bahasa Latin serta menawarkan diri mengutus seorang keponakannya, yaitu Bernard d’Arguibel, agar mengadakan perundingan langsung dengan Takhta Suci.

Tahun 1627 Vinsensius menghadap Kongregasi Propaganda Fide untuk pertama kalinya; ia meminta dua hal, yaitu berkat, artinya semacam persetujuan yang masih bersifat umum, dan beberapa fasilitas yaitu fasilitas yang dulu diberikan kepada Kapusin untuk karya-karya misi mereka. Setelah diadakan penyelidikan oleh Nuntius, permohonan tersebut diterima.

Tahun berikutnya Vinsensius kembali mengajukan permohonan. Sekarang permohonannya lebih besar dan mencakup pengakuan hak-hak untuk dirinya sendiri, seperti yang diberikan kepada pendiri serikat, dan juga hak untuk tidak terikat kepada uskup, kecuali dalam hal-hal yang menyangkut karya misi. Akan tetapi kedua pemohonan tersebut ditolak. Apa yang dikehendaki pemimpin Bon-Enfants bertentangan dengan peraturan-peraturan fungsional, yang ditentukan oleh pihak Roma. Di daerah-daerah misi Propaganda Fide mangalami perlawanan dari ordo-ordo religius yang sudah brakar kuat di daerah-daerah itu dan tidak rela mengakui kuasa Kongregasi Propaganda Fide. Jika permohonan Vinsensius dikabulkan, itu berarti suatu ordo baru lahir, artinya satu musuh baru. Dalam hal ini Propaganda Fide mengerti dengan benar arah Vinsensius. Seandainya karya misi yang baru itu tidak berbeda dengan satu kelompok kerja saja yang terdiri atas imam-imam diosesan, penerimaan permohonan Vinsensius berarti suatu kontradiksi internal. Propaganda Fide sama-sekali tidak bermaksud mengurangi kuasa yurisdiksi para uskup. Lagi pula, strategi misioner menuntut supaya para imam diosesan berada di bawah uskup-uskup itu. Permohonan pertama Vinsensius diterima dengan baik, sejauh dapat dimengerti bahwa sekelompok imam diosesan hendak menerima kekuasaan Propaganda Fide. Akan tetapi, kedua permohonan yang diajukan kemudian hari mempunyai maksud yang lain sama-sekali.

Sebagai orang yang jeli melihat kesempatan yang baik, Vinsensius berjalan seputar rintangan tersebut. Timbullah pandangan bahwa Vinsensius bergerak untuk mendirikan ordo religius. Konsekuen dengan pandangan itu, Vinsensius tidak menghadap lagi Propaganda Fide, melainkan kongregasi untuk para uskup dan para religius. Ia mengutus ke Roma seorang imam CM cakap; pesannya:

Romo harus membuat mereka mengerti bahwa orang-orang miskin mengalami kebinasaan abadi karena mereka tidak mengetahui hal-hal yang perlu untuk memperoleh keselamatan dan tidak mengetahui bagaimana cara mengaku dosa. Bahwa seandainya Paus mengetahui kegentingan situasi, dia tidak akan dapat beristirahat sebelum melakukan segala apa yang mungkin untuk menyelesaikan masalah tersebut”. [6]

Komunitas bagi Vinsensius, bukanlah suatu jalan pintas atau suatu pelarian. Ia menghendaki kebebasan bertindak untuk kelompok kerasulannya karena ia melihat kesengsaraan orang-orang terbuang dalam masyarakat. Kita dapat masuk ke dalam suasana hatinya melalui sebuah percakapan dengan para romo CM:

Saya ingat (apakah perlu saya berkata demikian?) bahwa dahulu, ketika saya kembali dari bermisi dan menuju ke Paris, pintu gerbang kota rasanya mau jatuh atas diri saya dan menghimpit diri saya; dan jarang sekali saya kembali dari bermisi tanpa berpikir demikian. Sebabnya ialah karena hati saya berkata, ‘kau pergi ke Paris, sedangkan desa-desa lain mengharapkan hal serupa darimu, yaitu hal-hal yang baru kau lakukan di desa ini dan desa itu! Seandainya kau tidak datang di desa-desa itu, mungkin sekali orang-orang ini – seandainya meninggal dunia dalam keadaan seperti kau temukan mereka ketika kau datang – mati terkutuk dan masuk neraka.’ Ia mengakhiri percakapannya demikian, ‘kalau mereka meninggal dalam keadaan dosa berat, kaulah salah satu penyebab kebinasaan mereka; dan kau harus takut akan Allah yang akan menuntut tanggung jawabmu’”.[7]

Ketika Vinsensius masih berunding dengan Takhta Suci untuk memperoleh persetujuan bagi kongregasinya, ternyata rencana semula sudah tidak sesuai dengan perkembangan. Tahun 1628, dalam percakapan dengan Augustin Poiter, Uskup Beauvais, telah disepakati satu gagasan untuk meningkatkan pembinaan para imam. Uskup ini mengajukan satu cara sederhana untuk memperbaiki mutu para imamnya, yaitu mengadakan latihan-latihan rohani bagi semua calon tahbisan di keuskupannya. Di samping pengalaman doa, mereka dapat memperoleh pengarahan mengenai kewajiban-kewajiban status mereka dan tugas-tugas pelayanan mereka. Vinsensius menjadi pelaksana proyek ini. Ia menentukan suatu program dan mencari imam-imam yang dapat bersama dengannya memulai karya pembinaan dan pendidikan para calon tahbisan.

Tanpa disadari, ia menawarkan kepada Gereja Perancis suatu saran praktis dan efektif untuk meningkatkan mutu para imam. Bahwa para imam itu membutuhkan pembaruan kembali, sudah jelas sekali dan semua sumber informasi pada jaman itu sepakat dalam hal tersebut. Tetapi perlu kita hindari kecenderungan membesar-besarkan keburukan para imam awal abad ke-17, supaya kebaikan para imam berikutnya lebih nampak.

Sebelum masa ini pun, sudah mungkinlah menemukan imam-imam yang layak untuk tugas mereka. Memang di antara para imam terdapat bermacam-macam kekurangan yang dapat dikelompokan ke dalam dua golongan, kekurangan dalam tingkah laku moral dan disiplin; dan kekurangan yang berkaitan dengan kekurangpersiapan untuk menerima sakramen imamat. Konsili Trente sudah berusaha memperbaiki kedua kekurangan tersebut. Berkat dekrit-dekrit disiplin yang mewajibkan para uskup mengadakan kunjungan pastoral dan mempersiapkan norma-norma yang tepat untuk para imam, maka menjadi mungkinlah untuk membatasi dan mengatasi kekurangan-kekurangan pertama (anggur, wanita, perdagangan, perburuan). Kekurangan-kekurangan kedua dapat dikoreksi dengan mendirikan seminari-seminari.

Di Perancis seminari-seminari menengah sudah dirintis segera setelah Konsili. Waktu Konsili masih berjalan, Kardinal de Lorraine sudah mengumumkan bahwa pembinaan kembali harus dimulai di rumah Allah sendiri. Antara tahun 1567 dan 1600, empat belas seminari sudah didirikan. Antara permulaan abad ke-17 dan tahun1620 jumlah itu sudah bertambah dengan empat seminari lagi. Tetapi pada umumnya usaha ini gagal. Kebanyakan seminari ditutup sesudah berdiri beberapa tahun. Pada tahun 1644 masih ada seminari di Reims, Bordeaux dan Rouen, tetapi hasilnya masih sangat sedikit.

Pertemuan di Beauvais membuahkan hasil yang tidak terduga; secara berangsur-angsur retret untuk para calon tahbisan makin meluas. Dengan demikian lahirlah seminari Vinsensian, bukan sebagai perkembangan dari gaya kolese, melainkan dengan sifat khasnya, ialah pembinaan pastoral praktis. Pilihan ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi kebutuhan sementara saja. Ternyata surat keputusan Paus yang menyetujui Kongregasi Misi berdiri[8] mengakui bahwa lembaga baru ini mempunyai tiga tujuan, yaitu: Pertama, membantu untuk memperoleh keselamatan untuk para anggotanya dan bagi para penduduk desa; kedua, menghormati misteri Tritunggal dan Inkarnasi Yesus Kristus serta menghayati devosi khusus terhadap Santa Perawan Maria; ketiga, membina para calon tahbisan. Ketiga tujuan tersebut merupakan tiga gelang dari satu mata rantai yang sama. Yang satu mengandaikan dua yang lain. Inilah tugas panggilan yang diakui Gereja sebagai kharisma Vinsensian, yang menghubungkan secara erat komunitas ini dengan para “imam sekular”. Dalam kenyataanya, jika terpisah dari yang lain, kegiatan misi umat dapat berakibat bahwa para anggota kongregasi dapat disamakan dengan para religius lain yang melakukan misi untuk umat. Pengakuan terhadap panggilan mereka sebagai pembina para calon tahbisan menuntut dari mereka suatu kepekaan khusus terhadap masalah imam sekular dan satu sikap yang mendorong para imam CM untuk berdiri sepihak dengan mereka.

Semuanya ini dihayati dengan maksud “menghormati” misteri Tritunggal dan Inkarnasi. Menghormati artinya, berperan serta dan – menurut Vinsensius – membiarkan diri dibawa kepada lingkungan kebenaran tertentu yang merupakan kebenaran fundamental bagi penyelamatan. Jadi, komunitas diakui sebagai tempat perwujudan kepenuhan hidup dan persekutuan Tritunggal, serta sebagai perpanjangan misteri Putra Allah yang menjelma menjadi manusia.

Gagasan yang dikembangkan di Beauvais itu menarik perhatian juga Uskup Paris, Jean François de Gondi. Semua calon tahbisan dari keuskupannya diwajibkan untuk menempuh ujian tentang kelayakan mereka dan untuk menerima pelajaran dan pembinaan. Dan, ini semua diadakan tanpa biaya sedikit pun dari pihak calon tahbisan. Pendidikan gratis ini merupakan hal penting. Sebelumnya, pengeluaran yang diperlukan untuk tahbisan dibebankan kepada para calon tahbisan dan keluarganya. Hal ini mengandung resiko peningkatan jumlah “vicariants”, yang memburu keuntungan dengan merugikan dan mengabaikan reksa pastoral. Retret bagi para calon tahbisan, pertama-tama dan kemudian seminari merupakan suatu saringan dari pihak gereja untuk mencegah orang-orang yang tidak layak maju sampai imamat dan untuk mempersiapkan orang-orang yang sangggup di bina. Sudah tepat bila tuntutan-tuntutan baru itu tidak diwajibkan dengan beban keuangan.

Dengan demikian munculah masalah keuangan; masalah ini menyebabkan kegagalan seminari-seminari pertama di Perancis. Untuk memecahkan masalah ini ada suatu sarana yang sudah terbukti ampuh, yaitu menggabungkan suatu benefisi (tanah garapan yang penghasilannya dimanfaatkan untuk mendukung karya Gereja) pada karya itu; hasil dari benefisi itu harus cukup untuk membiayai para peserta retret. Vinsensius tidak perlu terlalu repot untuk mencari sarana yang demikian, karena Penyelenggaraan Ilahi sendirilah yang membuka jalan baginya.

Para kanonik regular dari Saint-Victor mempunyai sebuah biara di Paris, di luar pintu gerbang Saint-Denis. Nama biara itu sendiri, Saint-Lazare, menunjukan tujuan semula dari gedung itu, di mana dalam abad pertengahan gedung itu menjadi satu rumah untuk para penderita kusta. Sesudah beraneka ragam peristiwa, gedung ini diberikan kepada para kanonik regular, yang pada permulaan abad ke-17 mengalami kesulitan kelembagaan dan kedisiplinan. Tahun 1622, Kardinal François de Rochefoucould, dibantu oleh Charles Faure, mendapat tugas memperbaiki para kanonik Santo Agustinus. Usaha yang penuh semangat dari pihak Kardinal mendapat perlawanan besar dari para kanonik Saint-Victor. Tahun 1625 mereka membubarkan diri dengan masuk ke dalam Kongregasi Perancis.

Seperti pada semua komunitas yang mengalami suatu krisis, setiap orang berjalan sendiri-sendiri. Doa dan koor tidak dilakukan dengan penuh semangat; dan hidup komunitas tidak lagi hangat. Priornya, yaitu Adrien Le Bon, berusaha memperbaiki situasi buruk ini. Tetapi, dia tidak berbuat sesuatu pun dengan para kanoniknya. Lalu ia mendapat pikiran untuk menyerahkan biaranya kepada Vinsensius. Harta bendanya yang dulu dipakai untuk menyembuhkan para penderita kusta secara jasmani sekarang dapat dibaktikan untuk penyakit kusta rohani.

Ternyata, Le Bon mendapat dua rintangan serius. Yang pertama berasal dari Vinsensius sendiri. Kata Vinsensius ketika gedung itu ditawarkan kepadanya, “kami baru saja lahir dan kami hanya beberapa orang saja. Kami tidak suka menimbulkan heboh. Saya mohon supaya Anda memikirkan orang lain dan bukan kami.”[9] Yang kedua adalah kesulitan yuridis. Sebelum kontrak dapat disusun, ternyata diperlukan perundingan pelik. Para kanonik mencoba melawan. Tetapi, mereka tidak memperhitungkan bahwa biara tersebut telah mereka terima dari Uskup Paris supaya digunakan. Uskup itu pula yang berhak untuk menentukan penggunaan biara itu untuk tujuan lain. Dan akhirnya, tujuan lain yang dipilih oleh Uskup Paris adalah pembinaan calon tahbisan secara gratis. Seusai Konsili Trente, pelaksanaan pembaruan pembinaan imam mengalami rintangan serupa. Gereja mengalami kesulitan besar ketika mencoba menggunakan penghasilan dan harta bendanya untuk tujuan baru, sesuai dengan perkembangan situasi. Tetapi saat ini, Yohanes Fransiskus de Gondi tidak membiarkan dirinya dicekam ketakutan; ia maju dengan berani.

Sikap Vinsensius patut dicatat. Ia mulai dengan menolak. Kemudian, ketika penasihat-penasihatnya membuat dia menghargai alasan-alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut di atas sebagai pengungkapan kehendak Allah (Andre Duval memainkan peranan penting dalam proses ini), ia rela melibatkan diri dan maju dengan langkah pasti. Ia bahkan tidak mau menerima beberapa ketentuan yang dianjurkan Le Bon untuk dimasukan dalam kontrak serah terima. Ia menolak membuat para romo CM menjadi kanonik.

Calvet mendefinisikan Vinsensius sebagai un homme aux aguets, yaitu orang yang terus-menerus mengintai mangsanya. Dia selalu siap melompat, begitu menjadi jelas bahwa sesuatu adalah kehendak Allah. Alasan-alasan ilahi sudah sedemikian mendarah daging dalam dirinya, sehingga dia berindak seakan-akan dibimbing secara telepatis.

Tahun 1633, seorang pejabat Gerejani mengusulkan kepadanya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan bagi para imam. Setelah beberapa saat memikirkan hal itu, Konferensi-konferensi Hari Selasa (Conference du Mardi) dimulai. Konferensi ini merupakan pertemuan imam-imam yang memberi kesempatan kepada setiap anggota untuk menyumbangkan pikirannya. Tidak ada ceramah. Tidak ada kesempatan untuk memamerkan kepandaian berpidato. Kebenaran ditemukan kembali dan mendapat cahayanya dari bawah. Senjata baru pembinaan imam adalah dialog, bukan ketakutan. Beberapa peserta kemudian hari menjadi uskup: Nicolas Pavillon, Fouquet, Vialart dan akhirnya Bossuet. Olier sendiri juga ikut dalam pertemuan pertama. Dari luar tampak bahwa pertemuna semacam itu hanya diperuntukan bagi orang-orang terpilih namun dalam kenyataannya usaha ini memberikan sumbangan besar dalam menjiwai para imam, selain memberikan kembali alasan-alasan untuk percaya kembali pada panggilan dan untuk merasa diri berguna. Dengan demikian Konferensi Hari Selasa merupakan jawaban jitu kepada aliran Protestan yang menolak imamat sebagai jabatan.


§Diterjemahkan dari Luigi Mezzadri, San Vincenzo de Paul, Edizioni Paoline, Milano, 1986, secara khusus bab ke-3: “Dalla Missione Alla Congregazione Della Missione”, p. 45-7, oleh Rm. E.V.Bieler, CM.

[1]SV, II, 246-47.

[2]SV, II, 107.

[3]SV, XII, 7.

[4]SV, XIII, 8.

[5]SV, XIII, 203-05.

[6]SV, I, 115.

[7]SV, XI, 445.

[8]Bulla Salvatoris Nostri, 12 Januari 1633.

[9]Abelly, 3, 17, 272.

One Response

  1. One

    Blog ini berguna banget. Visitor juga lumayan. Sebaiknya lebih rajin di update, karena spiritualitas vinsensian kaya banget. Mungkin ngobrol2 juga dengan misionaris awam atau relawan2 kita, lalu dimasukkan ke sini sbg penerapan spiritualitas dalam hidup sehari-hari

    October 2, 2008 at 9:40 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.